JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Batu bata berdiri sebagai salah satu material bangunan tertua dalam sejarah peradaban manusia. Jejaknya dapat kita telusuri kembali hingga tahun 7000 SM. Arkeolog menemukan bukti tertua berupa batu bata lumpur yang dijemur matahari di wilayah selatan Turki.
Meskipun bata jemur bekerja dengan baik pada iklim sedang, bata bakar menawarkan ketahanan yang jauh lebih kuat terhadap cuaca ekstrem. Oleh karena itu, bata bakar menjadi standar utama untuk bangunan permanen. Di wilayah beriklim panas, material ini sangat berguna karena mampu menyerap panas di siang hari dan melepaskannya saat malam hari.
Kontribusi Romawi dan Gotik Bata
Bangsa Romawi merupakan ahli sejati dalam urusan batu bata. Mereka sangat selektif dalam memilih tanah liat berwarna putih atau merah. Bahkan, mereka membiarkan bata yang baru tercetak selama dua tahun sebelum menggunakannya. Melalui penggunaan tungku pembakaran portabel, tentara Romawi berhasil menyebarkan teknologi bata bakar ke seluruh wilayah kekaisaran mereka.
Memasuki abad ke-12, arsitektur bata mulai merambah Jerman Utara dari Italia Utara. Fenomena ini melahirkan periode “Gotik Bata” (Brick Gothic). Gaya ini memiliki karakteristik unik, yaitu tiadanya patung-patung figuratif yang biasanya terukir pada batu. Pasalnya, pengrajin masa itu merasa sulit untuk menciptakan detail halus menggunakan material bata yang tebal dan masif.
Kebangkitan Industri dan Manufaktur Modern
Setelah sempat kehilangan popularitas pada era Renaisans dan Barok, batu bata kembali menjadi primadona pada pertengahan abad ke-18. Saat ini, industri konstruksi menggunakan batu bata lebih banyak daripada material lain, kecuali kayu. Keunggulan utama bata berkualitas tinggi adalah ketahanannya terhadap asam, polusi, dan api.
Pabrik modern kini memproduksi batu bata melalui tiga metode utama: proses lumpur lunak, lumpur kaku, dan tanah liat kering. Mesin-mesin bertenaga listrik dan tungku terowongan canggih telah meningkatkan efisiensi produksi secara drastis. Selain itu, produsen kini tidak hanya menggunakan tanah liat, tetapi juga kalsium silikat dan beton untuk memenuhi spesifikasi bangunan yang beragam.
Teknologi Insulasi dan Dinding Rongga
Inovasi batu bata saat ini berfokus pada efisiensi energi melalui sistem insulasi. Bangunan modern umumnya mengadopsi konsep dinding rongga (cavity wall). Struktur ini terdiri dari dua lapis dinding bata dengan celah udara di antaranya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Udara di dalam rongga tersebut berfungsi sebagai isolator alami yang sangat efektif. Dengan demikian, penghuni rumah dapat menghemat biaya energi untuk pemanas atau pendingin ruangan. Selain itu, dinding rongga terbukti lebih tahan terhadap rembesan air hujan dibandingkan dinding solid tradisional. Melalui sinergi antara tradisi ribuan tahun dan teknologi canggih, batu bata tetap menjadi fondasi utama bagi arsitektur masa depan yang berkelanjutan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















