TELUK PERSI, POSNEWS.CO.ID – Strategi pertahanan Iran berubah menjadi serangan agresif terhadap urat nadi ekonomi dunia. Pada hari Rabu, Teheran meluncurkan gelombang serangan ke kapal komersial di Selat Hormuz. Mereka juga menargetkan infrastruktur sipil penting di Dubai.
Teheran memperingatkan akan adanya “perang atrisi” yang panjang. Mereka mengancam akan memicu kekacauan ekonomi global jika pasokan energi terus terhambat. Saat ini, Selat Hormuz—jalur bagi seperlima minyak dunia—praktis telah lumpuh total.
Blokade Energi dan Ancaman Minyak $200
Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan tidak akan membiarkan “satu liter minyak pun” lolos. Blokade ini merupakan respon atas kampanye pengeboman AS dan Israel. Juru bicara komando militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, memperingatkan bahwa harga minyak bisa menyentuh $200 per barel.
Dunia mulai merasakan dampaknya. Ratusan kapal kini tertahan di belakang saluran sempit di pantai selatan Iran. Sebagai langkah darurat, Badan Energi Internasional (IEA) melepas 400 juta barel minyak. Ini adalah pelepasan cadangan terbesar dalam sejarah IEA untuk menstabilkan harga pasar.
Krisis Kepemimpinan: Mojtaba Khamenei Terluka
Situasi domestik di Teheran berada dalam titik kritis. Untuk pertama kalinya, pejabat Iran mengakui pemimpin baru mereka terluka. Mojtaba Khamenei terkena serangan udara yang menewaskan orang tuanya pada menit pertama perang.
Hingga kini, pria berusia 56 tahun tersebut belum muncul di depan publik. Duta Besar Iran untuk Siprus, Alireza Salarian, menyebut Mojtaba mengalami luka di tangan dan kaki. Di tengah kekosongan visual ini, ribuan warga Teheran turun ke jalan untuk memakamkan para komandan senior yang tewas.
Pesan Kontradiktif Trump dan Penggunaan Teknologi AI
Di Washington, Presiden Donald Trump terus mengirimkan pesan yang membingungkan. Ia sempat menyebut perang ini sebagai “ekspedisi jangka pendek”. Namun, ia juga menyatakan bahwa militer AS “belum cukup menang”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Trump mengklaim perang akan segera berakhir karena “hampir tidak ada lagi target yang tersisa”. Di sisi lain, militer AS mulai menggunakan alat AI canggih untuk memproses data penargetan. Laksamana Brad Cooper menegaskan bahwa AI membantu pengambilan keputusan lebih cepat. Meski demikian, keputusan akhir untuk menembak tetap berada di tangan manusia.
Tragedi Kemanusiaan di Lebanon dan Israel
Dampak perang meluas ke negara-negara tetangga. Serangan Israel ke Lebanon telah memaksa lebih dari 759.000 orang mengungsi. Di Israel, sirene peringatan terus berbunyi akibat serangan rudal Hezbollah dan Iran.
Kemenlu Iran melaporkan bahwa 1.300 warga sipil Iran telah tewas sejak 28 Februari. Sementara itu, Lebanon mencatat 570 kematian, termasuk puluhan wanita dan anak-anak. Angka-angka ini menunjukkan bahwa biaya manusia dari konflik ini terus membengkak tanpa ada tanda-tanda gencatan senjata.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















