BEKASI, POSNEWS.CO.ID – Warga di Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, meluapkan kekecewaan terhadap kinerja PDAM Tirta Bhagasasi.
Pasalnya, pasokan air bersih kerap mati hampir setiap pekan sejak akhir Desember 2025 hingga sepanjang Januari 2026.
Tak hanya sering mati, air yang mengalir ke rumah warga juga bertekanan kecil dan berkualitas buruk. Kondisi ini memicu desakan agar PDAM Tirta Bhagasasi segera diaudit karena diduga kuat mengandung indikasi Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
Selain layanan buruk, warga menyoroti mahalnya tarif air yang harus dibayar setiap bulan. Mereka mempertanyakan ke mana aliran dana pelanggan, sementara distribusi air dinilai jauh dari kata layak.
Ketidakmampuan PDAM Tirta Bhagasasi mengatasi persoalan ini juga disebut mencerminkan lemahnya kinerja pejabat utama perusahaan.
Harun, (50) warga Tarumajaya, mengaku hampir tidak pernah menikmati air PAM sejak tinggal di wilayah tersebut.
Setiap bulan, ia harus membayar tagihan air antara Rp400 ribu hingga Rp600 ribu, jauh lebih mahal dibanding saat ia tinggal di Tanjung Priok, Jakarta Utara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Di Jakarta airnya bagus, bayarnya sekitar Rp350 ribu. Tapi sejak pindah tujuh tahun lalu ke Tarumajaya, air di sini sangat buruk. Ini aja air sudah mati dua hari. Kalau andalkan PAM, bisa-bisa gak mandi. Airnya juga ngeri buat minum. Saya sampai beli air galon dua hari sekali,” ujar Harun, Minggu (25/1/2026).
Karena tak tahan, Harun mengaku berencana membuat sumur bor. Bahkan, bersama rekan pengacaranya, ia siap melaporkan PDAM Tirta Bhagasasi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Menurut Harun, uang tarif air yang dibayarkan warga setiap bulan tidak sebanding dengan layanan yang diterima. Kondisi tersebut dinilai sudah masuk indikasi korupsi.
Parahnya lagi, saat air PAM mati, PDAM dinilai tidak menunjukkan itikad baik dengan menyalurkan bantuan air secara merata.
“Kalau ada bantuan air, itu karena warga telepon ke kantor PAM. Kalau gak telepon, mereka cuek. Kecuali perumahan mewah, itu spesial,” pungkasnya. (red)
Editor : Hadwan





















