Logika Sinetron Azab: Hiburan Absurd atau Cermin Moralitas Hitam-Putih?

Selasa, 23 Desember 2025 - 05:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Jenazah masuk molen? Liang lahat penuh air? Jangan tertawa dulu. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Jenazah masuk molen? Liang lahat penuh air? Jangan tertawa dulu. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda membaca jadwal acara televisi dan menemukan judul yang membuat dahi berkerut? “Jenazah Masuk Molen Pengaduk Semen” atau “Juragan Tahu Bulat Mati Tergoreng Dadakan”.

Judul-judul tersebut terdengar seperti lelucon. Namun, itu adalah tayangan nyata yang menghiasi layar kaca kita setiap hari. Sinetron religi bertema azab telah menjadi genre tersendiri yang mendominasi rating televisi Indonesia.

Banyak orang mencemoohnya sebagai tontonan yang tidak masuk akal. Akan tetapi, jutaan orang lainnya tetap setia menontonnya. Lantas, apa sebenarnya yang membuat tontonan absurd ini begitu memikat?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Formula Baku: Zoom In-Out dan Naga Terbang

Ciri khas sinetron ini sangat mudah kita kenali. Kamera bergerak dramatis dengan teknik zoom in dan zoom out yang cepat pada wajah karakter yang sedang terkejut.

Dialognya pun selalu hiperbolis. Karakter jahat akan berbicara dengan nada tinggi dan mata melotot. Sementara itu, karakter baik selalu menangis dan berdoa dengan lirih.

Baca Juga :  Kecanduan Media Sosial: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Selain itu, penggunaan efek visual (CGI) sederhana sering menjadi sorotan. Kita sering melihat petir menyambar, jenazah terpental, atau bahkan naga terbang dengan kualitas grafis seadanya. Justru, ketidaksempurnaan visual inilah yang membuatnya viral menjadi bahan meme di media sosial.

Candu “Karma Instan”

Di balik tawa dan cemoohan, sinetron azab sebenarnya memuaskan kebutuhan psikologis dasar manusia. Penonton mendapatkan kepuasan melihat “karma instan”.

Dunia nyata sering kali tidak adil. Koruptor bisa hidup mewah dan orang jahat sering lolos dari hukum. Sebaliknya, di dunia sinetron azab, keadilan tegak seketika.

Tuhan (melalui penulis naskah) menghukum pelaku kejahatan dengan cara yang brutal dan kontan. Seketika, penonton merasakan pelepasan emosi (catharsis). Mereka merasa puas melihat si jahat menderita, sebuah perasaan yang psikologi sebut sebagai Schadenfreude.

Moralitas Hitam-Putih Tanpa Abu-Abu

Sinetron ini juga menawarkan kesederhanaan moral. Karakter terbagi tegas menjadi dua kubu: Jahat Sempurna dan Baik Tertindas.

Si Jahat tidak punya sisi baik sedikit pun. Sedangkan Si Baik adalah malaikat tanpa dosa yang selalu sabar dizalimi. Oleh karena itu, penonton tidak perlu berpikir keras untuk menentukan siapa yang harus mereka dukung.

Baca Juga :  Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Struktur cerita yang sederhana ini memberikan kenyamanan kognitif. Otak kita tidak perlu memproses dilema moral yang rumit setelah lelah bekerja seharian.

Industri Kejar Tayang

Mengapa kualitas ceritanya sering kali absurd? Jawabannya terletak pada dapur produksi. Industri sinetron Indonesia bekerja dengan sistem kejar tayang atau stripping.

Kru produksi dan penulis naskah harus memproduksi satu episode penuh setiap hari. Akibatnya, mereka tidak punya waktu untuk riset mendalam atau mematangkan logika cerita.

Biaya produksi yang rendah juga membatasi kualitas eksekusi. Maka, kreativitas instan menjadi jalan keluar. Penulis harus mencari ide azab yang belum pernah ada sebelumnya, seaneh apa pun itu, demi menarik perhatian penonton di tengah persaingan ketat.

Keadilan Sederhana di Layar Kaca

Pada akhirnya, sinetron azab adalah cermin unik masyarakat kita. Ia mungkin absurd dan berlebihan. Namun, ia menawarkan sesuatu yang masyarakat rindukan: kepastian hukum Tuhan.

Sinetron ini menjadi guilty pleasure atau kesenangan terlarang. Kita menontonnya untuk menertawakan keanehannya, sekaligus diam-diam menikmati fantasi bahwa di suatu tempat, kejahatan pasti akan mendapat balasan yang setimpal.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lingling Kwong Jadi Wanita Tercantik Dunia 2026, Raih 22 Juta Suara
Haji Bolot Comeback, Jantung Pulih Panggung Kembali
Jatuh di Lubang yang Sama, Revaldo Kembali Diamankan Kasus Narkoba
Tom Holland Tahu Jadwal Debut Miles Morales di MCU
Disney+ Merilis Lini Konten Agustus 2026 Mulai Pokemon
Adaptasi Game Raksasa: A24 Selesaikan Syuting Film Elden Ring
Spider-Man Brand New Day Siap Sapu Bersih Bioskop
Babak Baru Semesta Family Guy: Serial Spin-off

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 07:06 WIB

Lingling Kwong Jadi Wanita Tercantik Dunia 2026, Raih 22 Juta Suara

Minggu, 30 Agustus 2026 - 06:46 WIB

Haji Bolot Comeback, Jantung Pulih Panggung Kembali

Selasa, 25 Agustus 2026 - 18:58 WIB

Jatuh di Lubang yang Sama, Revaldo Kembali Diamankan Kasus Narkoba

Selasa, 4 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Tom Holland Tahu Jadwal Debut Miles Morales di MCU

Minggu, 2 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Disney+ Merilis Lini Konten Agustus 2026 Mulai Pokemon

Berita Terbaru

Presiden Xi Jinping menyerukan blok BRICS menjadi juru damai konflik Timur Tengah pada KTT New Delhi serta mempererat hubungan diplomatik dengan India. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:57 WIB

2.713 penari dari 12 negara membawakan Tari Semarak Jali-Jali Betawi di Ancol. (Posnews/Ancol)

JABODETABEK

Budaya Betawi Mendunia, 2.713 Penari Pecahkan Rekor MURI di Ancol

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:41 WIB

Hakim federal AS membatalkan rencana pemangkasan 50% staf FEMA era pemerintahan Trump. Keputusan ini dinilai menegakkan undang-undang perlindungan FEMA. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:56 WIB