Politik Kartel: Saat Oposisi Hanya Menjadi Dekorasi Demokrasi

Selasa, 16 Desember 2025 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Koalisi gemuk, oposisi ompong. Politik kita sedang terjebak dalam

Ilustrasi, Koalisi gemuk, oposisi ompong. Politik kita sedang terjebak dalam "kartel" elit. Bahaya konsensus jahat yang bikin suara rakyat jadi tak berarti. Dok: Istirahat.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kita sering melihat pemandangan aneh di panggung politik nasional. Partai-partai yang bertarung sengit saat pemilu, tiba-tiba berpelukan mesra usai penghitungan suara. Seketika, lawan berubah menjadi kawan dalam sekejap mata.

Banyak orang menyebutnya sebagai rekonsiliasi demi persatuan. Namun, ilmu politik memiliki istilah yang lebih kritis dan menakutkan untuk fenomena ini: “Politik Kartel”.

Richard Katz dan Peter Mair, dua ilmuwan politik terkemuka, mencetuskan teori Partai Kartel ini. Menurut mereka, partai-partai politik bersatu bukan untuk kepentingan rakyat. Sebaliknya, mereka berkolusi untuk membatasi kompetisi dan membagi-bagi sumber daya negara di antara mereka sendiri.

Matinya Ideologi, Lahirnya Koalisi Gemuk

Ciri utama dari politik kartel sangat mudah kita kenali. Pertama, perbedaan ideologi yang tajam perlahan menghilang. Partai kanan, kiri, atau tengah kini terdengar sama saja.

Mereka tidak lagi berdebat soal gagasan atau kebijakan substantif. Justru, mereka sibuk bernegosiasi soal jatah kursi menteri.

Baca Juga :  Polri Gelar Apel Operasi MERDEKA JAYA-2025, Siap Amankan HUT RI ke-80

Kedua, munculnya koalisi “gemuk” di parlemen. Pemerintah merangkul hampir semua kekuatan politik untuk masuk ke dalam kekuasaan. Akibatnya, fungsi oposisi menjadi mandul. Oposisi hanya hadir sebagai dekorasi pemanis agar negara tetap terlihat demokratis di mata dunia.

Demokrasi Prosedural Tanpa Pilihan

Dampak dari sistem ini sangat fatal bagi kesehatan demokrasi. Demokrasi berubah menjadi sekadar prosedur formalitas. Pemilu tetap ada dan rutin setiap lima tahun.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akan tetapi, rakyat kehilangan pilihan kebijakan alternatif. Siapa pun yang menang, kebijakan negara tetap sama karena elit-elit yang mengendalikannya adalah orang yang itu-itu saja.

Partai baru pun kesulitan untuk muncul dan berkembang. Pasalnya, kartel partai lama membuat aturan main yang berat (seperti ambang batas parlemen tinggi) untuk menjegal pesaing baru masuk ke dalam gelanggang.

Apatisme: “Siapa pun Pemenangnya, Sama Saja”

Konsekuensi sosial dari politik kartel ini mulai terasa di akar rumput. Masyarakat menjadi apatis dan sinis terhadap politik.

Baca Juga :  Percobaan Pembunuhan Donald Trump: Cole Tomas Allen Terancam Penjara Seumur Hidup

Angka golput (golongan putih) atau pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya berpotensi meningkat. Alasannya sederhana, rakyat merasa frustrasi. Mereka berpikir, “Untuk apa capek-capek memilih jika akhirnya mereka semua bagi-bagi kue kekuasaan?”

Kepercayaan publik terhadap partai politik pun terjun bebas. Rakyat memandang politisi sebagai kelompok elit yang hanya peduli pada perut sendiri, bukan pada nasib konstituen.

Bahaya Konsensus Elit

Pada akhirnya, politik kartel adalah racun yang mematikan mekanisme check and balances. Tanpa oposisi yang kuat, pemerintah bisa bekerja tanpa pengawasan.

Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) menjadi lebih mudah terjadi karena semua pihak sudah “kebagian jatah” untuk diam. Ingatlah, demokrasi membutuhkan kompetisi yang sehat, bukan arisan kekuasaan antar-elit. Jika kartel ini terus berkuasa, suara rakyat hanya akan menjadi stempel karet bagi ambisi para oligark.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mesin Mati di Perlintasan, Mobil Antar Calon Haji Dihantam Kereta, 4 Orang Tewas
Satgas PHK Resmi Jalan, Dasco: Buruh Bisa Laporkan Upah hingga Ancaman PHK
Libur Panjang May Day, Contraflow Tol Jakarta-Cikampek Diperpanjang hingga KM 47–65
Keir Starmer Desak Publik Buka Mata Pasca-Teror Golders Green
AS Bentuk Koalisi Internasional untuk Paksa Buka Selat Hormuz
Review MacBook Pro M5, Laptop Workstation Paling Bertenaga di Tahun 2026
Jerome Powell Bertahan di Dewan Setelah Jabatan Berakhir guna Melawan Tekanan Trump
AS Tuding China Langgar Kedaulatan, Beijing Sebut Trump Munafik

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 18:10 WIB

Mesin Mati di Perlintasan, Mobil Antar Calon Haji Dihantam Kereta, 4 Orang Tewas

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:30 WIB

Satgas PHK Resmi Jalan, Dasco: Buruh Bisa Laporkan Upah hingga Ancaman PHK

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:15 WIB

Libur Panjang May Day, Contraflow Tol Jakarta-Cikampek Diperpanjang hingga KM 47–65

Jumat, 1 Mei 2026 - 15:19 WIB

Keir Starmer Desak Publik Buka Mata Pasca-Teror Golders Green

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:58 WIB

AS Bentuk Koalisi Internasional untuk Paksa Buka Selat Hormuz

Berita Terbaru

Inggris dalam siaga tinggi. PM Keir Starmer menjanjikan tindakan tegas terhadap ekstremisme dan pendanaan keamanan tambahan sebesar £25 juta setelah serangan penikaman brutal yang menargetkan komunitas Yahudi di London Utara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Keir Starmer Desak Publik Buka Mata Pasca-Teror Golders Green

Jumat, 1 Mei 2026 - 15:19 WIB

Ketegangan di jalur nadi dunia. Amerika Serikat menggalang kekuatan internasional melalui Maritime Freedom Construct (MFC) untuk membuka kembali Selat Hormuz yang tersumbat, sementara harga minyak Brent melonjak hingga USD 126 per barel. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Bentuk Koalisi Internasional untuk Paksa Buka Selat Hormuz

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:58 WIB