POSNEWS.CO.ID, JAKARTA — Harga minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) Indonesia berpotensi meningkat signifikan pada 2026. Laporan Palm Oil Commodity Outlook 2026 memproyeksikan harga CPO berada di rentang 959 hingga 1.172 Dolar AS per ton. Angka ini mencatatkan tren kenaikan berlanjut jika dibandingkan rata-rata harga 942 Dolar AS per ton pada 2024.
Tiga Skenario Pergerakan Harga CPO
Laporan tersebut menyusun tiga skenario pergerakan harga CPO untuk tahun 2026. Skenario tersebut mencakup perkiraan harga pada tingkat 959, 1.066, dan 1.172 Dolar AS per ton. Sementara itu, proyeksi rata-rata harga CPO sepanjang tahun 2025 berada pada level 1.017 Dolar AS per ton.
Dampak Kebijakan Biodiesel B40
Implementasi program mandatori biodiesel B40 menjadi pendorong utama penguatan harga tersebut. Kebijakan ini menetapkan kewajiban BBN sebesar 40 persen pada campuran bahan bakar minyak. Akibatnya, lonjakan kebutuhan industri BBN domestik menekan volume CPO yang tersedia untuk pasar ekspor.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Konsumsi CPO untuk produksi biodiesel tumbuh rata-rata 12,2 persen per tahun selama periode 2020 hingga 2024. Selain itu, kapasitas terpasang industri biodiesel nasional telah menembus 19,15 juta kiloliter pada 2025. Pengoperasian 26 fasilitas produksi aktif memperkuat pencapaian kapasitas tersebut secara nasional.
Tren Konsumsi dan Ekspor Domestik
Penyerapan CPO pasar domestik mencapai 14,3 juta ton pada periode Januari hingga Juli 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan konsumsi sebesar 6,57 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, volume ekspor CPO Indonesia melonjak 11,1 persen menjadi 19,2 juta ton pada periode yang sama.
Namun, dinamika harga CPO mendatang masih terpengaruh oleh volume produksi minyak nabati kompetitor. Kebijakan proteksi perdagangan dari negara pengimpor utama juga menjadi variabel kunci. Oleh karena itu, korelasi harga minyak bumi mentah dan tren produksi nasional akan menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













