JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Bayangan kita tentang museum biasanya seragam. Lorong-lorong sunyi, benda-benda kuno di balik kaca tebal, dan tanda “Dilarang Menyentuh” di mana-mana. Namun, gambaran kaku itu kini perlahan runtuh.
Dunia seni sedang mengalami revolusi visual. Pameran seni digital yang imersif meledak di seluruh dunia. Contohnya, pameran TeamLab dari Jepang atau Van Gogh Alive yang memukau jutaan mata.
Pengunjung tidak lagi sekadar melihat lukisan mati di dinding. Sebaliknya, mereka masuk ke dalam lukisan itu sendiri. Cahaya, suara, dan teknologi proyeksi menyatu, menciptakan pengalaman yang hidup dan bergerak di sekeliling mereka.
Generasi Visual dan Latar Foto
Mengapa tren ini begitu meledak? Jawabannya terletak pada demografi pengunjung. Generasi Z dan Milenial adalah generasi visual yang hidup di media sosial.
Bagi mereka, pengalaman seni belum lengkap jika tidak bisa mereka bagikan di Instagram atau TikTok. Oleh karena itu, nilai sebuah pameran sering kali bergantung pada seberapa “Instagrammable” tempat tersebut.
Seni imersif memenuhi dahaga ini dengan sempurna. Cahaya warna-warni dan ruang interaktif menjadi latar foto yang estetik. Lantas, pengunjung rela antre berjam-jam bukan untuk merenungi makna filosofis karya, melainkan untuk mendapatkan angle foto terbaik demi konten.
Pendangkalan atau Demokratisasi?
Fenomena ini memicu perdebatan sengit di kalangan kritikus seni. Kaum puritan menuduh tren ini sebagai pendangkalan seni (shallow art).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka menilai karya seni telah terdegradasi fungsinya. Dulu, seni adalah objek kontemplasi jiwa. Kini, seni hanya menjadi wallpaper atau latar belakang selfie semata.
Akan tetapi, pandangan lain menawarkan perspektif positif. Seni imersif dianggap sebagai bentuk demokratisasi. Pameran jenis ini meruntuhkan tembok elitisme galeri seni yang sering kali mengintimidasi orang awam.
Seni menjadi lebih mudah diakses, menyenangkan, dan tidak berjarak. Akibatnya, orang yang tidak pernah ke museum pun kini mau datang dan menikmati keindahan visual, meskipun motivasinya berbeda.
Museum Sejarah Melawan Balik dengan VR
Institusi museum sejarah yang “kuno” menyadari ancaman ini. Mereka tahu bahwa benda mati di etalase kaca tidak lagi cukup untuk menarik minat anak muda. Maka, mereka mulai beradaptasi.
Museum-museum besar mulai mengadopsi teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR). Pengunjung bisa melihat kerangka dinosaurus “hidup” kembali lewat layar ponsel. Atau, mereka bisa berjalan-jalan di kota Romawi kuno menggunakan kacamata VR.
Teknologi ini menjembatani jurang antara edukasi dan hiburan. Dengan begitu, sejarah tidak lagi terasa membosankan, tetapi menjadi petualangan interaktif yang seru.
Keseimbangan Edukasi dan Hiburan
Pada akhirnya, museum harus berevolusi agar tidak mati ditinggalkan zaman. Matinya museum kuno bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari babak baru.
Tantangan utamanya adalah mencari keseimbangan. Pengelola harus memadukan unsur hiburan visual yang menarik mata dengan edukasi mendalam yang mengisi otak. Ingatlah, museum yang baik adalah museum yang mampu membuat pengunjungnya pulang membawa pengetahuan baru, bukan sekadar memori ponsel yang penuh foto.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















