JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Roda waktu berputar semakin cepat di dunia digital. Generasi Z (Gen Z) yang dulu bangga menjadi pemegang takhta tren internet, kini mulai merasakan “encok” secara kultural.
Mereka mendadak merasa asing di rumah sendiri. Pasalnya, muncul kosakata baru yang membingungkan dari mulut adik-adik mereka, Generasi Alpha.
Istilah-istilah seperti “Skibidi”, “Fanum Tax”, “Gyatt”, atau “Sigma” membanjiri lini masa. Anehnya, Gen Z gagal menangkap konteks dan humor di balik kata-kata tersebut. Mereka yang dulu menertawakan Boomers karena gagap teknologi, kini justru mengalami nasib serupa.
Evolusi Bahasa Kilat ala Video Pendek
Kebingungan ini sebenarnya wajar terjadi. Evolusi bahasa internet kini bergerak dalam kecepatan cahaya. Terutama, platform video pendek seperti TikTok Shorts dan Instagram Reels memegang kendali penuh atas perubahan ini.
Konten-konten absurd seperti “Skibidi Toilet” meledak tanpa logika narasi yang jelas. Akibatnya, bahasa gaul tidak lagi tumbuh secara organik dari percakapan sehari-hari. Bahasa tersebut lahir dari meme visual yang sangat spesifik.
Gen Z kesulitan mengikuti laju perubahan ini. Lantas, mereka merasa tertinggal. Otak mereka belum terbiasa memproses tumpukan informasi acak yang menjadi makanan sehari-hari Gen Alpha.
Fenomena “iPad Kids” dan Kritik Literasi
Selain itu, jurang pemisah ini melebar karena gaya pengasuhan yang berbeda. Gen Z sering melontarkan kritik pedas terhadap fenomena “iPad Kids”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka menilai Gen Alpha tumbuh sebagai zombi layar sentuh. Sayangnya, Gen Z melihat adik-adik mereka memiliki rentang fokus yang sangat pendek. Kemampuan literasi digital Gen Alpha juga sering menjadi sorotan.
Gen Z menganggap Gen Alpha hanya pandai mengonsumsi konten, tetapi gagap dalam mengoperasikan komputer dasar atau memahami etika internet. Oleh sebab itu, rasa frustrasi sering mewarnai interaksi antara kedua generasi ini.
Ironi Siklus Generasi: Gen Z Jadi “Boomer” Baru?
Situasi ini menyajikan ironi yang menggelitik. Tanpa sadar, Gen Z sedang memerankan peran yang dulu mereka benci. Mereka berubah menjadi sosok “orang tua” yang gemar mengeluh tentang kelakuan anak zaman sekarang.
Dulu, Milenial dan Boomers mengkritik Gen Z karena terlalu sensitif. Sekarang, Gen Z mengkritik Gen Alpha karena terlalu aneh. Siklus ini terus berulang tanpa henti.
Padahal, setiap generasi hanya merespons lingkungan tempat mereka tumbuh. Gen Alpha tidak meminta lahir di tengah gempuran algoritma yang agresif.
Jurang Komunikasi Akibat Algoritma
Pada akhirnya, kita harus mengakui satu hal pahit. Algoritma media sosial telah menciptakan tembok pemisah realitas yang tebal.
Gen Z dan Gen Alpha mungkin tinggal di rumah yang sama. Akan tetapi, mereka hidup di dunia digital yang sama sekali berbeda. Algoritma menyajikan menu konten yang sangat personal dan tersegregasi.
Maka, gegar budaya “Skibidi” ini hanyalah gejala awal. Jurang komunikasi antargenerasi akan semakin lebar jika kita tidak mencoba saling memahami. Gen Z harus belajar menerima bahwa masa muda mereka—dan bahasa gaul mereka—kini sudah mulai kedaluwarsa.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















