RIYADH, POSNEWS.CO.ID – Konflik berlapis di Yaman memasuki babak baru yang berbahaya pada Jumat ini. Pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Arab Saudi resmi meluncurkan operasi militer terhadap Dewan Transisi Selatan (STC) di provinsi Hadramout yang kaya minyak. Gubernur Provinsi, Salem Al-Khanbashi, mengonfirmasi langkah tegas tersebut.
Melalui siaran televisi pemerintah dari ibu kota Arab Saudi, Riyadh, Gubernur Al-Khanbashi menegaskan tujuan operasi ini. Pihaknya bertekad memulihkan otoritas negara serta menjamin keamanan dan stabilitas di provinsi tersebut, khususnya di sekitar institusi pemerintah dan fasilitas strategis.
Langkah “Preventif”, Bukan Perang?
Al-Khanbashi menjelaskan bahwa pemerintah mengambil langkah ini setelah upaya dialog untuk meredam ketegangan menemui jalan buntu berulang kali. Ia menuding pasukan afiliasi STC telah merusak pengaturan keamanan lokal dan menantang otoritas pemerintah yang sah secara internasional.
Namun, Gubernur menekankan sebuah narasi hati-hati. Ia meminta publik tidak melihat operasi ini sebagai “perang” atau upaya eskalasi. Sebaliknya, ia melabelinya sebagai “langkah keamanan preventif”. Operasi ini bertujuan menetralisir senjata, menghentikan penggunaan kamp yang mengancam keamanan Hadramout, serta melindungi wilayah tersebut dari potensi “skenario kekacauan”.
Pergerakan Pasukan dari Perbatasan Saudi
Sementara itu, situasi di lapangan menunjukkan mobilisasi serius. Berbicara dengan syarat anonim, seorang pejabat militer mengungkapkan bahwa ratusan kendaraan dan personel Pasukan Perisai Nasional Yaman (National Shield Forces) dukungan Saudi telah meninggalkan posisi di dekat perbatasan Saudi. Mereka bergerak untuk berpartisipasi dalam operasi anti-STC tersebut.
Hingga kini, militer belum merilis rincian mengenai cakupan operasi atau kemungkinan korban jiwa. Pihak STC pun belum memberikan komentar resmi atas pengumuman ini. Namun, dalam pernyataan sebelumnya, dewan tersebut menyatakan pasukan mereka dalam kesiapan tempur tinggi dan siaga penuh.
Perebutan Emas Hitam dan Garis Merah
Hadramout, provinsi terbesar di Yaman dan pusat produksi minyak utama, telah menyaksikan ketegangan politik dan militer yang meningkat dalam beberapa hari terakhir. Rivalitas antara pemerintah Yaman dan STC menjadi pemicu utamanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Suhu konflik memanas drastis setelah STC merebut sebagian besar wilayah Hadramout dan provinsi timur Al-Mahrah bulan lalu. Arab Saudi menganggap area ini sebagai “garis merah”. Hal ini karena kedekatannya dengan perbatasan Saudi dan konsentrasi cadangan energi Yaman yang tersisa di sana.
Konflik ini menyoroti keretakan dalam koalisi anti-Houthi. Yaman telah terperosok dalam konflik sejak 2014 saat Houthi merebut Sanaa. Meskipun STC—yang berdiri pada 2017 dengan dukungan UEA—bergabung dengan koalisi pimpinan Saudi dan Dewan Kepemimpinan Presiden pada 2022, kelompok ini terus mendorong kedaulatan selatan. Ambisi ini kerap memicu sengketa berulang mengenai pembagian kekuasaan dan kendali sumber daya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
















