Matinya Film Budget Menengah: Bioskop Hanya Milik Spektakel Visual

Sabtu, 13 Desember 2025 - 20:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Rindu film drama berkualitas di bioskop? Sayangnya, film jenis itu sudah

Ilustrasi, Rindu film drama berkualitas di bioskop? Sayangnya, film jenis itu sudah "punah". Simak alasan ekonomi matinya film mid-budget dan pergeseran bioskop menjadi taman hiburan. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Coba ingat kembali kapan terakhir kali Anda menonton drama pengadilan yang intens atau komedi romantis yang cerdas di bioskop. Kemungkinan besar, kenangan itu sudah lama berlalu.

Layar bioskop kini tampak seragam. Poster-poster film hanya menampilkan dua jenis tontonan: pahlawan super yang terbang dengan efek visual megah, atau hantu menyeramkan yang mengagetkan penonton.

Film dengan anggaran menengah (mid-budget) yang mengandalkan kekuatan cerita dan akting perlahan punah. Seketika, variasi genre di bioskop menyusut drastis. Bioskop tidak lagi menjadi rumah bagi segala jenis cerita, melainkan hanya menjadi etalase bagi tontonan visual raksasa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Polarisasi Ekstrem: Raksasa vs Liliput

Studio film besar kini menerapkan strategi investasi yang sangat terkutub. Mereka hanya mau membiayai dua jenis proyek.

Pertama, film blockbuster raksasa dengan anggaran di atas $200 juta. Film ini harus memiliki ledakan, efek CGI canggih, dan potensi waralaba global. Kedua, film horor mikro-budget. Film jenis ini murah, mudah dibuat, dan hampir selalu untung besar.

Baca Juga :  Valuasi Pasar SK Hynix Melonjak Drastis Berkat Demam AI

Akibatnya, film-film yang berada di tengah-tengah menjadi korban. Film drama dewasa dengan anggaran $40-$80 juta dianggap sebagai investasi “zona mati”. Studio menilai risiko kerugiannya terlalu besar jika film tersebut gagal meledak di box office pada minggu pertama.

Penjelasan Matt Damon dan Kematian DVD

Aktor kawakan Matt Damon pernah memberikan penjelasan brilian mengenai fenomena ini dalam sebuah wawancara viral. Menurutnya, biang kerok utamanya adalah hilangnya pasar DVD.

Dulu, sebuah film mid-budget mungkin tidak laku keras di bioskop. Namun, studio tetap bisa meraup keuntungan besar dari penjualan DVD enam bulan kemudian. Piringan fisik itu menjadi jaring pengaman finansial yang kuat.

Kini, pasar DVD telah runtuh. Layanan streaming mengambil alih, tetapi model bisnisnya berbeda. Pendapatan dari streaming tidak bisa menggantikan margin keuntungan besar yang dulu DVD berikan.

Oleh karena itu, studio tidak berani lagi mengambil risiko. Film harus “pasti laku” di bioskop, atau tidak dibuat sama sekali.

Migrasi Kualitas ke Layar Kecil

Lantas, ke mana perginya cerita-cerita bagus tersebut? Mereka tidak mati, tetapi mereka pindah rumah. Layanan streaming seperti Netflix, Apple TV+, dan HBO menjadi suaka baru bagi film mid-budget.

Sineas-sineas hebat seperti Martin Scorsese atau David Fincher kini lebih sering merilis karya masterpiece mereka langsung ke platform digital. Pasalnya, hanya platform inilah yang berani mendanai drama kriminal atau biografi sejarah yang panjang dan serius.

Baca Juga :  Ekonomi Informasi: Ketika Ketidaktahuan Mempengaruhi Pasar

Imbasnya, kualitas tontonan di rumah justru meningkat pesat. Televisi dan tablet kini menyajikan kedalaman cerita yang dulu menjadi monopoli layar lebar.

Bioskop sebagai “Taman Hiburan”

Pada akhirnya, fungsi bioskop telah bergeser secara fundamental. Sutradara Martin Scorsese pernah menyebut film Marvel sebagai “taman hiburan” (theme parks), bukan sinema.

Kritik itu terasa semakin relevan hari ini. Orang pergi ke bioskop hanya untuk menaiki wahana visual yang memacu adrenalin. Mereka mencari pengalaman sensorik yang tidak bisa mereka dapatkan di ruang tamu.

Sementara itu, untuk cerita yang menggugah jiwa dan memeras air mata, penonton lebih memilih menikmatinya di balik selimut rumah yang nyaman. Bioskop adalah tempat untuk melihat, sedangkan rumah adalah tempat untuk merasa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aktor Legendaris Sir Patrick Stewart Meninggal Dunia
Sanrio Minta Maaf dan Batalkan Kolaborasi Hello Kitty
Akun Resmi K/DA Aktif Kembali Setelah Enam Tahun
Lingling Kwong Jadi Wanita Tercantik Dunia 2026, Raih 22 Juta Suara
Haji Bolot Comeback, Jantung Pulih Panggung Kembali
Jatuh di Lubang yang Sama, Revaldo Kembali Diamankan Kasus Narkoba
Tom Holland Tahu Jadwal Debut Miles Morales di MCU
Disney+ Merilis Lini Konten Agustus 2026 Mulai Pokemon

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Aktor Legendaris Sir Patrick Stewart Meninggal Dunia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 06:37 WIB

Sanrio Minta Maaf dan Batalkan Kolaborasi Hello Kitty

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:37 WIB

Akun Resmi K/DA Aktif Kembali Setelah Enam Tahun

Minggu, 30 Agustus 2026 - 07:06 WIB

Lingling Kwong Jadi Wanita Tercantik Dunia 2026, Raih 22 Juta Suara

Minggu, 30 Agustus 2026 - 06:46 WIB

Haji Bolot Comeback, Jantung Pulih Panggung Kembali

Berita Terbaru

ASUS meluncurkan kartu grafis TUF Gaming Radeon RX 9070 XT edisi spesial Onimusha. Simak spesifikasi RDNA 4, desain Oni Gauntlet. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

ASUS Rilis Kartu Grafis TUF Gaming Radeon RX 9070 XT

Sabtu, 31 Okt 2026 - 15:50 WIB

Capcom matikan server Street Fighter V dan hentikan penjualan di PS Store dan Steam akibat masalah keamanan PHP. Simak ulasan perbaikan. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Capcom Matikan Server dan Hentikan Penjualan Street Fighter V

Sabtu, 31 Okt 2026 - 13:41 WIB

Raffi Ahmad dan Willie Salim menghadiri Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di Bundaran HI, Jakarta Pusat.

JABODETABEK

Mahasiswa Bayaran di Deklarasi Sumpah Pemuda? Ini Faktanya

Sabtu, 31 Okt 2026 - 13:10 WIB