MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Hubungan diplomatik antara Moskow dan Tokyo kembali memanas karena hantu masa lalu. Rusia secara terbuka mengutuk Jepang pada Kamis (26/12/2025).
Kecaman ini muncul sebagai respons atas laporan bahwa Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mungkin akan mengunjungi Kuil Yasukuni yang kontroversial.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, tidak menahan diri dalam briefing persnya. Secara tegas, ia mendesak Tokyo untuk menghadapi masa lalunya dengan jujur.
“Jepang harus melakukan penebusan dosa yang tulus kepada para korban,” ujar Zakharova. Menurutnya, upaya Jepang untuk memoles atau “memutihkan” (whitewash) sejarah agresi militerismenya tidak dapat diterima oleh komunitas internasional.
Yasukuni: Simbol Militerisme yang Menyakitkan
Zakharova menyoroti status Kuil Yasukuni yang bermasalah. Faktanya, kuil Shinto di Tokyo tersebut bukan sekadar tempat ibadah biasa. Kuil ini mengabadikan jiwa jutaan korban perang Jepang, termasuk para penjahat perang Kelas-A yang telah dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh.
“Kuil Yasukuni adalah simbol militerisme Jepang,” tegas Zakharova.
Ia mengingatkan dunia akan kekejaman masa lalu. Meskipun sulit membayangkan jumlah nyawa yang melayang akibat militerisme Jepang, Zakharova menekankan bahwa semua itu adalah fakta sejarah yang terdokumentasi. Kebrutalan terhadap warga sipil tidak bisa dihapus begitu saja.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Usul Rusia: Bangun Memorial Korban
Alih-alih mengunjungi kuil yang menghormati agresor, Rusia memberikan saran alternatif yang menohok. Zakharova menyarankan agar pemerintah Jepang membangun sebuah aula peringatan khusus.
Gedung tersebut harus didedikasikan untuk para korban militerisme Jepang, bukan pelakunya. Lantas, pejabat Jepang harus rutin memberikan penghormatan di sana.
“Mereka harus mengirim perwakilan untuk memberikan penghormatan di sana setiap tahun, atau bahkan lebih sering, sebagai cara untuk menebus kejahatan yang telah dilakukannya,” usulnya.
Pada akhirnya, Moskow kembali mendesak Jepang untuk meninggalkan upaya revisi sejarah. Pengakuan penuh atas hasil Perang Dunia II menjadi syarat mutlak bagi hubungan yang sehat dengan negara-negara tetangga yang pernah menjadi korban.
Opini & Argumentasi: Luka Sejarah sebagai Senjata Geopolitik
Perseteruan verbal ini menunjukkan bahwa Perang Dunia II belum benar-benar berakhir di Asia Timur. Isu sejarah sering kali bukan sekadar soal masa lalu, melainkan alat tawar politik di masa kini.
Pertama, sikap Jepang yang dianggap “ambigu” terhadap kejahatan perangnya berbeda drastis dengan Jerman. Jerman secara terbuka dan konsisten meminta maaf serta membangun monumen untuk korban Holocaust. Sebaliknya, kunjungan pejabat Jepang ke Yasukuni selalu dilihat oleh China, Korea, dan Rusia sebagai bentuk penyangkalan sejarah (historical denial).
Kedua, ada korelasi kuat antara kebangkitan nasionalisme Jepang di bawah PM Sanae Takaichi dengan respons keras negara tetangga. Jika Jepang terus memperkuat militernya (remiliterisasi) sambil menghormati simbol agresi masa lalu, wajar jika tetangganya merasa terancam. Hal ini menciptakan “Dilema Keamanan” yang nyata.
Ketiga, Rusia menggunakan isu ini untuk mendelegitimasi posisi Jepang dalam sengketa teritorial Kuril (Wilayah Utara) dan aliansi Jepang dengan AS. Dengan melabeli Jepang sebagai “apologet militerisme”, Moskow memperkuat narasi moralnya sendiri sebagai pemenang perang anti-fasis.
Kesimpulannya, selama Jepang tidak memisahkan penghormatan leluhur dengan pemujaan penjahat perang di Yasukuni, rekonsiliasi regional di Asia Timur akan tetap menjadi mimpi yang jauh dari kenyataan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















