KIEV, POSNEWS.CO.ID – Kelanjutan pembicaraan damai Rusia-Ukraina kembali menemui jalan buntu. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan pada Jumat (30/1/2026) bahwa jadwal pertemuan di Abu Dhabi kemungkinan besar akan berubah.
Zelenskyy menyoroti ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Situasi geopolitik tersebut sangat memengaruhi penentuan waktu pertemuan. “Penting bagi kami agar semua pihak hadir. Namun, tanggal atau tempatnya mungkin berubah,” ujar Zelenskyy lewat laporan Interfax-Ukraine.
Penolakan Keras Terhadap Moskow
Zelenskyy secara tegas menolak usulan Kremlin untuk mengadakan pertemuan di Moskow. Sebaliknya, ia menantang Presiden Vladimir Putin untuk datang langsung ke Kiev.
“Saya siap untuk format efektif demi mengakhiri perang,” tegas Zelenskyy. Namun, ia menilai pertemuan di Moskow atau Belarusia sangat mustahil. Sebelumnya, Dmitry Peskov menyatakan Rusia hanya mempertimbangkan Moskow sebagai lokasi yang layak bagi kedua pemimpin.
Perselisihan lokasi ini muncul pasca-pertemuan trilateral di Abu Dhabi pada 23-24 Januari lalu. Itu merupakan pertemuan pertama antara Ukraina, AS, dan Rusia sejak konflik pecah.
Intervensi Trump dan Gencatan Senjata Energi
Di tengah kebuntuan ini, Presiden AS Donald Trump mulai mengambil peran. Trump meminta Putin menghentikan serangan ke Kiev dan kota lainnya selama satu minggu. Permintaan ini diajukan mengingat kondisi cuaca dingin yang sangat ekstrem.
Dmitry Peskov mengonfirmasi Rusia setuju menunda serangan fasilitas energi hingga 1 Februari. Namun, situasi lapangan tetap mencekam. PM Yulia Svyrydenko melaporkan adanya tujuh serangan drone Rusia ke fasilitas kereta api dalam 24 jam terakhir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ancaman Nuklir di Titik Nadir
Dunia internasional kini sangat mengkhawatirkan risiko keselamatan nuklir. Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, memberikan peringatan keras pada pertemuan dewan gubernur, 30 Januari.
Grossi menyebut serangan Rusia mengganggu pasokan listrik ke pembangkit nuklir. Kondisi ini berisiko memicu bencana nuklir global. “Pertempuran di Ukraina tetap menjadi ancaman terbesar bagi keselamatan nuklir dunia,” tegasnya.
Kerusakan infrastruktur listrik mengancam sistem pendingin reaktor. Hal ini menempatkan keselamatan warga Eropa dalam risiko tinggi jika eskalasi terus berlanjut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















