WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah serangkaian insiden militer dan perdebatan diplomatik mengenai format perundingan. Secara mengejutkan, Teheran menuntut agar Washington memindahkan lokasi pembicaraan pekan ini ke Oman, bukan di Istanbul, Turki.
Selain itu, seorang sumber regional mengungkapkan bahwa Iran berupaya mempersempit cakupan negosiasi hanya pada masalah nuklir saja. Sebaliknya, Amerika Serikat tetap ingin memasukkan topik krusial lainnya seperti program rudal balistik dan aktivitas proksi Iran di kawasan tersebut. Akibat perubahan mendadak ini, banyak pihak mulai meragukan kelanjutan pertemuan yang seharusnya berlangsung pada Jumat mendatang.
Insiden Drone dan Ketegangan di Laut Arab
Sementara itu, situasi di lapangan semakin mencekam setelah militer Amerika Serikat menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln secara “agresif”. Jet tempur F-35 menembak jatuh drone jenis Shahed-139 tersebut di atas Laut Arab pada Selasa (3/2/2026). Insiden ini pun menjadi titik puncak dari kehadiran militer AS yang semakin masif di Timur Tengah.
Selain insiden udara, Komando Pusat AS melaporkan gangguan oleh pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) terhadap kapal dagang berbendera AS di Selat Hormuz. Bahkan, Reuters pertama kali melaporkan bahwa dua kapal cepat IRGC dan sebuah drone Mohajer mendekati kapal M/V Stena Imperative dengan kecepatan tinggi serta mengancam akan menyita tanker tersebut. Oleh karena itu, Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa “hal buruk” kemungkinan akan terjadi jika kedua pihak gagal mencapai kesepakatan diplomatik.
Keterlibatan Jared Kushner dan Tekanan Internal Teheran
Meskipun ketegangan militer meningkat, kedua belah pihak tetap mengupayakan jalur diplomatik di belakang layar. Presiden Trump menjadwalkan menantunya, Jared Kushner, untuk ikut serta dalam pembicaraan tersebut bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Di samping itu, pihak penyelenggara juga mengundang sejumlah menteri dari negara regional seperti Pakistan, Arab Saudi, Qatar, Mesir, dan UEA untuk hadir guna meredam eskalasi.
Namun, kepemimpinan di Teheran kini menghadapi tekanan internal yang sangat hebat. Enam pejabat Iran menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sangat khawatir serangan AS dapat memicu kembali kemarahan publik yang sudah meluap. Bahkan, empat pejabat menilai kemarahan publik atas penumpasan demonstrasi bulan lalu telah mencapai titik di mana rasa takut tidak lagi menghalangi massa untuk turun ke jalan.
Syarat Perundingan dan Stabilitas Kawasan
Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) melalui penasihat presiden Anwar Gargash mendesak agar semua pihak menghindari konflik baru. Gargash mendorong adanya negosiasi langsung antara Iran dan Amerika Serikat demi mencapai pemahaman jangka panjang yang stabil. Oleh sebab itu, ia menyarankan agar Iran segera membangun kembali hubungan dengan Washington guna memperbaiki ekonomi mereka yang hancur akibat sanksi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga saat ini, hambatan utama tetap terletak pada prasyarat perundingan. Trump menuntut tiga syarat utama: penghentian total pengayaan uranium, pembatasan program rudal balistik, dan penghentian dukungan terhadap proksi regional. Meskipun Iran secara resmi menolak tuntutan tersebut, beberapa pejabat Teheran mengisyaratkan adanya fleksibilitas pada isu nuklir jika perundingan berlangsung tanpa tekanan prasyarat yang mereka anggap melanggar kedaulatan negara.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















