Laporan Fed New York Ungkap Konsumen AS Tanggung Biaya Terbesar

Jumat, 13 Februari 2026 - 14:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diplomasi di bawah bayang-bayang kapal induk. Presiden Donald Trump memberikan tenggat waktu satu bulan bagi Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir sebelum Washington melancarkan

Diplomasi di bawah bayang-bayang kapal induk. Presiden Donald Trump memberikan tenggat waktu satu bulan bagi Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir sebelum Washington melancarkan "Fase Dua" yang melibatkan kekuatan militer penuh. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Federal Reserve Bank of New York merilis laporan krusial pada Kamis (12/2/2026) yang membantah klaim politik mengenai kebijakan perdagangan. Laporan tersebut menegaskan bahwa konsumen dan pelaku usaha Amerika Serikat memikul beban finansial terbesar dari tarif yang diterapkan oleh pemerintahan Trump.

Hasil riset ini mematahkan narasi yang menyebutkan bahwa negara asing akan membayar biaya pungutan tersebut. Sebaliknya, para eksportir asing tidak menurunkan harga mereka secara signifikan. Oleh karena itu, biaya tambahan tersebut sepenuhnya berpindah ke harga impor yang harus dibayar oleh pembeli domestik di Amerika.

Lonjakan Tarif dan Penyerapan Biaya

Berdasarkan laporan tersebut, tingkat tarif rata-rata di Amerika Serikat melonjak drastis dari 2,6 persen menjadi 13 persen dalam satu tahun terakhir. Angka ini mencerminkan agresivitas kebijakan ekonomi yang bertujuan mendorong produksi dalam negeri.

Namun demikian, data menunjukkan dampak yang sangat timpang. Studi tersebut menemukan bahwa Amerika menyerap 94 persen dampak tarif pada periode Januari hingga Agustus. Angka ini sedikit menurun menjadi 92 persen pada September-Oktober dan mencapai 86 persen pada akhir tahun. Bahkan, riset tersebut mencatat bahwa selama masa jabatan pertama Trump, beban biaya tersebut hampir 100 persen jatuh ke tangan pembeli Amerika karena eksportir asing tetap mempertahankan harga jual mereka.

Baca Juga :  Lagu Kebangsaan Tak Bisa Ditarik Royalti, Menkum HAM Tegas Bantah Klaim LMKN

Proyeksi Harga Konsumen Menurut CBO

Kantor Anggaran Kongres (CBO) juga merilis temuan serupa pekan ini. CBO memperkirakan bahwa tarif yang lebih tinggi mendorong kenaikan harga barang impor secara langsung. Pasalnya, produsen domestik sering kali harus menaikkan harga jual mereka untuk menutupi kenaikan biaya bahan baku impor.

Dalam jangka pendek, CBO memperkirakan pebisnis AS menyerap sekitar 30 persen biaya tarif tersebut. Selain itu, sekitar 70 persen sisanya akan berpindah kepada konsumen melalui label harga yang lebih mahal di rak-rak toko. Sementara itu, eksportir asing hanya menanggung sekitar lima persen dari total biaya kebijakan tersebut.

Baca Juga :  Chelsea Bangkit dari Kubur, Palmer dan João Pedro Kirim Pasukan Conte Pulang

Pilar Ekonomi dan Ketidakpastian Pasar

Penerapan tarif tetap menjadi pilar utama dalam agenda ekonomi Presiden Trump. Kebijakan ini memiliki misi untuk meningkatkan pendapatan pemerintah, menekan mitra dagang, serta mendorong kembalinya industri manufaktur ke daratan Amerika.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun demikian, penyesuaian kebijakan yang terjadi berulang kali justru memicu gejolak pasar yang signifikan. Para pelaku ekonomi kini menghadapi ketidakpastian yang lebih tinggi dalam merencanakan investasi jangka panjang. Dunia usaha mendesak adanya transparansi dan stabilitas kebijakan perdagangan guna mencegah inflasi yang lebih parah di masa depan. Melalui laporan Fed NY ini, perdebatan mengenai siapa yang sebenarnya “menang” dalam perang dagang ini kembali menjadi sorotan utama di Washington.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Eskalasi Laut China Timur: Jepang Sita Kapal Nelayan Tiongkok
Deregulasi Terbesar AS: Trump Cabut Landasan Hukum Aturan Emisi Era Obama
Pemprov DKI Siapkan 661 Bus dan Kuota 26.500 Peserta Mudik Gratis Lebaran 2026
Dua Pencuri Besi Jembatan di Sunter Positif Narkoba, Polres Jakut Dalami Jaringan
Satu Bulan untuk Kesepakatan Iran atau Hadapi Konsekuensi Traumatis
Polisi Selidiki Unsur Pidana Kebakaran Pabrik Pestisida Setu yang Cemari Sungai Cisadane
Kapolres Bima Kota AKBP Didik Diperiksa Mabes Polri, Dugaan Rp1 Miliar dari Bandar Narkoba
Viral Penumpang Diduga Berbuat Tak Senonoh di Taksi Online, Polisi Selidiki

Berita Terkait

Jumat, 13 Februari 2026 - 16:20 WIB

Eskalasi Laut China Timur: Jepang Sita Kapal Nelayan Tiongkok

Jumat, 13 Februari 2026 - 15:16 WIB

Deregulasi Terbesar AS: Trump Cabut Landasan Hukum Aturan Emisi Era Obama

Jumat, 13 Februari 2026 - 14:13 WIB

Laporan Fed New York Ungkap Konsumen AS Tanggung Biaya Terbesar

Jumat, 13 Februari 2026 - 14:03 WIB

Pemprov DKI Siapkan 661 Bus dan Kuota 26.500 Peserta Mudik Gratis Lebaran 2026

Jumat, 13 Februari 2026 - 13:42 WIB

Dua Pencuri Besi Jembatan di Sunter Positif Narkoba, Polres Jakut Dalami Jaringan

Berita Terbaru

Ilustrasi, Runtuhnya pilar aturan iklim. Presiden Donald Trump mencabut

INTERNASIONAL

Eskalasi Laut China Timur: Jepang Sita Kapal Nelayan Tiongkok

Jumat, 13 Feb 2026 - 16:20 WIB

Diplomasi di bawah bayang-bayang kapal induk. Presiden Donald Trump memberikan tenggat waktu satu bulan bagi Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir sebelum Washington melancarkan

INTERNASIONAL

Laporan Fed New York Ungkap Konsumen AS Tanggung Biaya Terbesar

Jumat, 13 Feb 2026 - 14:13 WIB