True Crime Mania: Etika Menjadikan Tragedi Orang Lain Sebagai Hiburan

Jumat, 12 Desember 2025 - 05:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Hiburan atau eksploitasi? Demam dokumenter pembunuhan seperti Dahmer memicu debat etika. Simak dampak retraumatisasi bagi keluarga korban dan bahaya romantisasi penjahat. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Hiburan atau eksploitasi? Demam dokumenter pembunuhan seperti Dahmer memicu debat etika. Simak dampak retraumatisasi bagi keluarga korban dan bahaya romantisasi penjahat. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Akhir pekan tiba, dan jutaan orang memilih cara bersantai yang agak mengerikan. Mereka tidak menonton komedi romantis. Sebaliknya, mereka mematikan lampu dan memutar dokumenter tentang pembunuhan sadis di Netflix.

Judul-judul seperti Dahmer atau kisah skandal Jeffrey Epstein mendominasi tangga lagu tontonan global. Genre “True Crime” atau kejahatan nyata kini telah berubah menjadi industri hiburan raksasa.

Kita mendengarkan detail penyiksaan lewat podcast saat menyetir ke kantor. Namun, di balik popularitas masif ini, muncul pertanyaan etis yang mengganggu. Apakah kita berhak menjadikan tragedi paling buruk dalam hidup seseorang sebagai camilan hiburan di waktu luang?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Candu Bernama “Morbid Curiosity”

Mengapa kita begitu terobsesi dengan hal-hal mengerikan? Psikolog menyebut fenomena ini sebagai morbid curiosity atau rasa ingin tahu yang tidak wajar terhadap kematian dan kekerasan.

Baca Juga :  Kisah Jalue Dorje, Remaja Minnesota yang Menjadi Lama Reinkarnasi di Himalaya

Sebenarnya, ini adalah insting evolusi manusia. Kita ingin memahami bahaya agar bisa menghindarinya. Selain itu, genre ini menawarkan sensasi menjadi detektif dadakan.

Penonton merasa terlibat dalam memecahkan teka-teki kriminal dari kenyamanan sofa mereka yang aman. Akibatnya, adrenalin terpacu tanpa adanya risiko fisik yang nyata. Otak kita menikmati simulasi bahaya tersebut.

Luka Lama yang Berdarah Lagi

Akan tetapi, kita sering lupa bahwa karakter di layar kaca adalah manusia nyata. Keluarga korban sering kali menjadi pihak yang paling menderita akibat tren ini.

Kasus serial Dahmer menjadi contoh nyata. Netflix memproduksi ulang adegan kemarahan keluarga korban di pengadilan dengan sangat mirip. Nahasnya, pihak produksi tidak meminta izin atau memberi tahu keluarga asli sebelumnya.

Keluarga korban merasa terpukul. Mereka mengalami retraumatisasi. Luka batin yang sudah tertutup rapat, kini terkoyak kembali demi keuntungan komersial perusahaan streaming. Bagi mereka, ini bukan hiburan, melainkan mimpi buruk yang berulang.

Baca Juga :  Banjir Rendam 33 Jalan di Jakarta, Ketinggian Air Capai 95 Cm - Jakarta Selatan dan Utara Terparah

Jatuh Cinta pada Pembunuh?

Dampak psikologis lain yang tak kalah aneh adalah romantisasi penjahat. Sering kali, aktor tampan memerankan sosok pembunuh berantai yang karismatik.

Seketika, penonton muda di TikTok membuat video edit “jedag-jedug” yang memuja karakter tersebut. Mereka merasa simpati, bahkan naksir pada sosok monster seperti Ted Bundy atau Jeffrey Dahmer.

Fenomena ini sangat berbahaya. Pasalnya, narasi fiksi sering kali mengaburkan kekejaman asli sang pelaku. Penonton kehilangan empati pada korban dan justru terpesona pada sisi “manusiawi” si pembunuh yang sebenarnya manipulatif.

Batas Tipis Jurnalisme dan Eksploitasi

Pada akhirnya, kita harus menarik garis tegas. Jurnalisme investigasi bertujuan mengungkap kebenaran dan mencari keadilan. Sebaliknya, eksploitasi hanya bertujuan mengeruk uang dari sensasi darah dan air mata.

Kita sebagai penonton memegang kendali. Maka, jadilah konsumen yang bijak. Sebelum menekan tombol “Play”, tanyakan pada diri sendiri. Apakah tontonan ini menghormati korban, atau hanya menjual penderitaan mereka?

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Spider-Man Brand New Day Siap Sapu Bersih Bioskop
Babak Baru Semesta Family Guy: Serial Spin-off
Ambisi Ryan Reynolds: Deadpool Keempat Siap Disajikan
Inde Navarrette Terima Kado Langka Modern Warfare 2
Novel Baru Dragonlance War Wizard Rilis Agustus
Adaptasi Film The Odyssey Tuai Kritik Keras dari Penerjemah
Avengers: Doomsday Pamerkan Robert Downey Jr. Sebagai Doctor Doom
Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:22 WIB

Spider-Man Brand New Day Siap Sapu Bersih Bioskop

Jumat, 24 Juli 2026 - 06:30 WIB

Babak Baru Semesta Family Guy: Serial Spin-off

Selasa, 21 Juli 2026 - 12:32 WIB

Ambisi Ryan Reynolds: Deadpool Keempat Siap Disajikan

Selasa, 21 Juli 2026 - 10:30 WIB

Inde Navarrette Terima Kado Langka Modern Warfare 2

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:30 WIB

Novel Baru Dragonlance War Wizard Rilis Agustus

Berita Terbaru

Langkah taktis amankan benteng udara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menemui Donald Trump di Washington guna membahas produksi mandiri rudal Patriot. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Jul 2026 - 16:12 WIB

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB