TEGUCIGALPA, POSNEWS.CO.ID – Peta politik Honduras sedang mengalami guncangan hebat. Hasil penghitungan suara awal menunjukkan tren yang mengejutkan pada Senin dini hari waktu setempat.
Kandidat konservatif, Nasry Asfura dan Salvador Nasralla, memimpin perolehan suara sementara. Sebaliknya, partai berkuasa yang berhaluan kiri justru tertinggal jauh di posisi ketiga.
Dewan Pemilihan Nasional melaporkan data dari 34 persen tempat pemungutan suara. Tercatat, Nasry “Tito” Asfura dari Partai Nasional meraup 40,63 persen suara. Salvador Nasralla dari Partai Liberal menyusul ketat dengan 38,78 persen.
Sementara itu, Rixi Moncada dari partai sosialis demokratik LIBRE hanya mampu mengumpulkan 19,59 persen. Padahal, ia adalah kandidat penerus pilihan Presiden petahana Xiomara Castro.
Intervensi Mengejutkan Donald Trump
Keunggulan kubu konservatif ini tidak lepas dari faktor eksternal yang kuat. Pasalnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan intervensi politik secara terbuka hanya beberapa hari sebelum pencoblosan.
Trump memberikan dukungan penuh kepada Asfura. Ia menyebut Asfura sebagai sosok yang akan memerangi “narko-komunis” bersama AS. Bahkan, Trump menegaskan bahwa Asfura adalah satu-satunya kandidat yang mau bekerja sama dengan administrasinya.
Tak hanya itu, Trump juga membuat pengumuman yang menggemparkan warga Honduras pada Jumat lalu. Ia berjanji akan mengampuni (pardon) mantan Presiden Partai Nasional, Juan Orlando Hernández.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Faktanya, Hernández saat ini sedang menjalani hukuman 45 tahun penjara di AS. Ia terbukti bersalah membantu gembong narkoba menyelundupkan kokain ke Amerika. Langkah Trump ini mengejutkan banyak pihak, namun tampaknya efektif memengaruhi opini pemilih.
Tudingan Manipulasi dan Penolakan Hasil
Situasi memanas di kubu partai penguasa LIBRE. Rixi Moncada menolak mentah-mentah hasil awal tersebut. Sebelumnya, ia memang sudah menyatakan kecurigaan akan adanya plot manipulasi suara.
“Kami tidak akan menerima penghitungan awal,” tegas Moncada beberapa hari jelang pemilu.
Kini, ia menyerukan kepada pendukungnya untuk tetap siap bertarung. Moncada menegaskan tidak akan memberikan komentar lebih lanjut sampai penghitungan mencapai 100 persen. Di sisi lain, pihak oposisi khawatir pemerintah akan menggunakan kekuasaan untuk membalikkan keadaan.
Isu Keamanan dan “Venezuela Kedua”
Retorika kampanye kali ini memang sangat tajam. Trump menyerang Nasralla dan Moncada dengan peringatan keras. Menurutnya, mereka bisa menyeret Honduras ke jurang kehancuran seperti Venezuela.
Sebagian pemilih termakan narasi tersebut. Apalagi, Presiden Castro memang menjalin hubungan akrab dengan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Terlepas dari drama politik tingkat tinggi, rakyat Honduras sebenarnya memiliki kekhawatiran yang lebih mendesak. Isu keamanan dan lapangan kerja menjadi prioritas utama mereka.
Meskipun angka pembunuhan sedikit membaik di era Castro, Honduras masih memiliki tingkat pembunuhan tertinggi di Amerika Tengah. Akibatnya, rakyat menuntut perubahan nyata, siapa pun presidennya nanti.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: CNN





















