China Gercep Kirim Utusan ke Perbatasan, ASEAN Masih Terjebak Diplomasi Lambat?

Sabtu, 20 Desember 2025 - 09:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

China bergerak cepat mediasi Thailand-Kamboja, kirim utusan khusus. Di sisi lain, ASEAN dinilai lamban merespons konflik anggotanya sendiri. Dok: Istimewa.

China bergerak cepat mediasi Thailand-Kamboja, kirim utusan khusus. Di sisi lain, ASEAN dinilai lamban merespons konflik anggotanya sendiri. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Di tengah memanasnya perbatasan Thailand dan Kamboja, China mengambil inisiatif diplomatik yang agresif. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengonfirmasi langkah tersebut dalam konferensi pers rutin pada Jumat (20/12/2025).

China secara aktif memediasi situasi dengan menghormati kedua belah pihak. Bahkan, Beijing telah menyediakan platform untuk dialog bilateral.

“Sebagai tetangga dekat dan teman bagi Kamboja maupun Thailand, China sangat prihatin,” ujar Guo. Ia menegaskan, China tidak ingin melihat dua negara sahabatnya itu terjerumus dalam konfrontasi bersenjata yang merugikan.

Diplomasi Ulang-Alik China

Langkah Beijing sangat konkret dan cepat. Menteri Luar Negeri Wang Yi telah melakukan pembicaraan telepon terpisah dengan rekan sejawatnya dari kedua negara pada Kamis lalu.

Tak cukup di situ, Utusan Khusus Kementerian Luar Negeri China untuk Urusan Asia langsung diterjunkan ke lapangan. Pejabat tersebut melakukan “diplomasi ulang-alik” (shuttle diplomacy) dengan bolak-balik antara Bangkok dan Phnom Penh.

Baca Juga :  Iran Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman Trump

“Kami mendesak kedua belah pihak untuk mencapai gencatan senjata dan memulihkan perdamaian,” tambah Guo.

ASEAN: Ke Mana Saja Selama Ini?

Kecepatan China dalam merespons krisis ini memunculkan pertanyaan besar: Apa yang dilakukan ASEAN?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai organisasi regional yang menaungi Thailand dan Kamboja, ASEAN seharusnya menjadi aktor utama dalam penyelesaian konflik ini. Namun, respons blok tersebut sejauh ini dinilai normatif dan lamban.

1. Terbelenggu Prinsip Non-Intervensi ASEAN selama ini terikat kuat pada prinsip “non-intervensi” urusan dalam negeri anggota. Akibatnya, mekanisme penyelesaian sengketa sering kali macet di level imbauan “menahan diri” (exercise restraint) tanpa aksi penegakan perdamaian yang nyata di lapangan.

2. Diplomasi Senyap yang Tak Terdengar Para pemimpin ASEAN mungkin melakukan diplomasi senyap di belakang layar. Namun, di tengah korban jiwa yang terus jatuh, publik menuntut kehadiran yang lebih terlihat. Ketiadaan pertemuan darurat tingkat tinggi ASEAN memberikan ruang kosong yang kini diisi oleh kekuatan luar seperti China.

Baca Juga :  Tol Jakarta-Cikampek Macet Parah Hari Ini, Contraflow Diperpanjang hingga KM 47–65

3. Peran Ketua ASEAN Keketuaan ASEAN saat ini menghadapi ujian berat. Belum ada terobosan signifikan seperti pembentukan tim pemantau gencatan senjata (seperti yang pernah dilakukan Indonesia pada konflik Preah Vihear 2011). ASEAN tampaknya masih kesulitan menemukan konsensus di antara 10 anggotanya untuk mengambil sikap tegas.

4. Risiko Kehilangan Relevansi Jika konflik ini akhirnya selesai berkat mediasi China, bukan ASEAN, ini akan menjadi pukulan telak bagi sentralitas ASEAN. Organisasi ini berisiko dianggap tidak relevan dalam menjaga keamanan di halaman rumahnya sendiri.

Kini, bola panas ada di tangan para pemimpin Asia Tenggara. Apakah mereka akan segera bergerak menyusul langkah China, atau membiarkan perselisihan dua saudara ini diselesaikan oleh “paman” dari utara?

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

‘Bang Jago’ Palak Pengendara di Tanah Abang, Rampas Kartu E-Toll, 2 Pelaku Dibekuk Polisi
Bongkar Jaringan Ketamine! Bareskrim Sita 6,2 Kg Ketamine di Deli Serdang, Nilai Rp18,7 Miliar
Diplomasi yang Retak: Marco Rubio Bantah Klaim Zelenskyy Soal Syarat Penyerahan Donbas
Bazar Lebaran Monas 2026! 100 Ribu Kupon Gratis, 1.000 Sepeda dan Motor Listrik Dibagikan
Kapolri Pantau Arus Balik di Bakauheni, 385 Ribu Kendaraan Belum Kembali
Serangan Siber Teheran: Peretas Iran Bobol Email Pribadi Direktur FBI Kash Patel
Cuba is Next: Donald Trump Beri Sinyal Intervensi Militer Terhadap Havana
Jepang Cabut Pembatasan Operasi PLTU Batu Bara

Berita Terkait

Sabtu, 28 Maret 2026 - 19:32 WIB

‘Bang Jago’ Palak Pengendara di Tanah Abang, Rampas Kartu E-Toll, 2 Pelaku Dibekuk Polisi

Sabtu, 28 Maret 2026 - 19:13 WIB

Bongkar Jaringan Ketamine! Bareskrim Sita 6,2 Kg Ketamine di Deli Serdang, Nilai Rp18,7 Miliar

Sabtu, 28 Maret 2026 - 16:52 WIB

Diplomasi yang Retak: Marco Rubio Bantah Klaim Zelenskyy Soal Syarat Penyerahan Donbas

Sabtu, 28 Maret 2026 - 16:46 WIB

Bazar Lebaran Monas 2026! 100 Ribu Kupon Gratis, 1.000 Sepeda dan Motor Listrik Dibagikan

Sabtu, 28 Maret 2026 - 16:31 WIB

Kapolri Pantau Arus Balik di Bakauheni, 385 Ribu Kendaraan Belum Kembali

Berita Terbaru