Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?

Rabu, 11 Maret 2026 - 14:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Struktur adalah takdir. Melalui lensa Neo-Realisme Kenneth Waltz, kita memahami bahwa konflik dunia bukan disebabkan oleh sifat jahat manusia, melainkan oleh sistem internasional yang memaksa setiap negara untuk terus waspada demi bertahan hidup. Dok: Istimewa.

Struktur adalah takdir. Melalui lensa Neo-Realisme Kenneth Waltz, kita memahami bahwa konflik dunia bukan disebabkan oleh sifat jahat manusia, melainkan oleh sistem internasional yang memaksa setiap negara untuk terus waspada demi bertahan hidup. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Mengapa negara-negara besar tetap terlibat dalam perlombaan senjata meskipun mereka tidak memiliki niat untuk menyerang satu sama lain? Di tahun 2026, fenomena ini terlihat nyata dalam ketegangan di Pasifik dan Timur Tengah.

Untuk menjawabnya, kita harus meninggalkan analisis mengenai kepribadian pemimpin dan beralih ke teori Neo-Realisme Kenneth Waltz. Oleh karena itu, memahami “struktur” dunia adalah kunci guna membedah mengapa perdamaian abadi tetap menjadi utopia dalam sistem internasional.

1. Anarki: Sistem Tanpa “Polisi Dunia”

Berbeda dengan politik domestik yang memiliki pemerintah dan kepolisian, sistem internasional bersifat anarkis. Pasalnya, tidak ada otoritas tertinggi yang memiliki hak monopoli atas penggunaan kekerasan atau kemampuan untuk menegakkan hukum secara mutlak bagi seluruh negara berdaulat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Anarki dalam kacamata Waltz bukanlah kekacauan atau kerusuhan. Sebaliknya, anarki merupakan sebuah kondisi struktural di mana setiap negara berdiri setara secara hukum namun saling curiga secara politik. Akibatnya, setiap negara harus selalu berasumsi bahwa negara lain memiliki potensi untuk menjadi ancaman. Ketidakpastian mengenai niat lawan di masa depan menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat, terlepas dari seberapa ramah retorika diplomatik yang petugas sampaikan di depan publik.

Baca Juga :  Krisis Demografi Jepang: Angka Kelahiran 2025 Sentuh Titik Terendah dalam 126 Tahun

2. Prinsip Self-Help: Kewajiban Menolong Diri Sendiri

Karena tidak ada “Nomor Darurat 911” yang bisa negara hubungi saat terjadi serangan, maka setiap negara harus mengandalkan kekuatannya sendiri untuk bertahan hidup. Inilah yang Waltz sebut sebagai prinsip Self-Help.

Selanjutnya, kelangsungan hidup (survival) menjadi motif utama yang menggerakkan kebijakan luar negeri. Negara-negara tidak mengejar kekuasaan demi kesenangan semata, melainkan sebagai tameng untuk melindungi diri. Oleh sebab itu, kerja sama internasional sering kali sulit tercapai jika salah satu pihak merasa pihak lain akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar (relative gains). Ketakutan bahwa keuntungan mitra kerja sama dapat petugas gunakan untuk membangun kekuatan militer di masa depan membuat negara lebih memilih untuk mandiri secara ekonomi dan pertahanan.

3. Negara sebagai Unitary Actor: Fokus pada Kapabilitas

Salah satu poin paling radikal dari Neo-Realisme adalah pengabaian terhadap politik domestik. Waltz memandang negara sebagai Unitary Actor atau aktor tunggal yang serupa dalam fungsinya, layaknya bola biliar di atas meja pertandingan.

Baca Juga :  Otak Lebih Tajam dan Tunda Pikun: Inilah Keajaiban Menjadi Bilingual Menurut Sains

Dalam pandangan ini, ideologi, jenis pemerintahan (demokrasi atau otoriter), maupun kepribadian pimpinan negara tidak terlalu berpengaruh terhadap perilaku internasional. Negara-negara akan bertindak berdasarkan posisi mereka dalam distribusi kapabilitas global.

  • Distribusi Kapabilitas: Kekuatan sebuah negara petugas ukur dari sumber daya alam, populasi, ekonomi, dan militer.
  • Polaritas: Struktur dunia ditentukan oleh jumlah kutub kekuatan (unipolar, bipolar, atau multipolar).

Dengan demikian, perubahan kebijakan luar negeri biasanya dipicu oleh pergeseran kekuatan antar-negara, bukan karena pergantian presiden atau perdana menteri. Ketika sebuah negara tumbuh menjadi raksasa baru, sistem internasional secara otomatis akan menyeimbangkan diri (balancing) guna mencegah dominasi tunggal yang mengancam keselamatan unit-unit lainnya.

Kesimpulan: Tragedi di Balik Keamanan

Neo-Realisme menawarkan pandangan yang dingin namun objektif mengenai realitas dunia. Selama struktur internasional tetap anarkis, persaingan kekuatan akan selalu ada.

Pada akhirnya, negara-negara tidak akan pernah bisa benar-benar saling percaya sepenuhnya karena risiko pengkhianatan dalam sistem self-help terlalu mematikan. Tantangan bagi diplomat di tahun 2026 adalah bagaimana menjaga keseimbangan kekuatan agar tidak goyah, sehingga perdamaian dapat terjaga melalui kewaspadaan yang terukur, bukan melalui janji-janji persahabatan yang hampa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia
Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23
Militer Amerika Serikat Tembak Mati Gembong Kriminal

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 08:35 WIB

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Minggu, 14 Juni 2026 - 12:56 WIB

Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela

Berita Terbaru

Tandukan dramatis Daichi Kamada pada menit-menit akhir menyelamatkan Jepang dari kekalahan saat menghadapi Belanda pada laga pembuka Piala Dunia. Dok: (AP Photo/Julio Cortez)

SPORT

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Senin, 15 Jun 2026 - 08:35 WIB