BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Di tengah memanasnya perbatasan Thailand dan Kamboja, China mengambil inisiatif diplomatik yang agresif. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengonfirmasi langkah tersebut dalam konferensi pers rutin pada Jumat (20/12/2025).
China secara aktif memediasi situasi dengan menghormati kedua belah pihak. Bahkan, Beijing telah menyediakan platform untuk dialog bilateral.
“Sebagai tetangga dekat dan teman bagi Kamboja maupun Thailand, China sangat prihatin,” ujar Guo. Ia menegaskan, China tidak ingin melihat dua negara sahabatnya itu terjerumus dalam konfrontasi bersenjata yang merugikan.
Diplomasi Ulang-Alik China
Langkah Beijing sangat konkret dan cepat. Menteri Luar Negeri Wang Yi telah melakukan pembicaraan telepon terpisah dengan rekan sejawatnya dari kedua negara pada Kamis lalu.
Tak cukup di situ, Utusan Khusus Kementerian Luar Negeri China untuk Urusan Asia langsung diterjunkan ke lapangan. Pejabat tersebut melakukan “diplomasi ulang-alik” (shuttle diplomacy) dengan bolak-balik antara Bangkok dan Phnom Penh.
“Kami mendesak kedua belah pihak untuk mencapai gencatan senjata dan memulihkan perdamaian,” tambah Guo.
ASEAN: Ke Mana Saja Selama Ini?
Kecepatan China dalam merespons krisis ini memunculkan pertanyaan besar: Apa yang dilakukan ASEAN?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai organisasi regional yang menaungi Thailand dan Kamboja, ASEAN seharusnya menjadi aktor utama dalam penyelesaian konflik ini. Namun, respons blok tersebut sejauh ini dinilai normatif dan lamban.
1. Terbelenggu Prinsip Non-Intervensi ASEAN selama ini terikat kuat pada prinsip “non-intervensi” urusan dalam negeri anggota. Akibatnya, mekanisme penyelesaian sengketa sering kali macet di level imbauan “menahan diri” (exercise restraint) tanpa aksi penegakan perdamaian yang nyata di lapangan.
2. Diplomasi Senyap yang Tak Terdengar Para pemimpin ASEAN mungkin melakukan diplomasi senyap di belakang layar. Namun, di tengah korban jiwa yang terus jatuh, publik menuntut kehadiran yang lebih terlihat. Ketiadaan pertemuan darurat tingkat tinggi ASEAN memberikan ruang kosong yang kini diisi oleh kekuatan luar seperti China.
3. Peran Ketua ASEAN Keketuaan ASEAN saat ini menghadapi ujian berat. Belum ada terobosan signifikan seperti pembentukan tim pemantau gencatan senjata (seperti yang pernah dilakukan Indonesia pada konflik Preah Vihear 2011). ASEAN tampaknya masih kesulitan menemukan konsensus di antara 10 anggotanya untuk mengambil sikap tegas.
4. Risiko Kehilangan Relevansi Jika konflik ini akhirnya selesai berkat mediasi China, bukan ASEAN, ini akan menjadi pukulan telak bagi sentralitas ASEAN. Organisasi ini berisiko dianggap tidak relevan dalam menjaga keamanan di halaman rumahnya sendiri.
Kini, bola panas ada di tangan para pemimpin Asia Tenggara. Apakah mereka akan segera bergerak menyusul langkah China, atau membiarkan perselisihan dua saudara ini diselesaikan oleh “paman” dari utara?
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















