Pemulangan Harta Karun: Politik Restitusi Benda Sejarah dari Museum Eropa

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Museum Eropa penuh barang curian? Gelombang restitusi menuntut kembalinya harta karun kolonial. Simak debat panas antara hak milik budaya dan kesiapan museum kita. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Museum Eropa penuh barang curian? Gelombang restitusi menuntut kembalinya harta karun kolonial. Simak debat panas antara hak milik budaya dan kesiapan museum kita. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Jika Anda berjalan-jalan di museum megah London atau Paris, Anda akan melihat ribuan artefak eksotis. Benda-benda itu berasal dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Namun, di balik keindahan etalase kaca, tersimpan sejarah kelam penjarahan.

Negara-negara bekas jajahan kini bersuara lantang. Mereka menuntut museum Barat untuk memulangkan “harta karun” yang nenek moyang mereka curi di masa kolonial.

Indonesia berdiri di garis depan perjuangan ini. Pemerintah kita mendesak Belanda dan negara Eropa lainnya untuk mengembalikan benda-benda pusaka. Gelombang restitusi ini bukan sekadar soal memindahkan barang, melainkan soal memulihkan harga diri bangsa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Museum Universal” vs Maling Berbudaya

Perdebatan moral berlangsung sengit. Pihak museum Barat sering bersembunyi di balik konsep “Museum Universal”. Menurut mereka, artefak tersebut adalah warisan dunia yang harus mereka jaga demi kepentingan umat manusia.

Mereka mengklaim memiliki fasilitas terbaik untuk merawat benda-benda rapuh itu. Selain itu, mereka berdalih bahwa jutaan turis global bisa melihatnya di sana.

Baca Juga :  Sahroni Diperas KPK Gadungan Rp300 Juta, Pelaku Ngaku Pimpinan Langsung Ditangkap

Sebaliknya, negara asal menolak argumen tersebut mentah-mentah. Mereka memandang museum Barat sebagai penadah barang curian.

“Itu adalah identitas kami, dicuri lewat kekerasan perang,” tegas para aktivis. Bagi mereka, tidak ada alasan pembenar untuk menyimpan barang hasil rampokan, seberapa bagus pun lemari pajangannya.

Kembalinya Keris Diponegoro dan Emas Lombok

Perjuangan panjang ini akhirnya membuahkan hasil manis. Pemerintah Belanda mulai melunak dalam beberapa tahun terakhir. Mereka menyadari beban dosa masa lalu.

Hasilnya, sejumlah artefak penting akhirnya pulang ke tanah air. Contohnya, keris milik Pangeran Diponegoro yang legendaris. Belanda juga mengembalikan “Harta Karun Lombok”, koleksi perhiasan emas dan permata yang tentara kolonial jarah dari Istana Cakranegara pada 1894.

Momen serah terima ini sangat emosional. Benda-benda itu bukan sekadar emas. Justru, mereka adalah saksi bisu dari pertumpahan darah dan perlawanan rakyat Nusantara melawan penjajah.

Tantangan Kesiapan Tuan Rumah

Meskipun demikian, kepulangan artefak ini membawa tantangan domestik yang serius. Pertanyaan kritis pun muncul: Apakah museum di Indonesia sudah benar-benar siap?

Baca Juga :  Evolusi Sabun dalam Menjaga Higiene Manusia

Merawat benda berusia ratusan tahun membutuhkan teknologi kontrol suhu dan kelembapan yang canggih. Sayangnya, banyak museum di daerah masih memiliki fasilitas yang memprihatinkan.

Selain itu, sistem keamanan menjadi sorotan. Kasus pencurian koleksi Museum Nasional beberapa waktu lalu menjadi tamparan keras. Kita membutuhkan kurator handal dan pendanaan yang kuat agar harta karun yang sudah susah payah kembali ini tidak rusak atau hilang lagi.

Mengakui Luka Sejarah

Pada akhirnya, politik restitusi ini melampaui urusan logistik semata. Ini adalah tentang keadilan sejarah.

Negara kolonial harus mengakui bahwa kekayaan museum mereka berdiri di atas penderitaan bangsa lain. Mengembalikan artefak adalah langkah awal untuk menyembuhkan luka masa lalu.

Bagi Indonesia, tugas kita belum selesai saat barang itu tiba di bandara. Kita wajib merawatnya dengan standar dunia. Ingatlah, benda-benda ini adalah bukti bahwa bangsa kita memiliki peradaban tinggi yang pernah orang lain coba hapuskan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Komnas HAM Ingatkan Polisi, Pengamanan Aksi Mahasiswa Harus Humanis
Ribuan Mahasiswa Siap Aksi di Bundaran HI Besok, Bawa 5 Tuntutan
KPK Belum Dalami Dugaan Amplop untuk Menhut, Fokus Kasus Kuansing
Jual Beli Data hingga Judol Meresahkan, Kapolri dan Menkomdigi Perkuat Kolaborasi
MUI Soroti Klaim Imam Mahdi di Bangkalan, Korban Rugi Rp1,3 Miliar
Musim Hujan Mundur hingga 30 Hari, BMKG Ingatkan Ancaman Banjir Akhir Tahun
Harta Pejabat Tak Sesuai LHKPN Bisa Dirampas? Ini Usulan Wakil Ketua KPK
Api Masih Mengintai di Lahan Gambut, 17.942 Hektare Karhutla Belum Padam

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:06 WIB

Komnas HAM Ingatkan Polisi, Pengamanan Aksi Mahasiswa Harus Humanis

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Ribuan Mahasiswa Siap Aksi di Bundaran HI Besok, Bawa 5 Tuntutan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:24 WIB

KPK Belum Dalami Dugaan Amplop untuk Menhut, Fokus Kasus Kuansing

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:56 WIB

Jual Beli Data hingga Judol Meresahkan, Kapolri dan Menkomdigi Perkuat Kolaborasi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:36 WIB

MUI Soroti Klaim Imam Mahdi di Bangkalan, Korban Rugi Rp1,3 Miliar

Berita Terbaru