Trump Tolak Negosiasi Saat Korban Sipil Tembus 1.332 Jiwa

Minggu, 8 Maret 2026 - 20:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konfrontasi tanpa kompromi. Presiden Donald Trump menegaskan perang hanya berakhir jika militer dan kepemimpinan Iran hancur total, sementara Teheran terjebak krisis politik domestik pasca-permintaan maaf Presiden Pezeshkian kepada negara tetangga. Dok: Istimewa.

Konfrontasi tanpa kompromi. Presiden Donald Trump menegaskan perang hanya berakhir jika militer dan kepemimpinan Iran hancur total, sementara Teheran terjebak krisis politik domestik pasca-permintaan maaf Presiden Pezeshkian kepada negara tetangga. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menutup rapat pintu diplomasi dengan Republik Islam Iran. Berbicara di atas pesawat Air Force One, Trump menyatakan bahwa negosiasi tidak lagi relevan di tengah kampanye udara yang terus menghancurkan infrastruktur pertahanan lawan.

Trump memprediksi bahwa perang ini hanya akan berakhir ketika Iran tidak lagi memiliki kekuatan militer yang berfungsi atau pimpinan yang berkuasa. “Pada satu titik, saya rasa tidak akan ada lagi orang yang tersisa untuk mengatakan ‘Kami menyerah’,” tegas Trump kepada wartawan. Pernyataan ini menandai pergeseran arah kebijakan Washington menuju penghancuran total struktur kekuasaan di Teheran.

Perpecahan di Teheran: Maaf yang Memicu Amarah

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mencoba meredam kemarahan negara-negara Teluk melalui langkah diplomatik yang berisiko. Pezeshkian secara terbuka meminta maaf kepada negara tetangga yang terdampak oleh aksi militer Iran.

Namun demikian, langkah tersebut justru memicu perpecahan tajam di internal kepemimpinan Iran. Kelompok garis keras, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengecam pernyataan tersebut sebagai bentuk kelemahan. Tokoh garis keras Hamid Rasai menyebut sikap Pezeshkian tidak profesional dan tidak dapat diterima. Alhasil, kantor kepresidenan terpaksa merilis ulang pernyataan tersebut dengan menghapus bagian permintaan maaf guna meredam gejolak domestik.

Baca Juga :  Kapolda Metro Jaya Hadiri Natal 2025, Ajak Personel Polri Tingkatkan Pengabdian dan Empati

Hujan Rudal di Teluk dan Tragedi “Friendly Fire”

Konfrontasi fisik terus meluas ke seluruh penjuru Timur Tengah. IRGC mengklaim drone mereka berhasil menghantam pusat tempur udara AS di Pangkalan Udara Al Dhafra, Uni Emirat Arab.

Selain itu, serangan balasan Iran juga menyasar tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait dan Kedutaan Besar AS di Baghdad. Situasi semakin kacau setelah militer Kuwait secara tidak sengaja menembak jatuh tiga jet tempur Amerika Serikat akibat kesalahan koordinasi radar. Hingga saat ini, enam personel militer AS terkonfirmasi tewas dalam konflik ini, di mana jenazah mereka telah tiba di pangkalan udara Delaware pada Sabtu.

Korban Sipil dan Kelumpuhan Energi

Dampak kemanusiaan dari perang pekan pertama ini sungguh mengerikan. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, melaporkan sedikitnya 1.332 warga sipil Iran tewas dan ribuan lainnya luka-luka akibat bombardir AS-Israel yang menyasar pusat komando dan situs misil di Teheran serta Karaj.

Baca Juga :  Jaringan Heroin Sumatera Utara Digulung, Satu Kurir Diciduk Bareskrim Bawa 15 kg Heroin

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, ekonomi global berada dalam fase kritis. Penutupan efektif Selat Hormuz telah mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya, raksasa energi seperti Kuwait, Irak, dan Qatar mulai memangkas produksi mereka secara signifikan. Gangguan logistik dan bisnis global ini petugas prediksi akan memicu resesi ekonomi yang parah jika gencatan senjata tidak segera tercapai.

Suksesi Pemimpin Tertinggi dalam 24 Jam

Di tengah hujan misil, struktur kepemimpinan tertinggi Iran bersiap melakukan perubahan besar. Majelis Ahli (Assembly of Experts) dijadwalkan bertemu dalam waktu 24 jam ke depan guna memilih Pemimpin Tertinggi yang baru.

Ayatollah Hossein Mozafari mengonfirmasi bahwa pertemuan darurat ini sangat mendesak guna mengisi kekosongan kekuasaan pasca-kematian Ali Khamenei. Terpilihnya pemimpin baru ini akan menjadi penentu apakah Iran akan memilih jalur perlawanan semesta atau menyerah pada tekanan destruktif Washington di sisa tahun 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aliansi Baru di Pasifik sebagai Bentuk Penyeimbang Kekuatan Tiongkok
Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?
Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?
Pramono Anung Peringatkan Ormas Jangan Paksa Pengusaha Minta THR Jelang Lebaran 2026
Hakim Tolak Gugatan Yaqut, Status Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji Tetap Berlaku
Jasad Pria dengan Luka Tembak di Kepala Ditemukan di Jaksel, Polisi Selidiki Senjata Api
Kasus Suap Terbongkar, KPK Tetapkan 5 Tersangka Termasuk Bupati Rejang Lebong
Program MBG Dievaluasi, 1.512 SPPG Dihentikan Belum Punya Sertifikat Higiene

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 15:26 WIB

Aliansi Baru di Pasifik sebagai Bentuk Penyeimbang Kekuatan Tiongkok

Rabu, 11 Maret 2026 - 14:20 WIB

Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?

Rabu, 11 Maret 2026 - 13:19 WIB

Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?

Rabu, 11 Maret 2026 - 12:34 WIB

Pramono Anung Peringatkan Ormas Jangan Paksa Pengusaha Minta THR Jelang Lebaran 2026

Rabu, 11 Maret 2026 - 12:17 WIB

Hakim Tolak Gugatan Yaqut, Status Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji Tetap Berlaku

Berita Terbaru

Struktur adalah takdir. Melalui lensa Neo-Realisme Kenneth Waltz, kita memahami bahwa konflik dunia bukan disebabkan oleh sifat jahat manusia, melainkan oleh sistem internasional yang memaksa setiap negara untuk terus waspada demi bertahan hidup. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?

Rabu, 11 Mar 2026 - 14:20 WIB

Politik adalah cermin manusia. Melalui kacamata Realisme Klasik Hans Morgenthau, kita memahami bahwa konflik global bukan sekadar masalah teknis diplomatik, melainkan manifestasi dari dorongan biologis manusia untuk mendominasi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?

Rabu, 11 Mar 2026 - 13:19 WIB