JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Cobalah ketik kata kunci “jasa kerjakan tugas” atau “joki skripsi” di kolom pencarian Twitter (X) atau Instagram. Seketika, ribuan akun penyedia jasa ilegal ini akan muncul memenuhi layar.
Mereka berpromosi dengan sangat percaya diri. Bahkan, mereka menyertakan testimoni pelanggan yang puas dengan nilai “A” hasil kecurangan tersebut. Rasa malu dan takut tampaknya sudah hilang dari kamus akademik kita.
Fenomena ini bukan lagi rahasia umum, melainkan rahasia yang diteriakkan. Sayangnya, banyak mahasiswa kini menganggap kecurangan ini sebagai hal lumrah. Integritas akademik sedang berada di titik nadir.
Pergeseran Moral: “Outsourcing” Intelektual
Pergeseran nilai moral menjadi sorotan utama dalam kasus ini. Dulu, mencontek adalah tindakan memalukan yang harus kita sembunyikan rapat-rapat.
Kini, mahasiswa melabeli ulang kecurangan tersebut dengan istilah yang lebih halus: “bantuan profesional”. Mereka menganggap menyewa joki sama wajarnya dengan menggunakan jasa laundry atau pesan antar makanan.
Padahal, pendidikan tinggi bertujuan melatih proses berpikir, bukan sekadar memproduksi tumpukan kertas tugas. Akibatnya, mentalitas instan ini merusak esensi pembelajaran itu sendiri. Mahasiswa membeli nilai, tetapi tidak membeli ilmunya.
Dosen Lalai, Mahasiswa Santai
Mengapa bisnis haram ini bisa subur? Tentu saja, ada hukum permintaan dan penawaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Faktor pemicu utamanya adalah kemalasan mahasiswa yang bertemu dengan kurikulum formalitas. Sering kali, dosen memberikan tugas yang tidak relevan atau terlalu banyak tanpa umpan balik yang jelas.
Di sisi lain, banyak pengajar yang tidak teliti saat memeriksa tugas. Lantas, celah ini dimanfaatkan oleh para joki. Mereka tahu bahwa dosen mungkin hanya melihat sampul dan ketebalan makalah tanpa membaca isinya secara mendalam.
Oleh karena itu, mahasiswa merasa aman. Mereka berpikir, “Untuk apa capek-capek mikir kalau dosennya juga tidak peduli?”.
Inflasi Sarjana dan Korupsi Mental
Dampak jangka panjang dari fenomena ini sangat mengerikan. Bayangkan, kita akan memiliki ribuan sarjana baru setiap tahunnya. Namun, gelar mereka hanyalah cangkang kosong tanpa isi kompetensi.
Inflasi gelar sarjana pun tak terelakkan. Ijazah tidak lagi menjamin kemampuan seseorang. Imbasnya, dunia kerja akan kebanjiran tenaga kerja yang tidak kompeten.
Lebih parah lagi, kebiasaan ini menanamkan benih korupsi sejak dini. Mahasiswa terbiasa mengambil jalan pintas dan memalsukan pencapaian. Jika saat kuliah saja sudah curang, bagaimana saat mereka memegang jabatan penting di masa depan?
Runtuhnya Benteng Integritas
Pada akhirnya, normalisasi joki tugas adalah lonceng kematian bagi integritas pendidikan tinggi. Kampus seharusnya menjadi kawah candradimuka yang mencetak pemikir kritis.
Kita harus menghentikan praktik jual beli gelar ini segera. Ingatlah, ijazah hanyalah selembar kertas. Sebaliknya, pola pikir dan kompetensi adalah aset sejati yang tidak bisa kita beli dengan uang joki.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















