JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Konsumen biasanya menyambut gembira kabar penurunan harga barang. Dompet terasa lebih tebal saat harga cabai, telur, atau baju turun. Namun, cerita berbeda terjadi belakangan ini.
Indonesia mengalami deflasi selama beberapa bulan berturut-turut pada periode 2024 hingga 2025. Sepintas, statistik ini terlihat seperti prestasi pengendalian harga yang sukses.
Padahal, tren ini justru menyalakan sinyal bahaya bagi kesehatan ekonomi kita. Kita sedang tidak baik-baik saja. Penurunan harga kali ini bukan tanda kemakmuran, melainkan gejala “sakit” pada daya beli masyarakat.
Paradoks: Barang Murah Tapi Tak Terbeli
Kita perlu membedah penyebab utamanya secara jeli. Deflasi kali ini bukan terjadi karena pasokan barang melimpah ruah atau biaya produksi yang murah.
Sebaliknya, fenomena ini muncul karena sisi permintaan yang melemah drastis (weak demand). Masyarakat menahan belanja mereka secara massal.
Alasannya sederhana namun menyedihkan. Mereka bukan pelit, melainkan memang tidak memiliki uang lebih untuk belanja sekunder atau tersier. Akibatnya, pedagang terpaksa membanting harga barang demi memancing pembeli yang sepi.
Jeritan UMKM dan Pasar Ritel
Dampak nyata terlihat jelas di pasar tradisional dan pusat perbelanjaan. Pedagang mengeluhkan omzet yang anjlok parah. Toko-toko ritel tampak lengang meski telah memasang diskon besar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lantas, pelaku UMKM menjerit. Mereka kesulitan menutup biaya operasional harian karena pendapatan terus merosot. Akhirnya, mereka harus mengambil langkah efisiensi ketat.
Mereka mulai mengurangi stok barang dagangan. Bahkan, opsi terburuk pun mereka ambil, yakni merumahkan karyawan atau melakukan PHK sepihak demi menyelamatkan arus kas.
Siklus Setan Ekonomi
Kondisi ini memicu apa yang ekonom sebut sebagai “siklus setan”. Mulanya, daya beli turun menyebabkan harga barang jatuh (deflasi).
Selanjutnya, penurunan harga ini menggerus keuntungan perusahaan dan pedagang. Oleh karena itu, perusahaan memangkas gaji, menunda ekspansi, atau mengurangi tenaga kerja.
Imbasnya, jumlah pengangguran bertambah dan pendapatan masyarakat makin berkurang. Pada akhirnya, daya beli masyarakat akan semakin terpuruk ke dasar jurang yang lebih dalam.
Lampu Kuning bagi Pemerintah
Maka, pemerintah tidak boleh terlena dengan angka inflasi yang rendah. Deflasi beruntun ini adalah “lampu kuning” yang menyala terang benderang.
Pemerintah harus segera meracik stimulus nyata untuk menggerakkan ekonomi riil. Jangan sampai Indonesia terjebak dalam resesi akibat konsumsi yang mati suri. Kita membutuhkan suntikan vitamin daya beli ke kantong rakyat segera sebelum “penyakit” ekonomi ini menjadi kronis.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















