Gegar Budaya Skibidi & Rizz: Gen Z Mulai Merasa Tua di Hadapan Gen Alpha

Jumat, 21 November 2025 - 16:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dulu dibilang generasi paling gaul, kini Gen Z justru bingung dengan bahasa Gen Alpha. Apa itu

Dulu dibilang generasi paling gaul, kini Gen Z justru bingung dengan bahasa Gen Alpha. Apa itu "Skibidi" dan "Fanum Tax"? Simak fenomena gegar budaya antargenerasi ini. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Roda waktu berputar semakin cepat di dunia digital. Generasi Z (Gen Z) yang dulu bangga menjadi pemegang takhta tren internet, kini mulai merasakan “encok” secara kultural.

Mereka mendadak merasa asing di rumah sendiri. Pasalnya, muncul kosakata baru yang membingungkan dari mulut adik-adik mereka, Generasi Alpha.

Istilah-istilah seperti “Skibidi”, “Fanum Tax”, “Gyatt”, atau “Sigma” membanjiri lini masa. Anehnya, Gen Z gagal menangkap konteks dan humor di balik kata-kata tersebut. Mereka yang dulu menertawakan Boomers karena gagap teknologi, kini justru mengalami nasib serupa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Evolusi Bahasa Kilat ala Video Pendek

Kebingungan ini sebenarnya wajar terjadi. Evolusi bahasa internet kini bergerak dalam kecepatan cahaya. Terutama, platform video pendek seperti TikTok Shorts dan Instagram Reels memegang kendali penuh atas perubahan ini.

Konten-konten absurd seperti “Skibidi Toilet” meledak tanpa logika narasi yang jelas. Akibatnya, bahasa gaul tidak lagi tumbuh secara organik dari percakapan sehari-hari. Bahasa tersebut lahir dari meme visual yang sangat spesifik.

Baca Juga :  Jabodetabek Hari Ini Hujan Ringan, Waspadai Petir dan Angin Kencang

Gen Z kesulitan mengikuti laju perubahan ini. Lantas, mereka merasa tertinggal. Otak mereka belum terbiasa memproses tumpukan informasi acak yang menjadi makanan sehari-hari Gen Alpha.

Fenomena “iPad Kids” dan Kritik Literasi

Selain itu, jurang pemisah ini melebar karena gaya pengasuhan yang berbeda. Gen Z sering melontarkan kritik pedas terhadap fenomena “iPad Kids”.

Mereka menilai Gen Alpha tumbuh sebagai zombi layar sentuh. Sayangnya, Gen Z melihat adik-adik mereka memiliki rentang fokus yang sangat pendek. Kemampuan literasi digital Gen Alpha juga sering menjadi sorotan.

Gen Z menganggap Gen Alpha hanya pandai mengonsumsi konten, tetapi gagap dalam mengoperasikan komputer dasar atau memahami etika internet. Oleh sebab itu, rasa frustrasi sering mewarnai interaksi antara kedua generasi ini.

Ironi Siklus Generasi: Gen Z Jadi “Boomer” Baru?

Situasi ini menyajikan ironi yang menggelitik. Tanpa sadar, Gen Z sedang memerankan peran yang dulu mereka benci. Mereka berubah menjadi sosok “orang tua” yang gemar mengeluh tentang kelakuan anak zaman sekarang.

Baca Juga :  Rutan Kotabumi Diguncang Skandal Love Scamming, Polisi Selidiki Keterlibatan Petugas

Dulu, Milenial dan Boomers mengkritik Gen Z karena terlalu sensitif. Sekarang, Gen Z mengkritik Gen Alpha karena terlalu aneh. Siklus ini terus berulang tanpa henti.

Padahal, setiap generasi hanya merespons lingkungan tempat mereka tumbuh. Gen Alpha tidak meminta lahir di tengah gempuran algoritma yang agresif.

Jurang Komunikasi Akibat Algoritma

Pada akhirnya, kita harus mengakui satu hal pahit. Algoritma media sosial telah menciptakan tembok pemisah realitas yang tebal.

Gen Z dan Gen Alpha mungkin tinggal di rumah yang sama. Akan tetapi, mereka hidup di dunia digital yang sama sekali berbeda. Algoritma menyajikan menu konten yang sangat personal dan tersegregasi.

Maka, gegar budaya “Skibidi” ini hanyalah gejala awal. Jurang komunikasi antargenerasi akan semakin lebar jika kita tidak mencoba saling memahami. Gen Z harus belajar menerima bahwa masa muda mereka—dan bahasa gaul mereka—kini sudah mulai kedaluwarsa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Brazil Lula da Silva Peringatkan Donald Trump
Trump Tunda Sidang Konfirmasi Jay Clayton di Tengah Krisis
Trump Sebut Xi Jinping dan Vladimir Putin Bersikap Netral
Rusia Hantam Ibu Kota Ukraina dengan Rudal Balistik
Serangan Militer Israel Tewaskan Seribu Warga Gaza
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Amerika Serikat dan Iran Rilis Dokumen Damai Sementara
Trump Sebut Sanae Takaichi Pendukung Setianya

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:25 WIB

Presiden Brazil Lula da Silva Peringatkan Donald Trump

Kamis, 18 Juni 2026 - 13:19 WIB

Trump Tunda Sidang Konfirmasi Jay Clayton di Tengah Krisis

Kamis, 18 Juni 2026 - 12:13 WIB

Rusia Hantam Ibu Kota Ukraina dengan Rudal Balistik

Kamis, 18 Juni 2026 - 12:07 WIB

Serangan Militer Israel Tewaskan Seribu Warga Gaza

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:30 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Berita Terbaru

Ketegangan diplomatik di Amerika Selatan. Presiden Brazil Lula da Silva memperingatkan mitranya Donald Trump agar tidak mencampuri urusan pemilihan umum mendatang di negaranya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Brazil Lula da Silva Peringatkan Donald Trump

Kamis, 18 Jun 2026 - 14:25 WIB

Langkah taktis di tengah kebuntuan politik. Presiden Donald Trump menominasikan Jay Clayton sebagai Direktur Intelijen Nasional guna meloloskan perpanjangan undang-undang pengawasan intelijen asing. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Tunda Sidang Konfirmasi Jay Clayton di Tengah Krisis

Kamis, 18 Jun 2026 - 13:19 WIB