Iran Targetkan Infrastruktur Sipil saat Krisis Energi Mendekat

Kamis, 12 Maret 2026 - 06:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perang total di Selat Hormuz. Iran menyerang kapal komersial dan Bandara Dubai sebagai balasan atas gempuran AS-Israel. Dunia kini bersiap menghadapi lonjakan harga minyak hingga $200 per barel. Dok: Istimewa.

Perang total di Selat Hormuz. Iran menyerang kapal komersial dan Bandara Dubai sebagai balasan atas gempuran AS-Israel. Dunia kini bersiap menghadapi lonjakan harga minyak hingga $200 per barel. Dok: Istimewa.

TELUK PERSI, POSNEWS.CO.ID – Strategi pertahanan Iran berubah menjadi serangan agresif terhadap urat nadi ekonomi dunia. Pada hari Rabu, Teheran meluncurkan gelombang serangan ke kapal komersial di Selat Hormuz. Mereka juga menargetkan infrastruktur sipil penting di Dubai.

Teheran memperingatkan akan adanya “perang atrisi” yang panjang. Mereka mengancam akan memicu kekacauan ekonomi global jika pasokan energi terus terhambat. Saat ini, Selat Hormuz—jalur bagi seperlima minyak dunia—praktis telah lumpuh total.

Blokade Energi dan Ancaman Minyak $200

Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan tidak akan membiarkan “satu liter minyak pun” lolos. Blokade ini merupakan respon atas kampanye pengeboman AS dan Israel. Juru bicara komando militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, memperingatkan bahwa harga minyak bisa menyentuh $200 per barel.

Dunia mulai merasakan dampaknya. Ratusan kapal kini tertahan di belakang saluran sempit di pantai selatan Iran. Sebagai langkah darurat, Badan Energi Internasional (IEA) melepas 400 juta barel minyak. Ini adalah pelepasan cadangan terbesar dalam sejarah IEA untuk menstabilkan harga pasar.

Baca Juga :  Modus Baru Penipuan Haji Furoda di Jakarta, 40 Calon Jamaah Rugi Rp 24 Miliar

Krisis Kepemimpinan: Mojtaba Khamenei Terluka

Situasi domestik di Teheran berada dalam titik kritis. Untuk pertama kalinya, pejabat Iran mengakui pemimpin baru mereka terluka. Mojtaba Khamenei terkena serangan udara yang menewaskan orang tuanya pada menit pertama perang.

Hingga kini, pria berusia 56 tahun tersebut belum muncul di depan publik. Duta Besar Iran untuk Siprus, Alireza Salarian, menyebut Mojtaba mengalami luka di tangan dan kaki. Di tengah kekosongan visual ini, ribuan warga Teheran turun ke jalan untuk memakamkan para komandan senior yang tewas.

Pesan Kontradiktif Trump dan Penggunaan Teknologi AI

Di Washington, Presiden Donald Trump terus mengirimkan pesan yang membingungkan. Ia sempat menyebut perang ini sebagai “ekspedisi jangka pendek”. Namun, ia juga menyatakan bahwa militer AS “belum cukup menang”.

Baca Juga :  220 Paket Sembako dan Layanan Kesehatan Gratis, Polri Hadir untuk Lansia di Semarang

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Trump mengklaim perang akan segera berakhir karena “hampir tidak ada lagi target yang tersisa”. Di sisi lain, militer AS mulai menggunakan alat AI canggih untuk memproses data penargetan. Laksamana Brad Cooper menegaskan bahwa AI membantu pengambilan keputusan lebih cepat. Meski demikian, keputusan akhir untuk menembak tetap berada di tangan manusia.

Tragedi Kemanusiaan di Lebanon dan Israel

Dampak perang meluas ke negara-negara tetangga. Serangan Israel ke Lebanon telah memaksa lebih dari 759.000 orang mengungsi. Di Israel, sirene peringatan terus berbunyi akibat serangan rudal Hezbollah dan Iran.

Kemenlu Iran melaporkan bahwa 1.300 warga sipil Iran telah tewas sejak 28 Februari. Sementara itu, Lebanon mencatat 570 kematian, termasuk puluhan wanita dan anak-anak. Angka-angka ini menunjukkan bahwa biaya manusia dari konflik ini terus membengkak tanpa ada tanda-tanda gencatan senjata.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolri Ingatkan Ancaman Cuaca Ekstrem Saat Mudik Lebaran 2026, Polisi Siaga Bencana
6.859 Masjid Ramah Pemudik Siap Layani Mudik Lebaran 2026 di Seluruh Indonesia
Ammar Zoni Dituntut 9 Tahun Penjara, Denda Rp500 Juta – Kasus Narkoba di Rutan Salemba
Diskon Tol Lebaran 2026, Jasa Marga Pangkas Tarif 30 Persen di 9 Ruas Tol
Mengapa Perang Dagang Lebih Merugikan Daripada Perang Militer?
Rampok SPBU di Babelan Bekasi Gasak Rp130 Juta, Karyawan Disekap dan Ditodong Pistol
Peran Organisasi Internasional dalam Mengatur Ketertiban Dunia
Skandal PT Dana Syariah Indonesia, Polisi Sita Properti hingga Rekening Rp300 Miliar

Berita Terkait

Kamis, 12 Maret 2026 - 19:01 WIB

Kapolri Ingatkan Ancaman Cuaca Ekstrem Saat Mudik Lebaran 2026, Polisi Siaga Bencana

Kamis, 12 Maret 2026 - 17:40 WIB

6.859 Masjid Ramah Pemudik Siap Layani Mudik Lebaran 2026 di Seluruh Indonesia

Kamis, 12 Maret 2026 - 17:15 WIB

Ammar Zoni Dituntut 9 Tahun Penjara, Denda Rp500 Juta – Kasus Narkoba di Rutan Salemba

Kamis, 12 Maret 2026 - 17:02 WIB

Diskon Tol Lebaran 2026, Jasa Marga Pangkas Tarif 30 Persen di 9 Ruas Tol

Kamis, 12 Maret 2026 - 16:27 WIB

Mengapa Perang Dagang Lebih Merugikan Daripada Perang Militer?

Berita Terbaru

Ilustrasi, Jaring ekonomi yang mengikat dunia. Liberalisme Komersial menjelaskan alasan negara-negara lebih memilih stabilitas pasar daripada konflik terbuka di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Perang Dagang Lebih Merugikan Daripada Perang Militer?

Kamis, 12 Mar 2026 - 16:27 WIB