Aliansi Baru di Pasifik sebagai Bentuk Penyeimbang Kekuatan Tiongkok

Rabu, 11 Maret 2026 - 15:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Catur kekuatan di Pasifik. Melalui lensa Neo-Realisme, pembentukan aliansi AUKUS dan Quad bukan sekadar kerja sama diplomatik, melainkan mekanisme pertahanan sistemik guna menjaga keseimbangan kekuatan global. Dok: Wikipedia.

Catur kekuatan di Pasifik. Melalui lensa Neo-Realisme, pembentukan aliansi AUKUS dan Quad bukan sekadar kerja sama diplomatik, melainkan mekanisme pertahanan sistemik guna menjaga keseimbangan kekuatan global. Dok: Wikipedia.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kawasan Indo-Pasifik kini telah bertransformasi menjadi titik sumbu utama kompetisi kekuatan besar dunia. Pertumbuhan ekonomi dan militer Tiongkok yang sangat pesat dalam dua dekade terakhir telah mengubah struktur kekuasaan di Asia secara fundamental.

Dalam studi Hubungan Internasional, kondisi ini memicu respon otomatis dari negara-negara lain yang merasa terancam. Oleh karena itu, fenomena ini paling tepat kita bedah melalui teori Neo-Realisme, khususnya konsep Balance of Power atau Keseimbangan Kekuatan. Bagi penganut teori ini, aliansi-aliansi baru yang muncul di Pasifik adalah upaya rasional untuk memastikan tidak ada satu negara pun yang terlalu kuat hingga bisa mendikte negara lain.

1. Mekanisme Aliansi: AUKUS dan Quad sebagai Pengerem Hegemoni

Neo-Realisme berasumsi bahwa dalam sistem internasional yang anarkis, distribusi kapabilitas (kekuatan) menentukan perilaku negara. Ketika sebuah kekuatan baru muncul dan berpotensi menjadi hegemon regional, negara-negara lain akan secara alami melakukan “balancing” atau penyeimbangan.

Saat ini, kita melihat dua mekanisme utama di Pasifik:

  • AUKUS (Australia, Inggris, AS): Pakta keamanan ini berfokus pada transfer teknologi militer tingkat tinggi, terutama kapal selam bertenaga nuklir bagi Australia. Secara strategis, ini bertujuan untuk memproyeksikan kekuatan di wilayah laut yang lebih jauh guna mengimbangi armada laut Tiongkok.
  • Quad (AS, Jepang, India, Australia): Meskipun petugas sebut sebagai kemitraan diplomatik “bebas dan terbuka”, Quad berfungsi sebagai kerangka koordinasi strategis guna memastikan norma internasional tetap tegak di tengah asertivitas Tiongkok.
Baca Juga :  Kapal Selam AS Tenggelamkan Frigat Iran di Perairan Sri Lanka

Pasalnya, pembentukan blok-blok ini bertujuan untuk menciptakan “biaya yang terlalu mahal” bagi Tiongkok jika mereka memutuskan untuk mengubah status quo secara paksa di wilayah sengketa.

2. Internal vs External Balancing: Dua Jalur Menuju Keamanan

Negara-negara di kawasan menggunakan dua jalur utama untuk mencapai keseimbangan kekuatan. Kenneth Waltz, tokoh utama Neo-Realisme, membaginya menjadi penyeimbangan internal dan eksternal.

Pertama, Internal Balancing merujuk pada upaya negara untuk memperkuat kekuatannya sendiri dari dalam. Sebagai contoh, langkah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang meningkatkan anggaran pertahanan hingga 2 persen dari PDB dan mengembangkan kemampuan “serangan balik” adalah bentuk nyata dari strategi ini. Jepang kini tidak lagi hanya bergantung pada payung keamanan AS, melainkan mulai membangun “taring” militernya sendiri secara mandiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedua, External Balancing dilakukan melalui pembentukan aliansi atau penguatan kemitraan militer dengan negara lain. Kerja sama antara Filipina dengan Amerika Serikat dalam penempatan pangkalan militer tambahan merupakan upaya untuk meminjam kekuatan pihak ketiga guna menutupi keterbatasan kapabilitas domestik. Dengan demikian, kombinasi antara penguatan militer mandiri dan jaringan aliansi internasional menjadi tameng ganda bagi negara-negara menengah di Pasifik.

3. Prediksi Stabilitas: Perdamaian Lewat Kekuatan

Banyak pihak mengkhawatirkan bahwa penumpukan senjata ini akan memicu perang. Namun demikian, menurut logika Neo-Realisme, keseimbangan kekuatan justru merupakan kunci stabilitas.

Baca Juga :  Mengapa Berhenti Mengejar Pertumbuhan Bisa Membuat Kita Lebih Bahagia?

Pasalnya, perang cenderung terjadi ketika terdapat ketimpangan kekuatan yang besar, di mana negara kuat merasa bisa menang dengan mudah. Jika kekuatan antara blok penyeimbang (AS dan sekutunya) dengan Tiongkok berada pada tingkat yang seimbang, maka akan tercipta kondisi Deterrence atau efek getar. Alhasil, setiap pihak akan lebih berhati-hati karena risiko kerugian yang mereka hadapi akan jauh lebih besar daripada potensi keuntungan yang petugas dapatkan.

Meskipun begitu, stabilitas ini bersifat dinamis dan rapuh. Risiko terbesar di tahun 2026 adalah adanya salah hitung (miscalculation) atau persepsi yang keliru terhadap niat lawan. Oleh sebab itu, transparansi komunikasi di sela-sela perlombaan senjata tetap menjadi variabel penting agar keseimbangan kekuatan tidak berubah menjadi pemicu konflik terbuka.

Kesimpulan: Menghadapi Realitas Geopolitik Baru

Keseimbangan kekuatan di Pasifik adalah mekanisme perlindungan diri yang tak terelakkan dalam dunia yang tanpa pemimpin tunggal. Aliansi seperti AUKUS dan Quad adalah cermin dari ketidakpastian yang dirasakan oleh aktor-aktor di kawasan.

Pada akhirnya, perdamaian di Indo-Pasifik tidak akan lahir dari janji-janji diplomatik semata, melainkan dari realitas distribusi kekuatan yang terjaga. Indonesia, sebagai pemain kunci di ASEAN, memiliki tantangan besar untuk tetap menjaga otonomi strategisnya sembari menavigasi di antara kutub-kutub kekuatan yang terus bersaing memperkuat posisi mereka di halaman rumah kita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dilema Keamanan Nuklir: Saat Upaya Bertahan Hidup Justru Memicu Perlombaan Senjata
Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?
Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?
Pramono Anung Peringatkan Ormas Jangan Paksa Pengusaha Minta THR Jelang Lebaran 2026
Hakim Tolak Gugatan Yaqut, Status Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji Tetap Berlaku
Jasad Pria dengan Luka Tembak di Kepala Ditemukan di Jaksel, Polisi Selidiki Senjata Api
Kasus Suap Terbongkar, KPK Tetapkan 5 Tersangka Termasuk Bupati Rejang Lebong
Program MBG Dievaluasi, 1.512 SPPG Dihentikan Belum Punya Sertifikat Higiene

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 16:31 WIB

Dilema Keamanan Nuklir: Saat Upaya Bertahan Hidup Justru Memicu Perlombaan Senjata

Rabu, 11 Maret 2026 - 15:26 WIB

Aliansi Baru di Pasifik sebagai Bentuk Penyeimbang Kekuatan Tiongkok

Rabu, 11 Maret 2026 - 14:20 WIB

Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?

Rabu, 11 Maret 2026 - 13:19 WIB

Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?

Rabu, 11 Maret 2026 - 12:34 WIB

Pramono Anung Peringatkan Ormas Jangan Paksa Pengusaha Minta THR Jelang Lebaran 2026

Berita Terbaru

Struktur adalah takdir. Melalui lensa Neo-Realisme Kenneth Waltz, kita memahami bahwa konflik dunia bukan disebabkan oleh sifat jahat manusia, melainkan oleh sistem internasional yang memaksa setiap negara untuk terus waspada demi bertahan hidup. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?

Rabu, 11 Mar 2026 - 14:20 WIB

Politik adalah cermin manusia. Melalui kacamata Realisme Klasik Hans Morgenthau, kita memahami bahwa konflik global bukan sekadar masalah teknis diplomatik, melainkan manifestasi dari dorongan biologis manusia untuk mendominasi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?

Rabu, 11 Mar 2026 - 13:19 WIB