PHNOM PENH, POSNEWS.CO.ID – Hutan lebat di Pegunungan Cardamom, Kamboja, menyimpan rahasia yang telah terkubur berabad-abad. Penduduk lokal menemukan sisa-sisa manusia kuno yang tersembunyi di tempat tak lazim. Tulang-belulang itu tersimpan dalam guci keramik besar dan batang kayu berlubang di tebing-tebing curam.
Penemuan misterius ini menarik perhatian Nancy Athfield, seorang ilmuwan spesialis penanggalan radiokarbon (radiocarbon dating). Seketika, ia meninggalkan pekerjaan rutinnya di Laboratorium Rafter G.N.S. Science, Selandia Baru, demi terjun ke lapangan.
Athfield baru saja kembali dari ekspedisi penelitian yang menantang. Bersama timnya, ia bertekad menguak identitas orang-orang yang terkubur di tebing tinggi tersebut.
Mematahkan Mitos Kerajaan Angkor
Kisah ini bermula pada tahun 2003. Sebuah perusahaan film dokumenter meminta Athfield untuk meneliti sampel tulang dari situs tersebut. Kala itu, para pembuat film ingin menguji sebuah teori populer.
Banyak orang menduga sisa-sisa itu adalah tempat peristirahatan terakhir keluarga kerajaan Angkor. Konon, mereka melarikan diri ke pegunungan setelah kota Angkor jatuh ke tangan pasukan penyerbu pada tahun 1431.
Namun, hasil analisis sains berkata lain. Athfield melakukan penanggalan radiokarbon pada sampel tulang asli. Hasilnya, tulang tersebut berasal dari tahun 1620-an.
Fakta ini langsung mematahkan teori tentang bangsawan Angkor. Pasalnya, tahun tersebut terlalu muda, berselisih hampir dua abad dari runtuhnya Angkor. Hingga kini, nasib akhir keluarga kerajaan legendaris itu masih menjadi tanda tanya besar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari New York ke Laboratorium Dunia
Perjalanan karier Athfield sendiri seunik objek penelitiannya. Wanita kelahiran New York ini memiliki latar belakang yang tidak konvensional. Ia menyelesaikan pendidikan menengah lebih awal pada usia 16 tahun dan sempat bekerja serabutan dengan gaji rendah.
Lantas, saran seorang teman mengubah hidupnya. Ia mengikuti ujian masuk universitas dan lulus dengan mengejutkan. Saat kuliah, ia bekerja di Observatorium Bumi Lamont-Doherty dan bertemu Wally Brocker, pionir radiokarbon.
“Darinya saya belajar bahwa tempat terbaik adalah di mana segala sesuatu yang Anda tahu terguncang oleh informasi baru,” kenang Athfield.
Kemudian, ia pindah ke Selandia Baru dan meraih gelar PhD. Disertasinya berfokus pada kontroversi kedatangan tikus di pulau tersebut, membuktikan ketelitiannya dalam memverifikasi metode penanggalan.
Kolaborasi Lintas Disiplin
Meskipun sempat terkendala dana, semangat Athfield tak pernah padam. Titik terang akhirnya muncul saat Dewan Riset Australia memberikan dukungan finansial.
Kini, ia memimpin proyek besar bersama Universitas Sydney untuk membuat database radiokarbon seluruh Kamboja. Proyek ini menyatukan para ahli dari berbagai bidang, mulai dari geolog, biolog, hingga spesialis keramik.
Tantangannya sangat berat karena Kamboja belum memiliki peta geologi yang luas. Akan tetapi, penemuan situs penguburan guci baru oleh Kementerian Kebudayaan Kamboja membuat Athfield semakin antusias.
Pada akhirnya, teka-teki Pegunungan Cardamom belum sepenuhnya terpecahkan. Namun, dengan bantuan sains modern, Athfield perlahan menyusun kepingan sejarah manusia yang hilang di tengah belantara Asia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















