PACITAN, POSNEWS.CO.ID – Manuver politik tingkat tinggi muncul dari Pacitan. Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terang-terangan pasang badan untuk pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dari kampung halamannya, SBY mengajak seluruh elite nasional bersatu dan berhenti tarik-menarik kepentingan di tengah ancaman ekonomi global.
SBY menyampaikan sikap itu dalam forum dialog bertajuk “New Economy, New Road to Prosperity” di Museum dan Galeri SBY–ANI, Pacitan, Minggu (8/2/2026).
Di hadapan tokoh nasional dan pemangku kepentingan, SBY menegaskan dukungannya bukan basa-basi.
“Saya memberikan dukungan penuh dan akan terus membantu dengan cara saya agar visi dan agenda pembangunan nasional berjalan dengan baik. Keberhasilan Presiden Prabowo adalah keberhasilan rakyat dan masa depan Indonesia,” tegas SBY.
SBY blak-blakan menyebut tantangan ekonomi ke depan tidak main-main. Dunia, kata dia, sedang bergerak menuju era ekonomi baru yang ditandai gejolak global, konflik geopolitik, dan persaingan teknologi.
Karena itu, SBY meminta semua pihak menghentikan manuver politik sempit dan mulai membangun kolaborasi nasional lintas sektor.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menilai, tanpa persatuan elite, agenda besar pemerintahan Prabowo berpotensi tersendat.
Tak hanya bicara dukungan, SBY juga menyodorkan resep. Ia menekankan ekonomi masa depan harus bertumpu pada teknologi, inovasi, kualitas sumber daya manusia, serta kekuatan industri jangka panjang.
Menurut SBY, dukungannya bukan sekadar endorsement politik. Ia mengklaim siap ikut memberi pemikiran strategis dan solusi konkret jika negara menghadapi kebuntuan kebijakan.
SBY juga menyentil pola pikir jangka pendek. Ia menegaskan Indonesia tidak bisa terus berpikir lima tahunan.
Negara, kata dia, wajib membangun perencanaan jangka panjang lintas generasi jika ingin naik kelas menjadi negara maju.
“Tanpa konsistensi kebijakan dan visi jauh ke depan, kita akan jalan di tempat,” sindir SBY.
Pernyataan SBY ini langsung menyedot perhatian publik. Dukungan terbuka mantan presiden itu dinilai memperkuat posisi politik Presiden Prabowo sekaligus menjadi sinyal agar elite berhenti bermain api di tengah tekanan ekonomi global yang kian panas. (red)
Editor : Hadwan





















