Buntu di Kremlin: Putin Ancam Eropa Kalah Cepat, Tolak Proposal Damai Tandingan

Kamis, 4 Desember 2025 - 05:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Klarifikasi dari perbatasan timur. Rusia membantah keras tuduhan memaksa Belarus untuk ikut bertempur dalam perang Ukraina di tengah meningkatnya pasokan bahan bakar hulu. Dok: Istimewa.

Klarifikasi dari perbatasan timur. Rusia membantah keras tuduhan memaksa Belarus untuk ikut bertempur dalam perang Ukraina di tengah meningkatnya pasokan bahan bakar hulu. Dok: Istimewa.

MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan di Eropa Timur mencapai titik didih baru. Presiden Rusia Vladimir Putin menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, pada Selasa (02/12/2025).

Pertemuan di Kremlin tersebut berlangsung alot selama lebih dari empat jam hingga melewati tengah malam. Tujuannya jelas, mereka mencari jalan keluar untuk mengakhiri konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.

Namun, suasana pertemuan justru terasa panas. Tepat sebelum pintu tertutup, Putin melontarkan peringatan mengerikan kepada Benua Biru. Ia menyebut Eropa akan menghadapi “kekalahan cepat” jika berani berperang melawan Rusia.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Putin Tuduh Eropa Sabotase Damai

Putin tidak menahan diri dalam retorikanya. Ia menuduh kekuatan Eropa berusaha menyabotase upaya perdamaian Donald Trump. Pasalnya, negara-negara Eropa mengajukan proposal tandingan yang dianggap Moskow tidak masuk akal.

“Mereka berada di pihak perang,” tegas Putin.

Baca Juga :  Remaja 17 Tahun Disekap di Ancol, Polisi Fokus Pemulihan Psikologis Korban

Menurutnya, perubahan-perubahan yang Eropa ajukan dalam draf perdamaian hanya bertujuan satu hal: memblokir proses damai sepenuhnya. Oleh karena itu, Putin menolak mentah-mentah usulan tersebut sebagai sesuatu yang “sangat tidak dapat diterima” bagi Rusia.

“Rusia tidak menginginkan perang dengan Eropa. Akan tetapi, jika Eropa memulainya, itu akan berakhir begitu cepat hingga tidak ada seorang pun yang tersisa untuk bernegosiasi,” ancamnya dingin.

Trump: “Situasinya Kacau Balau”

Di Washington, Presiden Donald Trump tampak frustrasi dengan lambatnya kemajuan. Awalnya, ia berharap bisa segera mengakhiri perang lewat diplomasi personal.

“Orang-orang kami ada di Rusia sekarang untuk melihat apakah kita bisa menyelesaikannya. Situasinya tidak mudah, percayalah. Benar-benar kacau (what a mess),” ujar Trump dalam rapat kabinet.

Trump menyoroti tingginya angka korban jiwa yang mencapai 25.000 hingga 30.000 orang per bulan. Sayangnya, upaya sebelumnya, termasuk pertemuan puncak di Alaska dan diskusi dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, belum membuahkan hasil nyata.

Sengketa Proposal 28 Poin

Inti permasalahan terletak pada draf proposal perdamaian. Sebelumnya, bocoran rencana 28 poin dari AS memicu kemarahan di Kyiv dan Eropa. Draf itu dinilai terlalu tunduk pada tuntutan Moskow, seperti kontrol Rusia atas seperlima wilayah Ukraina dan pembatasan militer Kyiv.

Baca Juga :  Trump Bubarkan Riset Iklim NCAR, Tuduh Ilmuwan Sebarkan Alarmisme

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kemudian memimpin upaya revisi untuk mengakomodasi keberatan sekutu. Hasilnya, AS dan Ukraina menyepakati “kerangka kerja perdamaian yang diperbarui” di Jenewa. Namun, draf revisi inilah yang kini ditolak Putin di Moskow.

Ancaman Blokade Laut Hitam

Selain isu proposal, Putin juga menebar ancaman baru di medan tempur. Ia mengancam akan memutus akses Ukraina ke laut sepenuhnya.

Langkah ini merupakan balasan atas serangan drone Ukraina terhadap kapal tanker “armada bayangan” (shadow fleet) Rusia di Laut Hitam. Merespons hal ini, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menilai ucapan Putin sebagai bukti bahwa Moskow belum siap berdamai.

Kini, negosiasi berada di ujung tanduk. Putin menyebut pembicaraan sejauh ini baru sebatas “dasar untuk perjanjian masa depan”, bukan kesepakatan final. Jika Ukraina menolak syarat Moskow, pasukan Rusia siap merangsek lebih jauh untuk mencaplok wilayah baru.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Reuters

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman
PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit
Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk
Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant
Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang
Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen
Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:01 WIB

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:51 WIB

Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant

Berita Terbaru

MSI meluncurkan lini hardware premium DRACO EPIC EDITION untuk memperingati ulang tahun ke-40 perusahaan. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

MSI Rilis Seri DRACO EPIC EDITION Sambut Ulang Tahun

Sabtu, 8 Agu 2026 - 15:59 WIB