Simfoni Batu dan Besi: Menelusuri Evolusi Wajah Arsitektur Inggris Selama Seribu Tahun

Jumat, 6 Maret 2026 - 10:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lebih dari sekadar estetika. Dari katedral Gotik yang megah hingga hunian beton pasca-perang, sejarah arsitektur Inggris mencerminkan perubahan ideologi, status sosial, dan kebutuhan fungsional bangsa. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Lebih dari sekadar estetika. Dari katedral Gotik yang megah hingga hunian beton pasca-perang, sejarah arsitektur Inggris mencerminkan perubahan ideologi, status sosial, dan kebutuhan fungsional bangsa. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Arsitektur seringkali masyarakat anggap sebagai revolusi gaya. Namun demikian, kenyataan di Inggris membuktikan bahwa bangunan merupakan hasil evolusi budaya yang lambat. Pemikiran lama menyebut bahwa Inggris jatuh ke dalam “Abad Kegelapan” pasca-penarikan Romawi pada abad ke-5.

Padahal, budaya Romano-Inggris tetap bertahan lama. Penaklukan Norman pada tahun 1066 memang membawa perubahan besar, namun akar konstruksi kayu Anglo-Saxon telah lebih dahulu membentuk lanskap desa-desa Inggris. Penemuan kembali cahaya arsitektur dimulai saat para pembangun katedral Gotik mulai memahat pengabdian mereka pada batu-batu raksasa.

Abad Pertengahan: Fungsi di Atas Estetika

Periode antara tahun 1066 hingga jatuhnya Richard III pada 1485 menandai mekarnya bangunan Inggris yang unik. Nilai dasar arsitektur periode ini adalah “kesesuaian untuk tujuan”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Katedral dan gereja paroki yang menjulang tinggi bukan sekadar monumen religi, melainkan bangunan yang sangat fungsional. Demikian pula, kastil-kastil dibangun dengan menara dan benteng untuk pertahanan, bukan hiasan. Rumah-rumah bangsawan di akhir Abad Pertengahan lebih mengutamakan aspek keramah-tamahan (hospitality) daripada kemegahan fisik bangunan tersebut.

Abad ke-16 dan 17: Pamer Kekayaan dan Pengaruh Eropa

Memasuki abad ke-16, tujuan pembangunan berubah drastis. Arsitektur domestik mulai digunakan sebagai instrumen untuk memamerkan status dan kekayaan pribadi.

Baca Juga :  Euro vs Dolar: Mampukah Euro Gantikan Dominasi Dolar?

Selanjutnya, rasa aman yang lebih baik mendorong munculnya bangunan yang “menghadap ke luar”. Berbeda dengan era pertengahan yang tertutup untuk pertahanan, rumah-rumah baru memiliki jendela kaca besar yang mahal dan fasad simetris. Tokoh seperti Inigo Jones memperkenalkan proporsi klasik yang disiplin. Bahkan, pasca-Perang Saudara 1660, para bangsawan yang kembali dari pengasingan membawa pengaruh Barok yang berat dan teatrikal dari Prancis dan Belanda sebagai simbol penegasan kembali otoritas absolut mereka.

Abad ke-19: Industri vs Kerajinan Tangan

Abad ke-19 menghadirkan kontras teknologi yang tajam. Pembangunan Crystal Palace oleh Joseph Paxton pada 1851 menunjukkan kemampuan Inggris dalam mengolah besi dan kaca secara masif melalui proses industri.

Namun, kemajuan ini segera memicu kecurigaan. Reformis seperti John Ruskin dan William Morris mengecam efek demanusiawi dari produksi massal. Oleh karena itu, mereka memprakarsai gerakan untuk kembali ke teknik manufaktur pra-industri yang mengandalkan keahlian tangan individu. Gerakan ini melahirkan generasi arsitek yang menuntut konstruksi yang “jujur” dan berkualitas tinggi pada era 1880-an.

Baca Juga :  Roy Suryo Cs Tekan Polda Metro, Minta Buka Bukti Kasus Ijazah Jokowi

Transformasi Abad ke-20: Modernisme dan Rekonstruksi

Awal abad ke-20 merupakan periode konservatif bagi arsitek Inggris seperti Edwin Lutyens yang tetap setia pada gaya Neo-Georgia. Sebaliknya, ide-ide radikal seperti penggunaan beton bertulang dari Le Corbusier justru awalnya banyak dibawa oleh arsitek asing yang menetap di Inggris.

Perubahan besar terjadi pasca-Perang Dunia II. Pemerintahan Partai Buruh di bawah Attlee menghadapi kebutuhan mendesak akan perumahan murah dan cepat. Alhasil, elemen prafabrikasi, rangka logam, dan dinding beton—yang sebelumnya dipandang curiga—mulai diadopsi secara luas untuk sekolah dan perumahan rakyat. Peran pelindung arsitektur pun bergeser dari individu kaya menuju otoritas lokal dan perusahaan multinasional.

Pada akhirnya, gerakan Modernisme yang sempat mendominasi mulai kehilangan pengaruhnya pada akhir 1980-an karena dianggap gagal dalam eksperimen sosial perumahan bertingkat tinggi. Gaya ini digantikan oleh Post-modernisme yang lebih jenaka dan eklektik. Di milenium baru ini, arsitektur Inggris terus mencari identitas barunya di tengah tuntutan keberlanjutan dan kemajuan teknologi digital yang kian pesat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemilu Armenia Jadi Saksi Perjuangan Pashinyan Dekati Barat
Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok
Mendang-Mending: Kenapa Vivo X300 Lebih Unggul dari Xiaomi 17T Pro?
Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang
E3 dan Ukraina Sepakat Genjot Senjata Lawan Rudal Hipersonik
Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi
Pramono Anung Buka Ribuan Lowongan Kerja, Cukup Bermodal KTP Jakarta Gaji UMP
Trump Ngamuk dan Walk Out dari Wawancara NBC

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 17:26 WIB

Pemilu Armenia Jadi Saksi Perjuangan Pashinyan Dekati Barat

Senin, 8 Juni 2026 - 16:21 WIB

Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok

Senin, 8 Juni 2026 - 15:02 WIB

Mendang-Mending: Kenapa Vivo X300 Lebih Unggul dari Xiaomi 17T Pro?

Senin, 8 Juni 2026 - 14:51 WIB

Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang

Senin, 8 Juni 2026 - 12:39 WIB

Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi

Berita Terbaru

Ujian kedaulatan di Kaukasus. Rakyat Armenia memberikan suara dalam pemilu parlemen untuk menentukan arah masa depan geopolitik negara mereka antara Barat dan Rusia. Dok: AP Photo/Anthony Pizzoferrato)

INTERNASIONAL

Pemilu Armenia Jadi Saksi Perjuangan Pashinyan Dekati Barat

Senin, 8 Jun 2026 - 17:26 WIB

Ketegangan baru di Selat Taiwan. Penjaga pantai Taiwan mengusir empat kapal pemerintah Tiongkok yang menerobos wilayah perairan selatan mereka setelah aksi saling lempar peringatan keras. Dok: Britannica.

INTERNASIONAL

Penjaga Pantai Taiwan Usir Empat Kapal Tiongkok

Senin, 8 Jun 2026 - 16:21 WIB

Sikap tegas Tehran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan aset negaranya bukan barang rampasan perang AS untuk membiayai ganti rugi sekutu Teluk. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penolakan Keras Iran: Aset Negara Bukan Rampasan Perang

Senin, 8 Jun 2026 - 14:51 WIB