LONDON, JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Bulan September 1666 menjadi saksi bisu salah satu bencana perkotaan terbesar dalam sejarah manusia. Selama tiga hari, api neraka menyapu jantung kota London.
Kehancuran yang terjadi sangatlah masif. Tercatat, si jago merah melahap 13.200 rumah dan 87 gereja paroki. Bangunan ikonik abad pertengahan seperti Royal Exchange, Guildhall, hingga Katedral St. Paul yang megah pun tak luput dari kehancuran total.
Kerugian finansial mencapai angka fantastis £10 juta. Padahal, pendapatan tahunan kota London saat itu hanya £12.000. Akibatnya, ribuan warga jatuh miskin dan penjara debitur penuh sesak. Namun, di balik abu kehancuran itu, benih kota modern mulai tumbuh.
Toko Roti Pudding Lane
Bencana ini bermula pada Minggu dini hari, 2 September 1666. Titik nol api berasal dari toko roti milik Thomas Farynor di Pudding Lane.
Meskipun Farynor mengklaim telah memadamkan api, rumahnya berubah menjadi “inferno yang menyala” tiga jam kemudian. Arkeolog menduga percikan dari oven Farynor jatuh ke tumpukan bahan bakar di dekatnya.
Parahnya lagi, penggalian tahun 1979 menemukan sisa-sisa 20 barel pitch (ter) di gudang bawah tanah dekat lokasi. Zat yang sangat mudah terbakar ini bertindak sebagai akselerator yang mempercepat penyebaran api ke seluruh kota.
Angin Kencang dan “Kota Kayu”
Api menyebar dengan kecepatan mengerikan. Angin kencang dari timur mendorong lidah api menuruni Fish Hill menuju Sungai Thames. Seketika, gudang-gudang di tepi sungai yang penuh minyak dan tali tambang meledak terbakar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengapa London begitu rapuh? Jawabannya terletak pada tata kota abad ke-17. Bangunan-bangunan terbuat dari kayu yang dilapisi ter dan berdiri berhimpitan. Selain itu, musim panas yang panjang dan kering telah mengubah rumah-rumah kayu itu menjadi kayu bakar raksasa yang siap menyala.
Masyarakat saat itu belum sadar akan bahaya kebakaran. Alih-alih memadamkan, warga London lebih memilih menyelamatkan diri.
Samuel Pepys dan Taktik Meledakkan Rumah
Di tengah kepanikan, Samuel Pepys, seorang pejabat Angkatan Laut Kerajaan, mengambil inisiatif. Ia menyarankan Raja untuk merobohkan bangunan di jalur api.
Perintah Wali Kota untuk menggunakan kait api (fire hooks) ternyata tidak efektif. Lantas, Pepys dan Laksamana Angkatan Laut sepakat menggunakan taktik ekstrem: meledakkan rumah.
Tujuannya adalah menciptakan ruang kosong atau firebreak untuk memutus rambatan api. Strategi ini berhasil. Akhirnya, pada pagi berikutnya, api berhasil dihentikan.
Lahirnya Asuransi dan Pemadam Kebakaran
Bencana ini mengubah wajah London selamanya. Proses rekonstruksi berjalan lambat namun revolusioner. Peraturan bangunan baru yang ketat mulai diterapkan.
Rumah-rumah kini wajib menggunakan batu bata, bukan kayu. Jalan-jalan diperlebar, trotoar dibangun, dan selokan baru dipasang.
Dampak paling signifikan adalah lahirnya konsep pemadam kebakaran modern. Sebelumnya, pemadaman api hanya mengandalkan ember kulit dan kapak. Pasca-bencana, perusahaan asuransi mulai membentuk brigade pemadam kebakaran mereka sendiri.
Mereka memasang tanda api (firemarks) di gedung yang diasuransikan. Uniknya, jika brigade datang dan tidak melihat tanda perusahaan mereka di gedung yang terbakar, mereka akan membiarkannya hangus begitu saja.
Pada akhirnya, Kebakaran Besar 1666 mengajarkan pelajaran mahal tentang keselamatan kota. London bangkit dari abu, lebih kuat, lebih aman, dan lebih tertata daripada sebelumnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















