JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Menguap sering kali dianggap sebagai tanda kebosanan atau kantuk belaka. Namun demikian, para ilmuwan mulai menemukan bahwa ada fungsi yang jauh lebih kompleks di balik tindakan refleks ini daripada yang kita duga sebelumnya.
Penelitian di berbagai institusi bergengsi, termasuk University of Albany, University of Leeds, dan University of London, telah melakukan eksplorasi mendalam mengenai penyebab dan kegunaan menguap. Alhasil, pandangan tradisional mengenai menguap kini mulai bergeser menuju penjelasan neurologis dan sosiopsikologis yang lebih modern.
Mitos Oksigen vs Teori Pendinginan Otak
Masyarakat umum lama memercayai bahwa kita menguap karena tubuh membutuhkan asupan oksigen tambahan. Namun, riset terbaru mematahkan asumsi tersebut. Dr. Andrew Gallup dari University of Albany menemukan bahwa menaikkan atau menurunkan kadar oksigen dalam darah tidak memicu reaksi menguap.
Sebagai gantinya, tim peneliti menemukan bahwa menguap membantu mendinginkan otak agar bekerja lebih efektif. Menguap terjadi saat suhu otak meningkat; proses ini mengirimkan aliran darah yang lebih dingin ke otak guna menjaga efisiensi mental. Bahkan, eksperimen menunjukkan bahwa mereka yang bernapas melalui hidung atau menempelkan kompres dingin di dahi jauh lebih jarang menguap dibandingkan mereka yang bernapas lewat mulut atau menggunakan kompres hangat.
Empati: Mengapa Menguap Bisa Menular?
Fenomena “menguap menular” merupakan peningkatan peluang seseorang untuk menguap setelah melihat atau mendengar orang lain melakukan hal serupa. Menariknya, hanya manusia dan simpanse yang menunjukkan perilaku ini secara nyata.
Para psikolog di Leeds University, Inggris, membuktikan kaitan erat antara menguap menular dengan empati—kemampuan untuk memahami keadaan emosional orang lain. Dalam studi tersebut, mahasiswa psikologi (yang umumnya memiliki empati tinggi) menguap rata-rata 5,5 kali dalam ruang tunggu. Sebaliknya, mahasiswa teknik (yang cenderung fokus pada sistem dan objek) hanya menguap rata-rata 1,5 kali. Hal ini menunjukkan bahwa semakin peka seseorang terhadap perasaan orang lain, semakin rentan pula mereka terhadap “infeksi” menguap tersebut.
Studi pada Autisme dan Kurangnya Respon
Dukungan terhadap teori empati ini juga datang dari Atsushi Senju di University of London. Ia meneliti anak-anak dengan gangguan spektrum autisme, yang secara perkembangan memiliki hambatan dalam koneksi emosional dan empati.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hasilnya sangat konsisten; anak-anak dengan autisme menunjukkan kurangnya reaksi terhadap video orang yang sedang menguap. Sementara itu, anak-anak non-autistik memberikan respon menguap yang jauh lebih sering. Temuan ini mempertegas bahwa mekanisme saraf yang memicu menguap menular berkaitan langsung dengan jaringan sosial dan emosional di dalam otak manusia.
Perspektif Evolusi: Menjaga Kewaspadaan Kelompok
Mengapa kemampuan menular ini terbentuk selama jutaan tahun? Beberapa pakar berpendapat bahwa menguap menular berkembang sebagai cara untuk menjaga kewaspadaan kelompok hewan.
Secara fungsional, saat satu anggota kelompok menguap karena mengantuk, tindakan tersebut seolah mengirimkan sinyal: “Saya butuh istirahat, pastikan kalian tetap terjaga”. Oleh karena itu, menguap menular bisa menjadi reaksi instingtual untuk mengingatkan seluruh kawanan agar tetap waspada terhadap bahaya yang mungkin datang. Pada akhirnya, teori ini menyiratkan bahwa menguap adalah warisan evolusi manusia purba untuk selalu siap dalam pengerahan fisik sewaktu-waktu di alam liar yang berbahaya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















