WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID β Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menutup rapat pintu diplomasi dengan Republik Islam Iran. Berbicara di atas pesawat Air Force One, Trump menyatakan bahwa negosiasi tidak lagi relevan di tengah kampanye udara yang terus menghancurkan infrastruktur pertahanan lawan.
Trump memprediksi bahwa perang ini hanya akan berakhir ketika Iran tidak lagi memiliki kekuatan militer yang berfungsi atau pimpinan yang berkuasa. “Pada satu titik, saya rasa tidak akan ada lagi orang yang tersisa untuk mengatakan ‘Kami menyerah’,” tegas Trump kepada wartawan. Pernyataan ini menandai pergeseran arah kebijakan Washington menuju penghancuran total struktur kekuasaan di Teheran.
Perpecahan di Teheran: Maaf yang Memicu Amarah
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mencoba meredam kemarahan negara-negara Teluk melalui langkah diplomatik yang berisiko. Pezeshkian secara terbuka meminta maaf kepada negara tetangga yang terdampak oleh aksi militer Iran.
Namun demikian, langkah tersebut justru memicu perpecahan tajam di internal kepemimpinan Iran. Kelompok garis keras, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengecam pernyataan tersebut sebagai bentuk kelemahan. Tokoh garis keras Hamid Rasai menyebut sikap Pezeshkian tidak profesional dan tidak dapat diterima. Alhasil, kantor kepresidenan terpaksa merilis ulang pernyataan tersebut dengan menghapus bagian permintaan maaf guna meredam gejolak domestik.
Hujan Rudal di Teluk dan Tragedi “Friendly Fire”
Konfrontasi fisik terus meluas ke seluruh penjuru Timur Tengah. IRGC mengklaim drone mereka berhasil menghantam pusat tempur udara AS di Pangkalan Udara Al Dhafra, Uni Emirat Arab.
Selain itu, serangan balasan Iran juga menyasar tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait dan Kedutaan Besar AS di Baghdad. Situasi semakin kacau setelah militer Kuwait secara tidak sengaja menembak jatuh tiga jet tempur Amerika Serikat akibat kesalahan koordinasi radar. Hingga saat ini, enam personel militer AS terkonfirmasi tewas dalam konflik ini, di mana jenazah mereka telah tiba di pangkalan udara Delaware pada Sabtu.
Korban Sipil dan Kelumpuhan Energi
Dampak kemanusiaan dari perang pekan pertama ini sungguh mengerikan. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, melaporkan sedikitnya 1.332 warga sipil Iran tewas dan ribuan lainnya luka-luka akibat bombardir AS-Israel yang menyasar pusat komando dan situs misil di Teheran serta Karaj.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, ekonomi global berada dalam fase kritis. Penutupan efektif Selat Hormuz telah mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya, raksasa energi seperti Kuwait, Irak, dan Qatar mulai memangkas produksi mereka secara signifikan. Gangguan logistik dan bisnis global ini petugas prediksi akan memicu resesi ekonomi yang parah jika gencatan senjata tidak segera tercapai.
Suksesi Pemimpin Tertinggi dalam 24 Jam
Di tengah hujan misil, struktur kepemimpinan tertinggi Iran bersiap melakukan perubahan besar. Majelis Ahli (Assembly of Experts) dijadwalkan bertemu dalam waktu 24 jam ke depan guna memilih Pemimpin Tertinggi yang baru.
Ayatollah Hossein Mozafari mengonfirmasi bahwa pertemuan darurat ini sangat mendesak guna mengisi kekosongan kekuasaan pasca-kematian Ali Khamenei. Terpilihnya pemimpin baru ini akan menjadi penentu apakah Iran akan memilih jalur perlawanan semesta atau menyerah pada tekanan destruktif Washington di sisa tahun 2026 ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















