Sejarah Panjang Opium dan Perang Melawan Adiksi

Minggu, 28 Desember 2025 - 05:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dulu dianggap obat ajaib, kini jadi musuh dunia. Simak sejarah candu dari Mesir Kuno hingga epidemi heroin modern. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Dulu dianggap obat ajaib, kini jadi musuh dunia. Simak sejarah candu dari Mesir Kuno hingga epidemi heroin modern. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID Bunga poppy yang cantik menyimpan rahasia kelam di balik kelopaknya. Getah susu yang mengering dari bijinya menghasilkan zat bernama opium atau candu. Zat ini memiliki warna yang bervariasi, mulai dari kuning hingga coklat tua, dengan rasa pahit yang khas.

Komponen utamanya adalah morfin, sebuah alkaloid kuat yang menjadi bahan dasar heroin. Selain itu, getah poppy juga mengandung kodein dan alkaloid non-narkotika lainnya.

Sejarah manusia dengan candu sangatlah panjang dan rumit. Zat ini pernah dipuja sebagai “obat dewa” penyembuh segala penyakit. Namun, seiring berjalannya waktu, ia berubah wajah menjadi racun yang menghancurkan jutaan nyawa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jejak Sejarah: Mesir hingga Perang Saudara AS

Penggunaan opium telah terlacak sejak zaman Neolitikum. Bangsa Mesir Kuno menggunakannya sebagai analgesik atau pereda nyeri. Begitu pula bangsa India dan Romawi yang memanfaatkannya selama prosedur bedah.

Bahkan, selama Perang Saudara Amerika (American Civil War), opium dan turunannya menjadi andalan dokter untuk merawat tentara yang terluka. Hingga hari ini, dunia medis modern masih bergantung pada morfin dan opioid sintetis sebagai obat penghilang rasa sakit paling ampuh.

Baca Juga :  Produk Masih Dijual Bebas, Dokter Detektif Desak Penahanan Richard Lee

Meskipun ilmu kedokteran telah berkembang pesat, bentuk paling mentah dari opium, yakni morfin, tetap tak tergantikan dalam manajemen nyeri kronis.

Euforia yang Menjebak

Dampak candu pada tubuh bagaikan pedang bermata dua. Awalnya, pengguna merasakan euforia, relaksasi, dan kenyamanan yang luar biasa. Sayangnya, kenikmatan sesaat itu menuntut bayaran mahal.

Penggunaan jangka panjang memicu kecanduan fisik yang parah. Kerusakan paru-paru akibat merokok candu sering terjadi. Lebih parah lagi, overdosis opium atau heroin dapat menyebabkan kematian mendadak.

Bahaya ini sering kali tidak disadari hingga bertahun-tahun kemudian. Namun bagi sebagian orang, efek mematikannya bisa datang seketika.

Geopolitik Ladang Poppy

Perjalanan heroin menuju jalanan kota besar bermula dari ladang-ladang terpencil. Petani miskin di wilayah pegunungan gersang menanam bunga poppy demi menyambung hidup.

Mayoritas ladang opium ilegal terbentang di jalur pegunungan sepanjang 4.500 mil yang melintasi Turki, Pakistan, hingga Burma. Belakangan ini, budidaya juga merambah ke Amerika Latin, khususnya Kolombia dan Meksiko.

Petani menjual panen mereka ke pengepul desa dengan harga murah. Selanjutnya, sindikat narkoba mengolah dan mendistribusikannya ke seluruh dunia.

Di sisi lain, produksi opium legal untuk kebutuhan medis berlangsung di India, Turki, dan Australia. Sekitar 2.000 ton opium diproduksi setiap tahun untuk industri farmasi. Metode panen pun telah berevolusi dari goresan tangan manual menjadi mesin canggih.

Baca Juga :  Trump Beri Ultimatum Greenland, Pilih Cara Mudah atau Keras

China dan Kesadaran Bahaya

China memiliki sejarah pahit dengan candu. Zat ini digunakan untuk tujuan rekreasi sejak abad ke-15. Namun, butuh waktu hampir 300 tahun bagi masyarakat Tiongkok untuk menyadari bahaya fisiknya.

Pada 1909, Komisi Opium Internasional akhirnya terbentuk. Dunia mulai sadar bahwa pemurnian opium menjadi morfin dan heroin justru menciptakan zat yang jauh lebih berbahaya daripada aslinya. Akibatnya, penggunaan rekreasi obat-obatan ini kini ilegal di hampir seluruh negara.

Jalan Panjang Pemulihan

Dulu, orang tidak terlalu khawatir tentang ketergantungan fisik. Kini, bahaya itu sudah sangat nyata dan diakui.

Dunia medis menawarkan berbagai metode pemulihan bagi para pecandu. Perawatan rawat inap (inpatient) sering menjadi fondasi utama. Program ini menggunakan konseling intensif, baik individu maupun kelompok.

Setelah itu, pasien melanjutkan terapi di fasilitas rawat jalan untuk menjaga ketahanan mental mereka. Perjuangan melawan candu adalah maraton seumur hidup, bukan lari cepat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark
Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap
AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal
Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun
Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya
Lebih 202 Ribu Jemaah Indonesia Siap Jalani Puncak Haji Armuzna
Marinir AS Uji HIMARS untuk Tangkal Agresi China
Sopir Diduga Mengantuk, Innova Rombongan DPR RI Hantam Dump Truk

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:57 WIB

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:55 WIB

Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya

Berita Terbaru

Taylor Swift hingga Matthew McConaughey kini menggunakan hukum merek dagang untuk melindungi wajah dan suara mereka dari kloning kecerdasan buatan. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Pemerintahan Donald Trump mewajibkan warga asing yang mencari izin tinggal tetap (green card) untuk meninggalkan Amerika Serikat dan mengajukan aplikasi dari negara asal mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

Tragedi di kedalaman bumi. Ledakan gas dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, China, merenggut setidaknya 90 nyawa, memicu seruan Presiden Xi Jinping untuk memperketat standar keselamatan kerja nasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB