KOPENHAGEN, POSNEWS.CO.ID – Sebuah pemandangan yang tidak biasa menyelimuti pusat kota Kopenhagen pada hari Sabtu (1/2). Barisan massa bergerak senyap dari Kastellet menuju Kedutaan Besar Amerika Serikat. Tidak ada teriakan, tidak ada poster protes, dan tidak ada orasi yang berapi-api.
Warga hanya mendengar derap langkah kaki di jalanan musim dingin. Mereka adalah veteran Denmark, keluarga prajurit yang gugur, dan para pendukung setia.
Beberapa peserta pawai mengenakan medali kehormatan di dada. Yang lain mendekap bendera kecil Denmark erat-erat di dada mereka. Nada aksi ini sangat disengaja: penuh hormat, terkendali, namun memancarkan kemarahan yang tak terbantahkan.
Pemicu: 44 Bendera di Pot Bunga
Demonstrasi emosional ini meletus akibat insiden di luar Kedutaan Besar AS awal pekan ini. Pihak kedutaan mencabut 44 bendera Denmark yang sebelumnya orang-orang letakkan di pot bunga (planters), meskipun kemudian staf mengembalikannya.
Setiap bendera tersebut bukan sekadar kain; masing-masing membawa nama seorang tentara Denmark yang tewas di Afghanistan saat bertugas bersama pasukan AS.
Pihak kedutaan berdalih bahwa mereka hanya mengikuti “kebijakan keamanan”. Namun, bagi para veteran dan kerabat, tindakan itu melukai perasaan dengan sangat cepat dan dalam. Bendera-bendera itu adalah pengingat bahwa Denmark telah membayar harga mahal sebagai sekutu, dan mereka tidak boleh memperlakukan nama-nama pahlawan tersebut seperti sampah.
“Trump Menginjak-injak Kita”
Sentimen di lapangan juga bercampur dengan konteks politik yang lebih luas. Penyelenggara mengaitkan pawai ini dengan ketegangan hubungan AS-Denmark, terutama retorika Presiden Donald Trump mengenai kendali atas Greenland—ide yang Kopenhagen dan Nuuk tolak mentah-mentah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Brian, seorang demonstran di pawai tersebut, menumpahkan kekecewaannya.
“Saya datang untuk mendukung veteran Denmark kami karena Trump dan cara dia memperlakukan apa yang disebut sekutunya,” kata Brian. “Dia menginjak-injak kami dan ini sudah cukup. Pertama Greenland, sekarang veteran Denmark kami. Kami tidak tahan lagi.”
Søren Kusen, penyelenggara yang mewakili koalisi kelompok veteran, menegaskan posisi mereka. “Kami mendukung kedaulatan Greenland dan pemerintahan sendiri rakyat Greenland,” ujarnya.
Lima Menit Keheningan
Bagi Sean Teigen, seorang veteran, aksi ini bukan soal politik pribadi. “Ini bukan tentang saya. Ini tentang semua teman yang hilang di sana (Afghanistan). Dan keluarga yang melihat itu—itulah sebabnya kami di sini,” ucapnya.
Di gerbang kedutaan, pawai berakhir persis seperti saat bermula: tanpa kegaduhan, tanpa drama. Massa hanya berdiri tegak, melakukan hening cipta selama lima menit. Sebuah penghormatan terakhir bagi anggota layanan Denmark dan bagi mereka yang tidak pernah pulang ke rumah.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















