Rembuk Nelayan Nasional 2025, SNI Desak Pemerintah Dengar Suara Nelayan Indonesia

Senin, 27 Oktober 2025 - 07:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Solidaritas Nelayan Indonesia (SNI) menyuarakan aspirasi nelayan dalam Rembuk Nelayan Nasional 2025 di Pelabuhan Kejawanan, Cirebon, Jawa Barat. Foto: RM/Posnews

Solidaritas Nelayan Indonesia (SNI) menyuarakan aspirasi nelayan dalam Rembuk Nelayan Nasional 2025 di Pelabuhan Kejawanan, Cirebon, Jawa Barat. Foto: RM/Posnews

CIREBON, POSNEWS.CO.ID – Solidaritas Nelayan Indonesia (SNI) mendesak pemerintah evaluasi kebijakan perikanan tangkap dan tegaskan keadilan untuk pelaut Indonesia.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal ini diungkapkan dalam Rembuk Nelayan Nasional 2025 yang di gelar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sekaligus syukuran HUT ke-26 KKP di Pelabuhan Kejawanan, Cirebon, Jawa Barat, Minggu (26/10/2025).

Acara ini menjadi forum komunikasi terbuka antara pemerintah dan pelaku usaha perikanan di seluruh Indonesia.Β Dalam forum tersebut, SNI menyoroti berbagai persoalan yang tengah menghantui sektor perikanan nasional.

SNI menegaskan dukungannya terhadap forum ini, namun juga mendesak pemerintah segera mengevaluasi kebijakan yang dinilai memberatkan nelayan.

Ketua Umum SNI Hadi Sutrisno menegaskan pemerintah harus meninjau ulang kebijakan tarif PNBP subsektor perikanan tangkap yang kini dinilai terlalu tinggi.

Baca Juga :  8 RT di Jakarta Tergenang Banjir, BPBD DKI Koordinasi Evakuasi dan Penyedotan Genangan

β€œTarif idealnya cukup 3 persen, agar adil dan tetap menjaga keberlanjutan usaha nelayan serta penerimaan negara,” ujarnya tegas.

Hadi juga menolak pemberlakuan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) laut untuk nelayan tangkap.

β€œSektor ini bukan padat modal, tapi padat perjuangan. Beban tambahan justru bisa melemahkan semangat dan daya saing nelayan,” katanya.

Naturalisasi Kapal Asing Potensi Konflik

Sementara itu, Sekjen SNI James Then, yang juga Ketua Himpunan Nelayan Purseseine Nusantara (HNPN), mengkritik naturalisasi kapal asing yang dinilai berpotensi memicu konflik dengan nelayan lokal.

β€œKapal banyak yang mangkrak, sementara nelayan kita makin susah. Ini harus dikaji ulang,” tegas James.

Ia juga mendesak pemerintah menerbitkan kembali SIKPI kapal angkut WPP RI dan menurunkan harga BBM non-subsidi yang saat ini jauh lebih mahal dibanding Malaysia.

β€œSaat ini, banyak nelayan kesulitan melaut karena biaya operasional terus naik,” tambahnya.

Baca Juga :  Aksi Nekat Pencuri Motor di Hari Raya Berujung Amuk Warga di Mundu Cirebon

Menurut SNI, kebijakan yang baik harus lahir dari suara rakyat, berpihak pada nelayan, dan mencerminkan keadilan sosial. Mereka berharap hasil rembuk ini menjadi pijakan untuk memperbaiki tata kelola perikanan nasional.

Kegiatan bertema β€œBergerak, Berdampak, Berkelanjutan” itu juga digelar serentak di seluruh pelabuhan perikanan dan unit pelaksana teknis (UPT) di Indonesia sebagai bentuk syukur dan refleksi komitmen membangun sektor kelautan yang produktif serta lestari.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.

β€œPemerintah terus bersinergi dengan asosiasi, himpunan, dan mitra dalam maupun luar negeri. Forum ini menjadi wadah penting untuk menyampaikan aspirasi dan mengevaluasi kebijakan BBM bersubsidi serta praktik penangkapan ikan berkelanjutan,” pungkasnya. (red)

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Abu Krakatau Masuk Serang, Sekolah PAUD-SMP Beralih ke PJJ
Erupsi Anak Krakatau, BMKG Siaga 24 Jam Pantau Abu dan Tsunami
Abu Anak Krakatau Meluas, Kapolri Perintahkan Polisi Bergerak Cepat
Abu Anak Krakatau Sampai Bogor, Water Cannon Semprot Jalan Utama
Abu Anak Krakatau Sampai Bogor, Polisi Bagikan Masker ke Warga
Penumpang Merak-Bakauheni Turun Imbas Erupsi Anak Krakatau
Dua Pesawat Garuda dari Jeddah dan Madinah Mendarat di Kertajati
Nelayan Masuk Zona Bahaya Anak Krakatau, Polisi Perketat Patroli 3 Km

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 20:38 WIB

Abu Krakatau Masuk Serang, Sekolah PAUD-SMP Beralih ke PJJ

Minggu, 6 September 2026 - 20:24 WIB

Erupsi Anak Krakatau, BMKG Siaga 24 Jam Pantau Abu dan Tsunami

Minggu, 6 September 2026 - 20:14 WIB

Abu Anak Krakatau Meluas, Kapolri Perintahkan Polisi Bergerak Cepat

Minggu, 6 September 2026 - 17:13 WIB

Abu Anak Krakatau Sampai Bogor, Water Cannon Semprot Jalan Utama

Minggu, 6 September 2026 - 16:50 WIB

Abu Anak Krakatau Sampai Bogor, Polisi Bagikan Masker ke Warga

Berita Terbaru

Polisi membagikan masker kepada warga Bekasi untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Abu Anak Krakatau Menerpa Bekasi, Pengendara Dibagikan Masker

Minggu, 6 Sep 2026 - 21:17 WIB

Ilustrasi, bangku sekolah kosong. (Posnews/Ist)

DAERAH

Abu Krakatau Masuk Serang, Sekolah PAUD-SMP Beralih ke PJJ

Minggu, 6 Sep 2026 - 20:38 WIB