BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Rusia menyatakan kesiapannya untuk menghadapi dunia tanpa batasan kontrol senjata nuklir setelah perjanjian New START berakhir pekan ini. Pejabat senior Moskow menegaskan hal tersebut saat melakukan kunjungan strategis ke Beijing pada Selasa (3/2/2026).
Kecuali kedua belah pihak mencapai pemahaman di menit-menit terakhir, Washington dan Moskow akan beroperasi tanpa batasan pada arsenal nuklir strategis jarak jauh mereka. Situasi ini merupakan yang pertama kalinya terjadi dalam lebih dari 50 tahun terakhir. “Ini adalah momen baru, realitas baru—kami siap untuk itu,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, kepada kantor berita Rusia di Beijing.
Kegagalan Diplomasi dan Diamnya Washington
Perjanjian New START yang diteken pada 2010 ini membatasi jumlah hulu ledak strategis yang dikerahkan hingga 1.550 unit. Namun, Presiden Donald Trump sebelumnya telah mengindikasikan bahwa ia akan membiarkan perjanjian tersebut kedaluwarsa. Terlepas dari usulan Rusia untuk mempertahankan batas tersebut selama satu tahun tambahan, Trump belum memberikan respons formal hingga saat ini.
Ryabkov menilai sikap diam Amerika Serikat sebagai sebuah jawaban yang jelas. “Kurangnya jawaban juga merupakan sebuah jawaban,” tegasnya. Akibatnya, para pendukung kontrol senjata di Moskow dan Washington khawatir hilangnya perjanjian ini akan menghancurkan kepercayaan dan kemampuan untuk memverifikasi niat nuklir lawan. Alhasil, risiko perlombaan senjata nuklir yang tak terkendali kini membayangi stabilitas global.
Peringatan dari Obama dan Medvedev
Mantan Presiden AS Barack Obama, yang menandatangani perjanjian tersebut bersama Dmitry Medvedev, mendesak Kongres AS untuk segera turun tangan. Melalui platform X, Obama memperingatkan bahwa berakhirnya New START akan menghapus diplomasi selama puluhan tahun secara sia-sia. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa langkah ini hanya akan membuat dunia menjadi tempat yang kurang aman.
Senada dengan Obama, Dmitry Medvedev juga menyuarakan kekhawatiran yang sama. Ia menyatakan bahwa dunia seharusnya merasa khawatir jika perjanjian tersebut berakhir tanpa adanya kejelasan mengenai langkah selanjutnya. Bahkan, Medvedev memberikan gambaran suram bahwa situasi ini akan mempercepat perputaran “Jam Kiamat” (Doomsday Clock).
Ketegangan China dan Ancaman di Greenland
Di sisi lain, Amerika Serikat telah menyarankan agar China bergabung dalam pembicaraan kontrol senjata sebagai kekuatan nuklir terbesar ketiga di dunia. Namun, Beijing secara tegas menunjukkan ketidaktertarikan untuk ikut serta dalam pakta tersebut. Ryabkov sendiri menyatakan bahwa Moskow sangat menghormati posisi China yang menolak keterlibatan tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain isu hulu ledak, Ryabkov juga meluncurkan ancaman terkait wilayah otonom Denmark, Greenland. Ia menegaskan bahwa jika Amerika Serikat nekat memasang sistem pertahanan rudal di Greenland, maka Rusia akan segera mengambil tindakan militer balasan. Ancaman ini menambah lapisan ketegangan baru bagi anggota NATO di kawasan Nordik seiring dengan runtuhnya arsitektur keamanan nuklir dunia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















