JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Sebanyak 50 juta orang di seluruh dunia saat ini berperan sebagai “kelinci percobaan” dalam uji klinis obat-obatan eksperimental. Selain mempertaruhkan nyawa, para pelamar harus melewati serangkaian tes ketat hanya untuk bisa berpartisipasi.
Setelah diterima, mereka harus menghadapi lebih banyak tes, efek samping negatif, hingga gangguan signifikan terhadap kehidupan sehari-hari. Jurnalis Alex O’Meara dalam bukunya Chasing Medical Miracles menjelaskan bahwa beberapa orang ikut serta karena altruisme murni. Sebagian lainnya berharap menemukan penawar bagi penyakit mereka sendiri.
O’Meara, yang mengidap diabetes, pernah merelakan dirinya untuk transplantasi sel penghasil insulin dari hati yang berisiko tinggi. Namun, ia menyadari bahwa bagi banyak orang, uang adalah motivator utama. Kompensasi tunai dari industri bernilai $24 miliar ini kini menjadi cara populer untuk mencari pendapatan tambahan.
Sisi Gelap Industri Medis
Pertukaran uang dalam uji klinis sering melibatkan orang-orang sakit yang rentan. Hal ini mempertegas masalah etika yang menjerat industri tersebut. Sering kali, orang sakit merasa terpaksa bergabung dalam uji coba demi mendapatkan perawatan medis dasar.
Peneliti yang tidak etis terkadang memanfaatkan keputusasaan ini demi memenuhi kuota peserta agar riset mereka valid secara statistik. Peserta yang putus asa sulit memahami risiko bahwa mereka mungkin hanya mengonsumsi obat eksperimental atau bahkan plasebo (obat kosong). Hal ini memicu pertanyaan besar: mungkinkah seseorang memberikan persetujuan yang benar-benar jujur dalam kondisi terdesak secara ekonomi atau medis?
Eksploitasi di Negara Berkembang
Dilema etika ini semakin meluas seiring perpindahan lokasi uji klinis ke negara-negara berkembang. Adriana Petryna dalam When Experiments Travel mengungkapkan fakta miris: hanya 10% riset obat yang menyasar penyakit penduduk miskin dunia. Padahal, penyakit-penyakit tersebut mencakup 90% dari beban penyakit global.
Petryna melaporkan bahwa menetapkan tanggung jawab hukum dan etis kini semakin sulit. Banyak perusahaan menggunakan subkontraktor dalam uji coba, sehingga kesejahteraan pasien sering kali terabaikan. Di negara-negara dengan regulasi longgar, peneliti bahkan bisa merekrut peserta uji coba HIV meskipun mereka tahu peserta tersebut akan meninggal tanpa obat eksperimental yang sedang diuji.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegagalan Pengawasan Global
Keserakahan perusahaan farmasi dan ketidakmampuan regulator menjadi sorotan utama. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) tercatat hanya memeriksa kurang dari 1% dari 350.000 situs uji coba yang terdaftar.
Meskipun perusahaan farmasi mengelola organisasi nirlaba yang menangani sekitar 30% uji coba, celah pengawasan tetap sangat besar. Walaupun memiliki banyak kelemahan dan risiko etika, uji klinis tetap menjadi alat esensial dalam dunia kedokteran modern untuk menemukan obat-obatan baru yang menyelamatkan nyawa di masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















