Hubungan Patron-Klien: Akar Korupsi yang Sulit Dicabut dari Politik Kita

Minggu, 14 Desember 2025 - 10:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bukan sekadar suap, tapi ikatan saling menguntungkan yang merusak. Simak analisis hubungan Patron-Klien yang menyandera birokrasi kita. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Bukan sekadar suap, tapi ikatan saling menguntungkan yang merusak. Simak analisis hubungan Patron-Klien yang menyandera birokrasi kita. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID —  Kita sering bertanya-tanya mengapa korupsi begitu sulit hilang dari bumi pertiwi. Kita menangkap tikus-tikus berdasi, tetapi tikus baru selalu muncul kembali.

Masalahnya ternyata bukan hanya pada individu jahat. Justru, persoalan utamanya terletak pada struktur sosial yang kita sebut sebagai hubungan “Patron-Klien”.

Konsep ini menggambarkan ikatan timbal balik antara dua pihak yang tidak setara. Sang Patron adalah pejabat atau pemilik sumber daya. Sementara itu, Klien adalah pendukung atau rakyat biasa. Sayangnya, hubungan ini bukan tentang pelayanan publik, melainkan tentang transaksi keuntungan pribadi.

Barter Suara dengan Proyek

Mekanisme transaksi ini berjalan sangat rapi. Patron membutuhkan legitimasi politik atau suara untuk berkuasa. Sebaliknya, Klien membutuhkan akses ekonomi atau perlindungan.

Lantas, terjadilah pertukaran gelap. Klien memberikan loyalitas politik mereka di kotak suara. Sebagai imbalan, Patron akan mengalirkan keuntungan material.

Keuntungan itu bisa berupa bantuan sosial (bansos) yang mereka politisasi, jabatan basah di pemerintahan, atau proyek infrastruktur bagi tim sukses. Akibatnya, kebijakan publik tidak lagi melayani kepentingan umum. Kebijakan hanya melayani kepentingan segelintir orang yang memiliki akses khusus kepada sang penguasa.

Baca Juga :  Tantangan Mencari Circle Pertemanan di Usia Dewasa

Budaya Feodal yang Melanggengkan

Mengapa praktik ini begitu awet? Jawabannya bersembunyi dalam budaya kita sendiri. Struktur sosial masyarakat kita masih sangat paternalistik atau kebapakan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kita cenderung memandang pemimpin sebagai “bapak” yang harus membagi-bagikan rezeki kepada “anak-anaknya”. Oleh karena itu, rakyat sering kali memaklumi jika pejabat mendahulukan kelompoknya sendiri.

Mentalitas feodal ini menganggap loyalitas kepada atasan jauh lebih penting daripada kepatuhan pada hukum. Seketika, korupsi tidak lagi terlihat sebagai kejahatan, melainkan sebagai bentuk “balas budi” atau solidaritas kelompok yang wajar.

Birokrasi “Orang Titipan”

Dampak paling merusak menghantam jantung pemerintahan, yaitu birokrasi. Hubungan Patron-Klien mematikan sistem meritokrasi.

Baca Juga :  Subscription Fatigue: Dulu Putus Kabel TV Demi Hemat

Kompetensi dan prestasi tidak lagi menjadi ukuran utama dalam promosi jabatan. Faktanya, kedekatan dengan pimpinan atau “jalur orang dalam” menjadi penentu segalanya.

Maka, muncullah fenomena “orang titipan”. Posisi strategis diisi oleh orang-orang yang tidak kompeten, namun loyal kepada Patron. Imbasnya, pelayanan publik menjadi lambat dan buruk. Pejabat birokrasi sibuk melayani atasan mereka demi mengamankan posisi, bukan melayani rakyat.

Memotong Rantai Patronase

Pada akhirnya, reformasi birokrasi hanyalah mimpi kosong jika kita tidak memotong rantai ini. Memberantas korupsi tidak cukup hanya dengan penindakan hukum.

Kita harus mengubah budaya politik. Masyarakat harus berhenti mengharapkan imbalan instan dari pejabat. Di sisi lain, sistem rekrutmen jabatan publik harus transparan dan berbasis data kinerja.

Ingatlah, selama hubungan Patron-Klien masih menjadi napas politik kita, korupsi akan terus tumbuh subur, berganti wajah, dan mencekik kemajuan bangsa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga
Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?
Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini
Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api
Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?
Perlombaan Baru Miliarder Menuju Nol Gravitasi dan Koloni Mars
Kasus Kuota Haji Memanas, KPK Panggil Eks Menag Yaqut Hari Ini
Pembicaraan Teknis Greenland dengan AS Dimulai, Tensi Mereda

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 14:04 WIB

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:17 WIB

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:58 WIB

Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:34 WIB

Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:11 WIB

Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?

Berita Terbaru

Ilustrasi, Australia pernah menjadi

INTERNASIONAL

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Jan 2026 - 13:17 WIB

Ilustrasi, Riset membuktikan: loyalitas pada merek masa kecil bertahan hingga 50 tahun. Migran di AS dan India lebih memilih produk mahal dari daerah asal daripada alternatif lokal yang murah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?

Jumat, 30 Jan 2026 - 12:11 WIB