Anak Krakatau Erupsi Lagi, Abu Vulkanik Mengarah ke Barat Laut

Rabu, 9 September 2026 - 08:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gunung Anak Krakatau erupsi dan sebaran abu vulkanik bergerak ke arah barat laut.
(Posnews/Ist)

Gunung Anak Krakatau erupsi dan sebaran abu vulkanik bergerak ke arah barat laut. (Posnews/Ist)

BANTEN, POSNEWS.CO.ID – Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada Rabu (9/9/2026) dini hari.

Bersamaan dengan itu, sebaran abu vulkanik mulai bergerak ke arah barat laut dan mengancam mengganggu kualitas udara serta jarak pandang di wilayah yang dilaluinya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, berdasarkan analisis citra satelit RGB Himawari-9 pada pukul 07.00 WIB, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau bergerak ke arah barat laut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebaran abu terdeteksi mulai dari permukaan hingga ketinggian sekitar 7.000 kaki atau 2,1 kilometer. Area yang terdampak mencakup sebagian wilayah Teluk Lampung.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai. Sebab, abu vulkanik yang terbawa angin dapat menurunkan jarak pandang dan mengganggu kualitas udara, terutama bagi masyarakat yang berada tepat di jalur sebarannya.

Anak Krakatau Erupsi Lagi Dini Hari

Aktivitas vulkanik kembali terjadi pada pukul 00.47 WIB. Berdasarkan catatan MAGMA Indonesia, erupsi tersebut tidak teramati secara visual.

Meski demikian, aktivitas letusan terekam jelas oleh seismograf. Alat pemantau mencatat amplitudo maksimum 51 milimeter dengan durasi erupsi sekitar 28 detik.

Dengan demikian, meski tidak terlihat dari pengamatan visual, aktivitas tersebut tetap menunjukkan bahwa Anak Krakatau masih aktif dan membutuhkan pemantauan ketat.

BMKG sendiri sejak awal peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau telah mengintensifkan pemantauan selama 24 jam.

Baca Juga :  Tawuran di Tangerang, Satu Korban Tangan Putus

Pemantauan mencakup dampak erupsi terhadap atmosfer, penerbangan, dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Abu Vulkanik Bisa Ganggu Pernapasan dan Pandangan

Sebaran abu vulkanik bukan sekadar pemandangan langit yang berubah. Partikel halus tersebut dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan, terutama ketika konsentrasinya meningkat.

Karena itu, warga yang berada di jalur abu sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti N95 atau KN95, juga dapat membantu mengurangi paparan.

Masyarakat sebaiknya tidak menganggap remeh kondisi ketika udara mulai berkabut atau jarak pandang mendadak menurun.

Pengendara harus memperlambat kendaraan dan menjaga jarak aman apabila abu vulkanik mengganggu pandangan.

Selain itu, warga yang mengalami iritasi mata sebaiknya tidak mengucek mata dengan tangan. Gunakan air bersih untuk membilasnya dan segera mencari pertolongan medis apabila keluhan berlanjut.

Jalur Abu Terus Dipantau dari Satelit

Pergerakan abu vulkanik sangat bergantung pada arah dan kecepatan angin. Karena itu, jalurnya dapat berubah dalam waktu relatif singkat.

BMKG menggunakan pengamatan satelit, data meteorologi, serta informasi aktivitas gunung api untuk memantau pergerakan material vulkanik tersebut.

Produk citra sebaran abu vulkanik Anak Krakatau BMKG juga dibuat berdasarkan informasi aktivitas gunung api dari VAAC Darwin.

Situasi ini juga penting bagi keselamatan penerbangan. Abu vulkanik dapat membahayakan mesin pesawat sehingga pergerakannya harus terus dipantau.

Sebelumnya, sebaran abu Anak Krakatau bahkan berdampak pada operasional sejumlah bandara di Jawa dan Sumatra. BMKG kemudian melakukan verifikasi lapangan sebelum bandara kembali beroperasi.

Baca Juga :  Bareskrim Bongkar Narkoba Jaringan Erwin Iskandar, Pemilik dan Penjual Rekening Diciduk

Warga Diminta Tidak Panik, tetapi Jangan Lengah

BMKG mengimbau masyarakat terus mengikuti informasi resmi dari BMKG, PVMBG, MAGMA Indonesia, dan instansi terkait.

Informasi dari media sosial yang tidak jelas sumbernya sebaiknya tidak langsung dipercaya atau disebarkan.

Bagi warga yang tinggal di sekitar wilayah terdampak, beberapa langkah sederhana perlu dilakukan:

  • Gunakan masker ketika abu mulai tercium atau terlihat di udara.
  • Kurangi aktivitas di luar ruangan.
  • Gunakan kacamata pelindung jika abu cukup pekat.
  • Tutup pintu dan jendela rumah untuk mengurangi masuknya abu.
  • Lindungi sumber air dan makanan dari paparan abu.
  • Pengendara perlu menyalakan lampu kendaraan dan mengurangi kecepatan ketika jarak pandang menurun.
  • Pantau terus perkembangan arah sebaran abu melalui informasi resmi.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang kembali meletus pada Rabu dini hari menjadi pengingat bahwa kawasan gunung api aktif tidak boleh diperlakukan seperti kawasan wisata biasa.

Abu yang tampak tipis dapat berubah menjadi ancaman ketika konsentrasinya meningkat atau jarak pandang turun drastis. Karena itu, kewaspadaan bukan berarti panik.

Justru dengan mengikuti informasi resmi dan memahami langkah keselamatan, masyarakat dapat menghadapi ancaman abu vulkanik dengan lebih tenang dan terukur.

Hingga pembaruan Rabu pagi, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau bergerak ke barat laut hingga ketinggian 7.000 kaki dan mencakup sebagian Teluk Lampung.

Perubahan arah angin tetap menjadi faktor penting yang harus dipantau karena dapat mengubah wilayah terdampak. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Proyeksi Harga CPO Indonesia 2026 Berpotensi Naik
SAR Perluas Pencarian 8 Orang Hilang di Selat Sunda, Arus Jadi Kendala
Maulid Nabi di Mabes Polri, Wakapolri Dedi: Saat Rakyat Diuji, Polisi Harus Hadir
Black September Mengintai? Wakapolri Siagakan 5.582 Personel Jelang 24 September
Nigeria dan Indonesia Tolak Kebijakan Sertifikasi Sawit Uni Eropa
Ekspor CPO Indonesia Tumbuh 5,49 Persen sepanjang Januari-Juli
Polri-PDRM Naikkan Level Perang Narkoba, Bandar Besar Jadi Target Utama
Soetta Kembali Berdenyut, Penerbangan Dipulihkan Bertahap

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 10:00 WIB

Proyeksi Harga CPO Indonesia 2026 Berpotensi Naik

Rabu, 9 September 2026 - 08:49 WIB

Anak Krakatau Erupsi Lagi, Abu Vulkanik Mengarah ke Barat Laut

Rabu, 9 September 2026 - 06:17 WIB

SAR Perluas Pencarian 8 Orang Hilang di Selat Sunda, Arus Jadi Kendala

Selasa, 8 September 2026 - 15:07 WIB

Maulid Nabi di Mabes Polri, Wakapolri Dedi: Saat Rakyat Diuji, Polisi Harus Hadir

Selasa, 8 September 2026 - 14:52 WIB

Black September Mengintai? Wakapolri Siagakan 5.582 Personel Jelang 24 September

Berita Terbaru

Harga CPO Indonesia diproyeksikan tembus 1.172 USD per ton pada 2026 akibat dorongan program biodiesel B40 dan konsumsi domestik. Dok: Istimewa.

NASIONAL

Proyeksi Harga CPO Indonesia 2026 Berpotensi Naik

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:00 WIB

Iran mengancam balas serangan AS terhadap asetnya, sementara serangan Israel di Lebanon dan blokade Selat Hormuz memperdalam ketegangan Timur Tengah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 Sep 2026 - 08:03 WIB

Ekstremisme kekerasan nihilistik yang didorong anak muda online kini mengancam keamanan Eropa, dengan AI memperkuat penyebaran propaganda. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Rabu, 9 Sep 2026 - 07:00 WIB