JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kita semua tentu pernah merasakan momen mendebarkan itu. Jantung berdegup kencang sesaat setelah kita mengunggah foto di Instagram. Mata kita lantas menatap layar ponsel dengan penuh harap.
Kita menunggu notifikasi pertama muncul di layar. Satu “Like”, dua “View”, lalu puluhan komentar pujian membanjiri kolom komentar. Alhasil, perasaan lega dan bahagia langsung menyelimuti hati.
Akan tetapi, apa yang terjadi jika respons tersebut tak kunjung datang? Kebahagiaan itu lantas berubah menjadi kecemasan. Akibatnya, banyak anak muda kini menggantungkan harga diri mereka pada metrik digital yang semu.
Candu Bernama Dopamin
Mekanisme ini sebenarnya berakar pada biologi otak manusia. Notifikasi ponsel bekerja layaknya mesin slot di kasino. Setiap kali layar menyala, otak kita melepaskan zat kimia bernama dopamin.
Zat ini memberikan sensasi kenikmatan sesaat bagi tubuh. Kita pun menjadi ketagihan terhadap validasi instan tersebut. Imbasnya, siklus “dopamine loop” ini mengurung kita tanpa henti.
Kita terus-menerus mengecek ponsel hanya untuk mendapatkan suntikan rasa senang. Padahal, kebahagiaan jenis ini sangat rapuh dan tidak bertahan lama. Akhirnya, kita menjadi budak dari algoritma yang mendikte perasaan kita hari itu.
Hapus Postingan hingga Beli Followers
Dampak dari ketergantungan ini sangat nyata dan meresahkan. Biasanya, seseorang merasa gelisah luar biasa saat postingan mereka sepi respons. Mereka lantas mulai mempertanyakan kualitas diri sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Apakah aku kurang cantik?”, “Apakah hidupku membosankan?”. Pertanyaan-pertanyaan racun ini terus menghantui pikiran. Oleh sebab itu, kebiasaan menghapus postingan yang kurang “laku” menjadi hal lumrah.
Malahan, sebagian orang rela mengambil jalan pintas ekstrem. Mereka membeli followers atau likes palsu demi terlihat populer. Angka-angka fiktif tersebut menjadi tameng rapuh untuk menutupi rasa tidak aman (insecurity) mereka.
Panggung Sandiwara: Budaya “Flexing”
Tekanan untuk selalu terlihat sempurna melahirkan identitas kurasi. Kita membangun citra diri palsu demi konsumsi publik. Selanjutnya, budaya pamer atau flexing culture pun muncul ke permukaan.
Orang berlomba-lomba memamerkan pencapaian, kemewahan, atau kebahagiaan secara berlebihan. Di sisi lain, kita justru menyembunyikan sisi gelap dan kegagalan hidup rapat-rapat.
Kita memerankan peran ganda sebagai sutradara sekaligus aktor dalam film kehidupan sendiri. Sayangnya, kita sering lupa satu hal penting. Penonton di media sosial tidak benar-benar peduli pada kita. Mereka hanya peduli pada hiburan yang kita sajikan.
Membangun Benteng Percaya Diri
Pada akhirnya, kita wajib memutus rantai validasi eksternal ini. Harga diri manusia terlalu mahal jika kita menukarnya hanya dengan tombol “Like”. Kita harus mulai membangun kepercayaan diri dari dalam (internal validation).
Fokuslah pada pencapaian nyata di dunia nyata. Ingatlah, angka di media sosial hanyalah data statistik, bukan tolak ukur kualitas jiwa.
Jadilah diri sendiri tanpa perlu filter berlebihan. Kebahagiaan sejati muncul saat kita mampu menerima diri sendiri apa adanya, terlepas dari jumlah orang yang “menonton” hidup kita.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















