CARACAS, POSNEWS.CO.ID – Sinyal perdamaian dan tekanan militer datang bersamaan di Venezuela pada Jumat pagi. Sementara Marinir AS menyita kapal tanker minyak kelima di Laut Karibia, sebuah pesawat yang membawa tim diplomat Amerika mendarat di Caracas dengan misi bersejarah: menjajaki pembukaan kembali kedutaan besar yang telah tertutup debu sejak 2019.
Langkah ganda ini menandai fase baru dalam krisis Venezuela. Presiden AS Donald Trump, melalui platform Truth Social, mengumumkan pembatalan “Gelombang Serangan Kedua” yang sebelumnya ia rencanakan.
Alasannya pragmatis. Trump memuji “kerja sama” dari Presiden Interim Venezuela, Delcy Rodriguez. Menurutnya, kedua belah pihak kini bekerja sama dengan baik, terutama dalam membebaskan tahanan politik dan membangun kembali infrastruktur minyak yang hancur.
“Karena kerja sama ini, saya telah membatalkan Gelombang Serangan kedua yang sebelumnya diharapkan,” tulis Trump.
Diplomasi di Ujung Laras Senapan
Meskipun serangan batal, tekanan militer tetap mencekik. Kapal tanker Olina menjadi korban terbaru. Pasukan Gabungan Southern Spear menyita kapal tersebut dalam operasi fajar tanpa perlawanan, diluncurkan dari kapal induk USS Gerald R. Ford.
Trump menegaskan kapal-kapal perang AS akan tetap berada di posisi mereka demi “keselamatan dan keamanan”. Faktanya, penumpukan militer AS di Karibia saat ini adalah yang terbesar dalam lebih dari tiga dekade.
Di darat, suasananya sedikit lebih cair. Pejabat AS mengonfirmasi kedatangan John McNamara, chargĂ© d’affaires dari Unit Urusan Venezuela, untuk melakukan penilaian awal di Caracas. Ini adalah langkah konkret pertama menuju normalisasi hubungan diplomatik pasca-Maduro.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Janji Manis “Big Oil”
Di balik manuver militer, motif ekonomi menyeruak tajam. Trump sesumbar kepada Fox News bahwa AS akan mendapatkan “miliaran dan miliaran dolar minyak”. Ia bahkan menjanjikan investasi setidaknya $100 miliar dari perusahaan minyak raksasa (Big Oil) untuk membangkitkan industri energi Venezuela.
Menteri Energi AS Chris Wright memperjelas skemanya pada hari Rabu. AS tidak hanya akan memasarkan minyak yang tersimpan, tetapi juga akan mengontrol penjualan output minyak dari negara tersebut tanpa batas waktu.
Respons Caracas: Dialog “Eksplorasi”
Pemerintah Venezuela merespons dengan hati-hati. Menteri Luar Negeri Yvan Gil mengumumkan dimulainya proses diplomatik “eksplorasi” dengan Washington. Tujuannya adalah membahas konsekuensi dari agresi—termasuk nasib Maduro—sekaligus menyusun agenda kerja untuk kepentingan bersama.
Di sisi lain, Delcy Rodriguez tidak ingin terlihat sendirian. Ia mengintensifkan komunikasi dengan pemimpin regional dan Eropa. Rodriguez telah berbicara via telepon dengan Presiden Brazil Lula da Silva, Presiden Kolombia Gustavo Petro, dan PM Spanyol Pedro Sanchez.
Dalam pembicaraan tersebut, Rodriguez tetap menggunakan retorika keras, menyebut aksi AS sebagai “agresi kriminal yang parah”. Namun, ia sepakat dengan para pemimpin tersebut mengenai perlunya memajukan agenda kerja sama berbasis rasa hormat.
Venezuela kini berada di persimpangan jalan: menerima kucuran dolar minyak di bawah kendali Washington, atau mempertahankan kedaulatan di tengah kepungan kapal induk.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















