ISLAMABAD, POSNEWS.CO.ID – Harapan bagi de-eskalasi konflik Timur Tengah kini bergeser ke ibu kota Pakistan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, secara resmi mendarat di Islamabad pada Jumat malam guna menyerahkan proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang.
Dalam konteks ini, kunjungan tersebut merupakan bagian dari tur regional Araqchi ke Oman dan Rusia. Oleh karena itu, Pakistan kini menjadi pusat gravitasi diplomasi global yang berupaya menjembatani kebuntuan antara Teheran dan Washington pada tahun 2026.
Sinyal Positif Gedung Putih: Pengiriman Tim Kushner
Meskipun sumber internal Pakistan menyebut belum ada jadwal pertemuan langsung, Washington memberikan sinyal optimis. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi bahwa utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner akan berangkat ke Pakistan pada Sabtu pagi.
Bahkan, Wakil Presiden JD Vance menyatakan kesiapannya untuk bergabung dalam negosiasi jika pembicaraan awal menunjukkan kemajuan nyata. “Kami melihat adanya perkembangan dari pihak Iran dalam beberapa hari terakhir,” ujar Leavitt. Amerika Serikat berupaya mendesak Iran agar menghentikan program senjata nuklirnya secara terverifikasi sebagai syarat mutlak pencabutan blokade.
Krisis Selat Hormuz: Navigasi di Titik Nadir
Di medan tempur ekonomi, penutupan Selat Hormuz telah memicu guncangan minyak terburuk dalam sejarah. Data pelacakan kapal pada hari Jumat menunjukkan skala kelumpuhan yang sangat mengerikan. Hanya lima kapal yang melintasi selat tersebut dalam 24 jam terakhir, berbanding rata-rata 130 kapal per hari sebelum perang.
Akibatnya, harga minyak mentah Brent tertahan di angka $105,11 per barel. Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Washington tidak terburu-buru mencapai kesepakatan. Namun, ia bersikeras bahwa Amerika Serikat memegang kendali penuh atas situasi di Teluk. “Kami menginginkan kesepakatan yang abadi,” tegas Trump di sela-sela pemantauan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran yang telah berjalan selama satu pekan.
Hezbollah Tolak Perpanjangan Gencatan Senjata Lebanon
Situasi kian rumit karena eskalasi di front Lebanon. Meskipun pemerintah Israel dan Lebanon menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama tiga pekan di Gedung Putih, kelompok Hezbollah secara tegas menolaknya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara khusus, anggota parlemen Hezbollah, Ali Fayyad, melabeli gencatan senjata tersebut sebagai sesuatu yang “tidak bermakna”. Sebab, Israel dianggap terus melakukan tindakan agresif, termasuk penghancuran desa-desa di wilayah selatan. Militer Israel melaporkan telah menewaskan enam anggota bersenjata Hezbollah pada hari Jumat, sementara Hezbollah mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah drone milik Israel.
Peran Qatar dan Nasib Perundingan 15 Poin
Di balik layar, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani terus melakukan koordinasi intensif dengan Donald Trump. Qatar berkomitmen untuk mendukung penuh upaya mediasi yang dipimpin oleh Pakistan. Meskipun demikian, nasib “Proposal 15 Poin” milik Amerika Serikat masih belum mendapatkan jawaban pasti dari pihak Teheran.
Pada akhirnya, keberhasilan misi Araqchi di Islamabad akan menentukan apakah gencatan senjata dua pekan yang Trump berikan akan berlanjut menjadi perdamaian permanen. Dunia kini memantau apakah kehadiran tim keamanan AS di Islamabad mampu mencairkan ketegangan nuklir di tahun 2026. Tanpa adanya terobosan di meja makan malam ini, risiko pecahnya perang darat skala penuh kembali membayangi kawasan Timur Tengah.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















