Rusia Semprot Jepang: Moskow Tuntut Memorial Korban Ketimbang Yasukuni

Jumat, 26 Desember 2025 - 15:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Moskow murka! Rencana PM Jepang ke Kuil Yasukuni picu kecaman keras Rusia. Zakharova tuntut Jepang bangun tugu korban, bukan hormate penjahat perang. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Moskow murka! Rencana PM Jepang ke Kuil Yasukuni picu kecaman keras Rusia. Zakharova tuntut Jepang bangun tugu korban, bukan hormate penjahat perang. Dok: Istimewa.

MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Hubungan diplomatik antara Moskow dan Tokyo kembali memanas karena hantu masa lalu. Rusia secara terbuka mengutuk Jepang pada Kamis (26/12/2025).

Kecaman ini muncul sebagai respons atas laporan bahwa Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mungkin akan mengunjungi Kuil Yasukuni yang kontroversial.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, tidak menahan diri dalam briefing persnya. Secara tegas, ia mendesak Tokyo untuk menghadapi masa lalunya dengan jujur.

“Jepang harus melakukan penebusan dosa yang tulus kepada para korban,” ujar Zakharova. Menurutnya, upaya Jepang untuk memoles atau “memutihkan” (whitewash) sejarah agresi militerismenya tidak dapat diterima oleh komunitas internasional.

Yasukuni: Simbol Militerisme yang Menyakitkan

Zakharova menyoroti status Kuil Yasukuni yang bermasalah. Faktanya, kuil Shinto di Tokyo tersebut bukan sekadar tempat ibadah biasa. Kuil ini mengabadikan jiwa jutaan korban perang Jepang, termasuk para penjahat perang Kelas-A yang telah dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh.

“Kuil Yasukuni adalah simbol militerisme Jepang,” tegas Zakharova.

Ia mengingatkan dunia akan kekejaman masa lalu. Meskipun sulit membayangkan jumlah nyawa yang melayang akibat militerisme Jepang, Zakharova menekankan bahwa semua itu adalah fakta sejarah yang terdokumentasi. Kebrutalan terhadap warga sipil tidak bisa dihapus begitu saja.

Baca Juga :  Benteng Arktik: Kanada dan Prancis Buka Konsulat di Nuuk

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Usul Rusia: Bangun Memorial Korban

Alih-alih mengunjungi kuil yang menghormati agresor, Rusia memberikan saran alternatif yang menohok. Zakharova menyarankan agar pemerintah Jepang membangun sebuah aula peringatan khusus.

Gedung tersebut harus didedikasikan untuk para korban militerisme Jepang, bukan pelakunya. Lantas, pejabat Jepang harus rutin memberikan penghormatan di sana.

“Mereka harus mengirim perwakilan untuk memberikan penghormatan di sana setiap tahun, atau bahkan lebih sering, sebagai cara untuk menebus kejahatan yang telah dilakukannya,” usulnya.

Pada akhirnya, Moskow kembali mendesak Jepang untuk meninggalkan upaya revisi sejarah. Pengakuan penuh atas hasil Perang Dunia II menjadi syarat mutlak bagi hubungan yang sehat dengan negara-negara tetangga yang pernah menjadi korban.

Opini & Argumentasi: Luka Sejarah sebagai Senjata Geopolitik

Perseteruan verbal ini menunjukkan bahwa Perang Dunia II belum benar-benar berakhir di Asia Timur. Isu sejarah sering kali bukan sekadar soal masa lalu, melainkan alat tawar politik di masa kini.

Baca Juga :  Amnesti dan Abolisi – Jalan Pintas atau Luka Hukum yang Menganga?

Pertama, sikap Jepang yang dianggap “ambigu” terhadap kejahatan perangnya berbeda drastis dengan Jerman. Jerman secara terbuka dan konsisten meminta maaf serta membangun monumen untuk korban Holocaust. Sebaliknya, kunjungan pejabat Jepang ke Yasukuni selalu dilihat oleh China, Korea, dan Rusia sebagai bentuk penyangkalan sejarah (historical denial).

Kedua, ada korelasi kuat antara kebangkitan nasionalisme Jepang di bawah PM Sanae Takaichi dengan respons keras negara tetangga. Jika Jepang terus memperkuat militernya (remiliterisasi) sambil menghormati simbol agresi masa lalu, wajar jika tetangganya merasa terancam. Hal ini menciptakan “Dilema Keamanan” yang nyata.

Ketiga, Rusia menggunakan isu ini untuk mendelegitimasi posisi Jepang dalam sengketa teritorial Kuril (Wilayah Utara) dan aliansi Jepang dengan AS. Dengan melabeli Jepang sebagai “apologet militerisme”, Moskow memperkuat narasi moralnya sendiri sebagai pemenang perang anti-fasis.

Kesimpulannya, selama Jepang tidak memisahkan penghormatan leluhur dengan pemujaan penjahat perang di Yasukuni, rekonsiliasi regional di Asia Timur akan tetap menjadi mimpi yang jauh dari kenyataan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bareskrim Polri Tingkatkan Kasus Narkotika AKBP Didik Putra Kuncoro ke Penyidikan
Valentine 2026: Mengapa Experience Gift Kini Lebih Populer?
Prabowo: Hukum Tak Boleh Jadi Alat Serang Lawan Politik, Siap Gunakan Abolisi-Amnesti
Lapor KTP Hilang di Pospol Jembatan Tiga, Motor Warga Penjaringan Malah Raib
Self Love: Merayakan Solo Valentine dengan Bangga
Penembakan Pesawat Smart Air di Korowai, Polri-TNI Buru Elkius Kobak
Dari Lumpur ke Arsitektur Ikonik: Evolusi Batu Bata
Tirai Besi Digital: Rusia Blokir WhatsApp dan Paksa Migrasi

Berita Terkait

Jumat, 13 Februari 2026 - 21:20 WIB

Bareskrim Polri Tingkatkan Kasus Narkotika AKBP Didik Putra Kuncoro ke Penyidikan

Jumat, 13 Februari 2026 - 21:09 WIB

Valentine 2026: Mengapa Experience Gift Kini Lebih Populer?

Jumat, 13 Februari 2026 - 20:29 WIB

Prabowo: Hukum Tak Boleh Jadi Alat Serang Lawan Politik, Siap Gunakan Abolisi-Amnesti

Jumat, 13 Februari 2026 - 20:10 WIB

Lapor KTP Hilang di Pospol Jembatan Tiga, Motor Warga Penjaringan Malah Raib

Jumat, 13 Februari 2026 - 20:04 WIB

Self Love: Merayakan Solo Valentine dengan Bangga

Berita Terbaru

Ilustrasi, Cinta tidak harus datang dari orang lain. Di tahun 2026, merayakan Valentine sendirian bukan lagi tanda kesepian, melainkan pernyataan kemandirian dan kesehatan mental yang kuat. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Self Love: Merayakan Solo Valentine dengan Bangga

Jumat, 13 Feb 2026 - 20:04 WIB