AS Usul Zona Ekonomi Bebas di Donbas, Zelenskyy: Siapa yang Jamin Rusia Tidak Menyerbu?

Jumat, 12 Desember 2025 - 05:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ukraina dan Rusia saling tuduh melancarkan serangan mematikan pada Minggu, sementara Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebut Moskow mengancam. Dok: Istimewa.

Ukraina dan Rusia saling tuduh melancarkan serangan mematikan pada Minggu, sementara Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebut Moskow mengancam. Dok: Istimewa.

KYIV, POSNEWS.CO.ID – Tekanan diplomatik terhadap Kyiv terus bergulir liar. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengungkapkan proposal terbaru dari Amerika Serikat (AS) pada Kamis (11/12/2025).

Washington kini menyodorkan opsi kompromi yang berisiko. Intinya, AS meminta pasukan Ukraina untuk menarik diri dari wilayah Donbas yang masih mereka kuasai. Sebagai gantinya, area tersebut akan berubah status menjadi “Zona Ekonomi Bebas” atau zona demiliterisasi.

Rencana ini berbeda dari usulan sebelumnya yang menuntut penyerahan wilayah secara langsung ke Rusia. Menurut skema baru ini, pasukan Rusia juga tidak boleh merangsek maju ke wilayah yang ditinggalkan Ukraina.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Zelenskyy: Siapa yang Menjamin?

Meskipun terdengar seperti jalan tengah, Zelenskyy menanggapi ide tersebut dengan skeptis. Ia mempertanyakan siapa yang akan mengelola dan menjamin keamanan zona tersebut.

Baca Juga :  Iran Siap Negosiasi, Trump Tetapkan Deadline Rahasia

“Mereka menyebutnya ‘zona ekonomi bebas’ atau ‘zona demiliterisasi’, tapi mereka tidak tahu siapa yang akan memerintahnya,” ujar Zelenskyy kepada wartawan di Kyiv.

Kekhawatiran utama Ukraina sangat beralasan. Jika satu pihak mundur sementara pihak lain tetap di tempat, siapa yang bisa menahan pasukan Rusia?

“Apa yang akan menghentikan mereka menyamar sebagai warga sipil dan mengambil alih zona ekonomi bebas ini? Ini semua sangat serius,” tegasnya. Oleh karena itu, ia menuntut jaminan keamanan yang konkret sebelum menyetujui kompromi apa pun.

Referendum Rakyat Adalah Kunci

Zelenskyy juga menegaskan bahwa keputusan sepenting ini tidak bisa ia ambil sendirian. Jika Ukraina harus menyetujui skema penarikan pasukan, rakyatlah yang harus memberikan mandat.

“Hanya rakyat Ukraina yang bisa membuat keputusan tentang konsesi wilayah,” katanya. Artinya, ia mengisyaratkan perlunya pemilihan umum atau referendum nasional untuk meratifikasi kesepakatan tersebut.

Baca Juga :  Swiss Gelar Perundingan Rahasia Rusia, Ukraina, dan AS

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan frustrasi Presiden Donald Trump. “Presiden sangat frustrasi dengan kedua belah pihak dalam perang ini. Ia muak dengan pertemuan yang hanya sekadar pertemuan,” ungkap Leavitt.

Peringatan NATO: Ancaman Perang Eropa

Di Berlin, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte memberikan peringatan keras. Ia menyebut Eropa telah “terlena dalam diam” terhadap ancaman Rusia.

Menurut Rutte, membiarkan Putin menang di Ukraina akan membuat prospek perang di Eropa semakin nyata. “Perang baru oleh Rusia bisa terjadi dalam lima tahun ke depan dengan skala yang mengerikan,” ujarnya.

Kini, bola panas kembali bergulir. Zelenskyy menyebut timnya telah mengirimkan proposal revisi kembali ke Washington. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah Vladimir Putin benar-benar siap berdamai, atau hanya membeli waktu untuk mempersiapkan serangan musim dingin yang lebih mematikan?

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Drone Rusia Hantam Pusat Perbelanjaan Ukraina
AS Berlakukan Tarif 50% ke Kanada, Ottawa Langsung Balas
Tabrakan Maut di Inggris Utara Tewaskan Tujuh Orang
Hakim Federal AS Batalkan Kebijakan Larangan Visa
Serangan Drone Ukraina Tewaskan 10 Orang di Rusia
Kanada Balas Tarif AS dengan Pajak Impor Baja dan Elektronik
Iran Kecam Rencana Sanksi Baru Amerika Serikat
Israel Sampaikan Kekhawatiran Keamanan Terkait Hamas

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:10 WIB

Serangan Drone Rusia Hantam Pusat Perbelanjaan Ukraina

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:00 WIB

AS Berlakukan Tarif 50% ke Kanada, Ottawa Langsung Balas

Minggu, 23 Agustus 2026 - 18:30 WIB

Tabrakan Maut di Inggris Utara Tewaskan Tujuh Orang

Minggu, 23 Agustus 2026 - 17:30 WIB

Serangan Drone Ukraina Tewaskan 10 Orang di Rusia

Minggu, 23 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Kanada Balas Tarif AS dengan Pajak Impor Baja dan Elektronik

Berita Terbaru

Serangan drone Rusia menewaskan 15 orang di pusat perbelanjaan Kryvyi Rih, kampung halaman Zelenskyy, yang berjanji memberikan respons tegas. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Serangan Drone Rusia Hantam Pusat Perbelanjaan Ukraina

Minggu, 23 Agu 2026 - 20:10 WIB

Direktur Tindak Pidana Tertentu (Dirtipidter) Bareskrim Polri Brigjen Mohammad Irhamni. (Posnews/Bareskrim)

HUKRIM

Karhutla Menggila, Polri Tetapkan 72 Tersangka di 9 Polda

Minggu, 23 Agu 2026 - 19:58 WIB

Petugas mengevakuasi warga terdampak gempa M7,7 di Nusa Tenggara Timur. (Posnews/BNPB)

NASIONAL

BNPB Ungkap Data Terbaru Gempa NTT: 91 Meninggal, 1.286 Luka

Minggu, 23 Agu 2026 - 19:39 WIB

Amerika Serikat memberlakukan tarif 50 persen atas produk Kanada senilai $20 miliar, memicu balasan langsung dari Ottawa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Berlakukan Tarif 50% ke Kanada, Ottawa Langsung Balas

Minggu, 23 Agu 2026 - 19:00 WIB

Tabrakan maut di jalan raya A66, Inggris timur laut, menewaskan tujuh orang termasuk dua petugas polisi setelah aksi kejar-kejaran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Tabrakan Maut di Inggris Utara Tewaskan Tujuh Orang

Minggu, 23 Agu 2026 - 18:30 WIB