AS-Iran di Ambang Perang: Teheran Tuntut Perubahan

Rabu, 4 Februari 2026 - 15:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diplomasi di titik kritis. Iran menuntut pemindahan lokasi perundingan ke Oman sementara militer AS menembak jatuh drone yang mendekati kapal induk di Laut Arab. Dok: Istimewa.

Diplomasi di titik kritis. Iran menuntut pemindahan lokasi perundingan ke Oman sementara militer AS menembak jatuh drone yang mendekati kapal induk di Laut Arab. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah serangkaian insiden militer dan perdebatan diplomatik mengenai format perundingan. Secara mengejutkan, Teheran menuntut agar Washington memindahkan lokasi pembicaraan pekan ini ke Oman, bukan di Istanbul, Turki.

Selain itu, seorang sumber regional mengungkapkan bahwa Iran berupaya mempersempit cakupan negosiasi hanya pada masalah nuklir saja. Sebaliknya, Amerika Serikat tetap ingin memasukkan topik krusial lainnya seperti program rudal balistik dan aktivitas proksi Iran di kawasan tersebut. Akibat perubahan mendadak ini, banyak pihak mulai meragukan kelanjutan pertemuan yang seharusnya berlangsung pada Jumat mendatang.

Insiden Drone dan Ketegangan di Laut Arab

Sementara itu, situasi di lapangan semakin mencekam setelah militer Amerika Serikat menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln secara “agresif”. Jet tempur F-35 menembak jatuh drone jenis Shahed-139 tersebut di atas Laut Arab pada Selasa (3/2/2026). Insiden ini pun menjadi titik puncak dari kehadiran militer AS yang semakin masif di Timur Tengah.

Selain insiden udara, Komando Pusat AS melaporkan gangguan oleh pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) terhadap kapal dagang berbendera AS di Selat Hormuz. Bahkan, Reuters pertama kali melaporkan bahwa dua kapal cepat IRGC dan sebuah drone Mohajer mendekati kapal M/V Stena Imperative dengan kecepatan tinggi serta mengancam akan menyita tanker tersebut. Oleh karena itu, Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa “hal buruk” kemungkinan akan terjadi jika kedua pihak gagal mencapai kesepakatan diplomatik.

Baca Juga :  Jakarta Running Festival 2025, Dishub Tutup 10 Ruas Jalan, Ini Rute Alternatifnya

Keterlibatan Jared Kushner dan Tekanan Internal Teheran

Meskipun ketegangan militer meningkat, kedua belah pihak tetap mengupayakan jalur diplomatik di belakang layar. Presiden Trump menjadwalkan menantunya, Jared Kushner, untuk ikut serta dalam pembicaraan tersebut bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Di samping itu, pihak penyelenggara juga mengundang sejumlah menteri dari negara regional seperti Pakistan, Arab Saudi, Qatar, Mesir, dan UEA untuk hadir guna meredam eskalasi.

Namun, kepemimpinan di Teheran kini menghadapi tekanan internal yang sangat hebat. Enam pejabat Iran menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sangat khawatir serangan AS dapat memicu kembali kemarahan publik yang sudah meluap. Bahkan, empat pejabat menilai kemarahan publik atas penumpasan demonstrasi bulan lalu telah mencapai titik di mana rasa takut tidak lagi menghalangi massa untuk turun ke jalan.

Baca Juga :  Sejarah Panjang Opium dan Perang Melawan Adiksi

Syarat Perundingan dan Stabilitas Kawasan

Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) melalui penasihat presiden Anwar Gargash mendesak agar semua pihak menghindari konflik baru. Gargash mendorong adanya negosiasi langsung antara Iran dan Amerika Serikat demi mencapai pemahaman jangka panjang yang stabil. Oleh sebab itu, ia menyarankan agar Iran segera membangun kembali hubungan dengan Washington guna memperbaiki ekonomi mereka yang hancur akibat sanksi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hingga saat ini, hambatan utama tetap terletak pada prasyarat perundingan. Trump menuntut tiga syarat utama: penghentian total pengayaan uranium, pembatasan program rudal balistik, dan penghentian dukungan terhadap proksi regional. Meskipun Iran secara resmi menolak tuntutan tersebut, beberapa pejabat Teheran mengisyaratkan adanya fleksibilitas pada isu nuklir jika perundingan berlangsung tanpa tekanan prasyarat yang mereka anggap melanggar kedaulatan negara.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tawuran Jakarta Membara, Polda Metro Jaya Tangkap 105 Pelaku dan Sita Puluhan Sajam
OTT Bea Cukai, KPK Sita Uang Miliaran dan 3 Kg Emas – Mantan Pejabat Eselon II Diamankan
Densus 88 Bongkar Aksi Kekerasan Siswa SMP Sungai Raya, 5 Gas Portabel dan 6 Molotov Disiapkan
Bisnis Gelap Etomidate Dibongkar, 82 Paket Disita dari Dua Perempuan
Racun Ditemukan di Minuman, Polisi Ungkap Titik Terang Kematian Satu Keluarga di Warakas
Memecahkan Dilema Darwin: Jejak Hewan Pertama
Bagaimana 382 Kilogram Batu Bulan Mengubah Tata Surya?
Balas Dendam Bullying, Siswa SMP di Kalbar Diduga Serang Sekolah Pakai Molotov

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 20:29 WIB

Tawuran Jakarta Membara, Polda Metro Jaya Tangkap 105 Pelaku dan Sita Puluhan Sajam

Rabu, 4 Februari 2026 - 20:04 WIB

OTT Bea Cukai, KPK Sita Uang Miliaran dan 3 Kg Emas – Mantan Pejabat Eselon II Diamankan

Rabu, 4 Februari 2026 - 19:42 WIB

Densus 88 Bongkar Aksi Kekerasan Siswa SMP Sungai Raya, 5 Gas Portabel dan 6 Molotov Disiapkan

Rabu, 4 Februari 2026 - 19:24 WIB

Bisnis Gelap Etomidate Dibongkar, 82 Paket Disita dari Dua Perempuan

Rabu, 4 Februari 2026 - 18:24 WIB

Racun Ditemukan di Minuman, Polisi Ungkap Titik Terang Kematian Satu Keluarga di Warakas

Berita Terbaru