Misteri Menguap Menular: Mengapa Otak Perlu Pendingin dan Kaitan Erat dengan Empati Manusia

Jumat, 6 Maret 2026 - 11:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bukan sekadar kantuk. Sains terbaru mengungkap bahwa menguap adalah mekanisme canggih otak untuk mendinginkan suhu internal, sementara sifat

Ilustrasi, Bukan sekadar kantuk. Sains terbaru mengungkap bahwa menguap adalah mekanisme canggih otak untuk mendinginkan suhu internal, sementara sifat "menularnya" menjadi indikator kunci tingkat empati sosial seseorang. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Menguap sering kali dianggap sebagai tanda kebosanan atau kantuk belaka. Namun demikian, para ilmuwan mulai menemukan bahwa ada fungsi yang jauh lebih kompleks di balik tindakan refleks ini daripada yang kita duga sebelumnya.

Penelitian di berbagai institusi bergengsi, termasuk University of Albany, University of Leeds, dan University of London, telah melakukan eksplorasi mendalam mengenai penyebab dan kegunaan menguap. Alhasil, pandangan tradisional mengenai menguap kini mulai bergeser menuju penjelasan neurologis dan sosiopsikologis yang lebih modern.

Mitos Oksigen vs Teori Pendinginan Otak

Masyarakat umum lama memercayai bahwa kita menguap karena tubuh membutuhkan asupan oksigen tambahan. Namun, riset terbaru mematahkan asumsi tersebut. Dr. Andrew Gallup dari University of Albany menemukan bahwa menaikkan atau menurunkan kadar oksigen dalam darah tidak memicu reaksi menguap.

Sebagai gantinya, tim peneliti menemukan bahwa menguap membantu mendinginkan otak agar bekerja lebih efektif. Menguap terjadi saat suhu otak meningkat; proses ini mengirimkan aliran darah yang lebih dingin ke otak guna menjaga efisiensi mental. Bahkan, eksperimen menunjukkan bahwa mereka yang bernapas melalui hidung atau menempelkan kompres dingin di dahi jauh lebih jarang menguap dibandingkan mereka yang bernapas lewat mulut atau menggunakan kompres hangat.

Baca Juga :  Penipuan Rekrutmen Akpol Rp1 Miliar, Abah Jempol Dibekuk di Tol Rangkasbitung

Empati: Mengapa Menguap Bisa Menular?

Fenomena “menguap menular” merupakan peningkatan peluang seseorang untuk menguap setelah melihat atau mendengar orang lain melakukan hal serupa. Menariknya, hanya manusia dan simpanse yang menunjukkan perilaku ini secara nyata.

Para psikolog di Leeds University, Inggris, membuktikan kaitan erat antara menguap menular dengan empati—kemampuan untuk memahami keadaan emosional orang lain. Dalam studi tersebut, mahasiswa psikologi (yang umumnya memiliki empati tinggi) menguap rata-rata 5,5 kali dalam ruang tunggu. Sebaliknya, mahasiswa teknik (yang cenderung fokus pada sistem dan objek) hanya menguap rata-rata 1,5 kali. Hal ini menunjukkan bahwa semakin peka seseorang terhadap perasaan orang lain, semakin rentan pula mereka terhadap “infeksi” menguap tersebut.

Studi pada Autisme dan Kurangnya Respon

Dukungan terhadap teori empati ini juga datang dari Atsushi Senju di University of London. Ia meneliti anak-anak dengan gangguan spektrum autisme, yang secara perkembangan memiliki hambatan dalam koneksi emosional dan empati.

Baca Juga :  Bakar Sekolah di Pegunungan Bintang, TNI-Polri Gempur Balik KKB di Kiwirok

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hasilnya sangat konsisten; anak-anak dengan autisme menunjukkan kurangnya reaksi terhadap video orang yang sedang menguap. Sementara itu, anak-anak non-autistik memberikan respon menguap yang jauh lebih sering. Temuan ini mempertegas bahwa mekanisme saraf yang memicu menguap menular berkaitan langsung dengan jaringan sosial dan emosional di dalam otak manusia.

Perspektif Evolusi: Menjaga Kewaspadaan Kelompok

Mengapa kemampuan menular ini terbentuk selama jutaan tahun? Beberapa pakar berpendapat bahwa menguap menular berkembang sebagai cara untuk menjaga kewaspadaan kelompok hewan.

Secara fungsional, saat satu anggota kelompok menguap karena mengantuk, tindakan tersebut seolah mengirimkan sinyal: “Saya butuh istirahat, pastikan kalian tetap terjaga”. Oleh karena itu, menguap menular bisa menjadi reaksi instingtual untuk mengingatkan seluruh kawanan agar tetap waspada terhadap bahaya yang mungkin datang. Pada akhirnya, teori ini menyiratkan bahwa menguap adalah warisan evolusi manusia purba untuk selalu siap dalam pengerahan fisik sewaktu-waktu di alam liar yang berbahaya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Strategi Unifikasi Beijing: Tiongkok Pertegas Perlawanan Terhadap Kemerdekaan Taiwan dan Intervensi Asing
Teknologi Lahan Basah Buatan: Rahasia Akar Alami dalam Memurnikan Limbah Air
Modus Periksa Surat Kendaraan, Polisi Gadungan Kakak-Adik Bunuh Pemancing di Bandung
Polri Pererat Silaturahmi dengan Warga, Progres SMA Kemala Taruna Bhayangkara 60 Persen
Upaya Mediasi Prabowo untuk Redakan Konflik AS–Iran Didukung Negara Timur Tengah
Rampungkan 10 Rekomendasi Reformasi Polri, Jimly Serahkan ke Presiden Sebelum Lebaran
Simfoni Batu dan Besi: Menelusuri Evolusi Wajah Arsitektur Inggris Selama Seribu Tahun
Kekuatan Penciuman: Mengapa Aroma Memicu Emosi Lebih Kuat daripada Gambar?

Berita Terkait

Jumat, 6 Maret 2026 - 13:34 WIB

Strategi Unifikasi Beijing: Tiongkok Pertegas Perlawanan Terhadap Kemerdekaan Taiwan dan Intervensi Asing

Jumat, 6 Maret 2026 - 12:26 WIB

Teknologi Lahan Basah Buatan: Rahasia Akar Alami dalam Memurnikan Limbah Air

Jumat, 6 Maret 2026 - 12:02 WIB

Modus Periksa Surat Kendaraan, Polisi Gadungan Kakak-Adik Bunuh Pemancing di Bandung

Jumat, 6 Maret 2026 - 11:39 WIB

Polri Pererat Silaturahmi dengan Warga, Progres SMA Kemala Taruna Bhayangkara 60 Persen

Jumat, 6 Maret 2026 - 11:20 WIB

Upaya Mediasi Prabowo untuk Redakan Konflik AS–Iran Didukung Negara Timur Tengah

Berita Terbaru