JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Selama hampir satu abad, antibiotik telah menjadi fondasi utama bagi keselamatan manusia. Sejak penemuan penisilin, obat-obatan ini berhasil menyelamatkan jutaan nyawa dari infeksi yang dahulu mematikan. Namun, era keajaiban medis ini kini berada di ujung tanduk karena bakteri belajar untuk melawan balik.
Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai resistensi antibiotik. Kondisi tersebut bukan berarti tubuh manusia yang menjadi kebal terhadap obat, melainkan bakteri itu sendiri yang bermutasi secara genetik. Akibatnya, obat-obatan standar yang kita gunakan saat ini mulai kehilangan kemampuannya untuk menghentikan infeksi.
Ancaman Nyata: Lahirnya “Superbugs”
Secara alamiah, bakteri memang akan berevolusi untuk bertahan hidup. Namun, penggunaan obat yang berlebihan justru mempercepat proses seleksi alam ini. Saat seseorang mengonsumsi antibiotik, obat tersebut akan membunuh bakteri yang lemah. Sayangnya, bakteri yang memiliki mutasi pertahanan akan tetap bertahan hidup dan berkembang biak.
Bakteri-bakteri “pemenang” ini kemudian mewariskan sifat kekebalan mereka kepada keturunannya. Inilah yang melahirkan istilah Superbugs—bakteri yang mampu menahan serangan dari berbagai jenis antibiotik sekaligus. Bahkan, di banyak rumah sakit saat ini, dokter mulai menemukan kasus infeksi yang sama sekali tidak merespons terhadap jenis obat apa pun yang tersedia.
Akar Masalah: Perilaku Salah di Masyarakat
Krisis ini berakar kuat pada kebiasaan masyarakat yang kurang bijak dalam mengonsumsi obat. Salah satu penyebab utamanya adalah kecenderungan warga untuk membeli antibiotik secara bebas di apotek tanpa resep dokter. Banyak orang mengonsumsi antibiotik untuk mengatasi flu atau batuk pilek, padahal penyakit tersebut umumnya disebabkan oleh virus, bukan bakteri.
Selain itu, kebiasaan tidak menghabiskan dosis obat juga sangat berbahaya. Pasien sering kali berhenti minum antibiotik segera setelah merasa tubuhnya lebih bugar. Padahal, tindakan ini memberikan kesempatan bagi bakteri yang tersisa untuk mempelajari kelemahan obat dan bermutasi menjadi lebih kuat. Ketidakdisiplinan ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan jumlah bakteri resistan di lingkungan sekitar kita.
Dampak Jangka Panjang bagi Dunia Medis
Jika tren ini terus berlanjut, proyeksi medis di masa depan sangatlah suram. Organisasi kesehatan dunia memperkirakan bahwa pada tahun 2050, resistensi antibiotik dapat menyebabkan hingga 10 juta kematian setiap tahunnya. Angka ini jauh melampaui jumlah kematian akibat kanker saat ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan hanya itu, prosedur medis modern yang kita anggap aman akan menjadi sangat berisiko. Operasi sesar, transplantasi organ, hingga kemoterapi sangat bergantung pada antibiotik untuk mencegah infeksi pasca-tindakan. Tanpa pelindung yang efektif, tindakan-tindakan medis tersebut bisa menjadi hukuman mati bagi pasien karena risiko infeksi yang tidak terobati. Kita berisiko kembali ke “era pra-antibiotik” di mana luka kecil akibat cakaran kucing atau infeksi tenggorokan ringan bisa merenggut nyawa.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















