Normalisasi Joki Tugas & Skripsi: Gelar Sarjana Hasil Beli, Bukan Kompetensi

Selasa, 25 November 2025 - 21:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Skripsi rampung tanpa pusing? Jasa joki kini beroperasi terang-terangan tanpa rasa malu. Simak bahaya inflasi gelar sarjana bodong bagi masa depan bangsa. Dok: Istimewa.

Skripsi rampung tanpa pusing? Jasa joki kini beroperasi terang-terangan tanpa rasa malu. Simak bahaya inflasi gelar sarjana bodong bagi masa depan bangsa. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Cobalah ketik kata kunci “jasa kerjakan tugas” atau “joki skripsi” di kolom pencarian Twitter (X) atau Instagram. Seketika, ribuan akun penyedia jasa ilegal ini akan muncul memenuhi layar.

Mereka berpromosi dengan sangat percaya diri. Bahkan, mereka menyertakan testimoni pelanggan yang puas dengan nilai “A” hasil kecurangan tersebut. Rasa malu dan takut tampaknya sudah hilang dari kamus akademik kita.

Fenomena ini bukan lagi rahasia umum, melainkan rahasia yang diteriakkan. Sayangnya, banyak mahasiswa kini menganggap kecurangan ini sebagai hal lumrah. Integritas akademik sedang berada di titik nadir.

Pergeseran Moral: “Outsourcing” Intelektual

Pergeseran nilai moral menjadi sorotan utama dalam kasus ini. Dulu, mencontek adalah tindakan memalukan yang harus kita sembunyikan rapat-rapat.

Kini, mahasiswa melabeli ulang kecurangan tersebut dengan istilah yang lebih halus: “bantuan profesional”. Mereka menganggap menyewa joki sama wajarnya dengan menggunakan jasa laundry atau pesan antar makanan.

Baca Juga :  Operasi Pekat Jaya 2026, Polda Metro Jaya Pastikan Keamanan Jakarta Menjelang Ramadan

Padahal, pendidikan tinggi bertujuan melatih proses berpikir, bukan sekadar memproduksi tumpukan kertas tugas. Akibatnya, mentalitas instan ini merusak esensi pembelajaran itu sendiri. Mahasiswa membeli nilai, tetapi tidak membeli ilmunya.

Dosen Lalai, Mahasiswa Santai

Mengapa bisnis haram ini bisa subur? Tentu saja, ada hukum permintaan dan penawaran.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Faktor pemicu utamanya adalah kemalasan mahasiswa yang bertemu dengan kurikulum formalitas. Sering kali, dosen memberikan tugas yang tidak relevan atau terlalu banyak tanpa umpan balik yang jelas.

Di sisi lain, banyak pengajar yang tidak teliti saat memeriksa tugas. Lantas, celah ini dimanfaatkan oleh para joki. Mereka tahu bahwa dosen mungkin hanya melihat sampul dan ketebalan makalah tanpa membaca isinya secara mendalam.

Oleh karena itu, mahasiswa merasa aman. Mereka berpikir, “Untuk apa capek-capek mikir kalau dosennya juga tidak peduli?”.

Inflasi Sarjana dan Korupsi Mental

Dampak jangka panjang dari fenomena ini sangat mengerikan. Bayangkan, kita akan memiliki ribuan sarjana baru setiap tahunnya. Namun, gelar mereka hanyalah cangkang kosong tanpa isi kompetensi.

Baca Juga :  BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Jabodetabek 1-2 Oktober 2025, Waspada Banjir

Inflasi gelar sarjana pun tak terelakkan. Ijazah tidak lagi menjamin kemampuan seseorang. Imbasnya, dunia kerja akan kebanjiran tenaga kerja yang tidak kompeten.

Lebih parah lagi, kebiasaan ini menanamkan benih korupsi sejak dini. Mahasiswa terbiasa mengambil jalan pintas dan memalsukan pencapaian. Jika saat kuliah saja sudah curang, bagaimana saat mereka memegang jabatan penting di masa depan?

Runtuhnya Benteng Integritas

Pada akhirnya, normalisasi joki tugas adalah lonceng kematian bagi integritas pendidikan tinggi. Kampus seharusnya menjadi kawah candradimuka yang mencetak pemikir kritis.

Kita harus menghentikan praktik jual beli gelar ini segera. Ingatlah, ijazah hanyalah selembar kertas. Sebaliknya, pola pikir dan kompetensi adalah aset sejati yang tidak bisa kita beli dengan uang joki.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketua Mahendra Siregar dan Pejabat Tinggi Mundur Massal di Tengah Gejolak Pasar
Tabung Pink Berisi Gas N2O di Kamar Lula Lahfah, Polisi Ungkap Bahaya Euforia Mematikan
Polresta Malang Bongkar 31 Kasus Narkoba Januari 2026, 36 Tersangka Ditangkap
Basarnas Temukan 60 Bodypack Korban Longsor Cisarua, 20 Orang Masih Dicari
Rotasi Kapolda dan Pejabat Mabes Polri, Kapolri Tegaskan Profesionalisme
Rumah Siti Nurbaya Digeledah Kejagung, Fokus Kasus Korupsi Perkebunan Sawit
Bau Sampah Mengganggu, RDF Rorotan Dihentikan Sementara oleh Pemprov DKI
Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:23 WIB

Ketua Mahendra Siregar dan Pejabat Tinggi Mundur Massal di Tengah Gejolak Pasar

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:05 WIB

Tabung Pink Berisi Gas N2O di Kamar Lula Lahfah, Polisi Ungkap Bahaya Euforia Mematikan

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:50 WIB

Polresta Malang Bongkar 31 Kasus Narkoba Januari 2026, 36 Tersangka Ditangkap

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:06 WIB

Basarnas Temukan 60 Bodypack Korban Longsor Cisarua, 20 Orang Masih Dicari

Jumat, 30 Januari 2026 - 19:49 WIB

Rotasi Kapolda dan Pejabat Mabes Polri, Kapolri Tegaskan Profesionalisme

Berita Terbaru