Kontroversi Intelijen AS: Tulsi Gabbard Bubarkan Satuan Tugas

Rabu, 11 Februari 2026 - 14:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Prahara di komunitas spionase. Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard membubarkan satuan tugas internal DIG setelah menghadapi gelombang kritik atas dugaan

Prahara di komunitas spionase. Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard membubarkan satuan tugas internal DIG setelah menghadapi gelombang kritik atas dugaan "perburuan penyihir" dan politisasi intelijen. Dok: Britannica.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, resmi membubarkan satuan tugas (task force) yang ia bentuk tahun lalu. Penutupan unit bernama Director’s Initiatives Group (DIG) ini terjadi pada Selasa (10/2). Oleh karena itu, langkah ini langsung memicu spekulasi luas di Capitol Hill mengenai masa depan netralitas intelijen Amerika.

Gabbard menegaskan bahwa pembubaran DIG merupakan bagian dari rencana awal. Bahkan, ia menyebut para anggota unit tersebut akan segera bertugas kembali ke tim lain di lingkup ODNI. Namun demikian, beberapa sumber internal mengungkapkan bahwa keputusan tersebut muncul akibat serangkaian kesalahan teknis yang memalukan bagi administrasi.

Target Proyek Prioritas atau “Perburuan Penyihir”?

Dalam pernyataan resminya, Gabbard membela keberadaan DIG sebagai upaya sementara. Unit tersebut bertujuan mempercepat proyek prioritas tinggi, termasuk perintah eksekutif presiden. Selain itu, beberapa pendukung memuji kelompok ini karena berhasil mendeklasifikasi dokumen terkait pembunuhan John F. Kennedy.

Namun, anggota Kongres justru melihat struktur DIG sangat tertutup dan rahasia. Senator Mark Warner dari Partai Demokrat menduga unit tersebut sebenarnya melakukan “perburuan penyihir”. Pasalnya, target utama mereka adalah para perwira intelijen yang mereka anggap tidak loyal kepada Presiden Donald Trump. DIG juga mengeklaim deklasifikasi dokumen mengenai intervensi Rusia pada pemilu 2016 sebagai salah satu pencapaiannya. Meskipun demikian, ulasan internal CIA dan laporan bipartisan Senat justru membantah klaim Gabbard tersebut.

Kesalahan Identitas dan Bocornya Agen CIA

Beberapa sumber internal mengungkapkan bahwa DIG melakukan kesalahan fatal saat mengidentifikasi pelaku penanaman bom pipa. Insiden ini terkait dengan kerusuhan Capitol 6 Januari 2021. Unit tersebut secara keliru menghubungkan seorang pekerja keamanan federal dengan tindakan teror tersebut. Tentu saja, pihak ODNI membantah kesalahan ini dan berdalih bahwa mereka hanya meneruskan laporan dari whistleblower.

Insiden lebih serius terjadi saat DIG mencabut izin keamanan 37 pejabat. Dalam proses tersebut, unit ini secara tidak sengaja mengungkap nama asli seorang perwira CIA yang sedang menyamar di luar negeri. Walaupun ODNI membantah bahwa mereka mengungkap identitas agen tersebut secara utuh, insiden ini semakin memperkeruh ketidakpercayaan publik. Akibatnya, gaya kepemimpinan Gabbard kini berada di bawah pengawasan ketat legislatif.

Baca Juga :  Satpol PP Tangkap Penjual Daging Ikan Sapu-Sapu, Diduga Jadi Bahan Siomay

Keterlibatan dalam Isu Pemilu Georgia

Pembubaran DIG ini berlangsung pada momentum yang sangat sensitif bagi Gabbard. Para pemimpin Demokrat di Kongres menyuarakan alarm keras pasca-kehadiran Gabbard dalam penggeledahan FBI di Georgia pada 28 Januari lalu. Operasi tersebut menyita kotak suara dan materi arsip pemilu dari salah satu wilayah di negara bagian tersebut.

Oleh sebab itu, Demokrat menilai Gabbard telah melampaui kewenangan badan mata-mata nasional. Mereka menuduhnya mencampuri urusan keamanan pemilu domestik secara ilegal. Selain kasus Georgia, laporan media menyebut kantor Gabbard juga mengawasi penyelidikan mesin pemungutan suara di Puerto Rico tahun lalu. Pada akhirnya, Kongres tetap menuntut laporan klasifikasi mendalam mengenai praktik operasional di bawah komando Gabbard guna memastikan profesionalitas intelijen Amerika Serikat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 13:30 WIB

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Rabu, 9 September 2026 - 06:00 WIB

Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Berita Terbaru

 Kelangkaan komponen optical drive mengancam ketersediaan disc drive eksternal pada konsol masa depan Sony dan Microsoft. Simak dampak krisis pasokan media fisik ini. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Kelangkaan Komponen Optical Drive Ancam Masa Depan

Minggu, 13 Sep 2026 - 14:30 WIB

Peluncuran konsol retro NEOGEO AES+ ditunda hingga September 2027. Keterbatasan komponen dan tingginya pemesanan awal menjadi alasan utama penundaan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Minggu, 13 Sep 2026 - 13:30 WIB

Ilustrasi, penganiayaan.(Posnews/Ist)

HUKRIM

Guru Renang di Depok Diduga Dipukul Ojol hingga Tabrak Tiang

Minggu, 13 Sep 2026 - 13:12 WIB

Nintendo merilis pembaruan firmware 23.0.0 untuk Switch 2. Update ini mengaktifkan fitur VRR mode docked dan mempersiapkan rilis Zelda Ocarina of Time Remake. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Nintendo Switch 2 Resmi Dapatkan Fitur VRR di Mode Docked

Minggu, 13 Sep 2026 - 12:36 WIB