YERUSALEM, POSNEWS.CO.ID – Tembok Ratapan berdiri kokoh di lereng Bukit Bait Suci (Temple Mount). Struktur arsitektur kuno ini bukan sekadar dinding biasa. Bongkahan batu kapur raksasa ini menghubungkan jutaan orang dengan masa kejayaan Yerusalem kuno.
Publik mengenal situs ini sebagai “Tembok Ratapan”. Nama ini muncul dari tradisi peziarah yang meratapi kehancuran Bait Suci. Penduduk setempat sendiri lebih sering menyebutnya Tembok Barat. Situs ini mewakili sejarah panjang. Kisahnya melintasi berbagai kekaisaran dan periode manusia yang penuh gejolak.
Asal-usul: Ambisi Besar Herodes Agung
Raja Herodes Agung memulai pembangunan Tembok Barat sekitar tahun 19 SM. Proyek ini merupakan bagian dari ambisi besarnya untuk memperluas area Bait Suci Kedua. Ia ingin tempat suci tersebut mampu menampung lebih banyak peziarah.
Para pengrajin menyusun batu-batu raksasa tanpa bantuan semen. Berat beberapa bongkahan batu bahkan mencapai ratusan ton. Teknik pemotongan batu yang presisi memperkuat struktur ini. Alhasil, tembok ini bertahan dari gempa bumi dan serangan militer selama ribuan tahun. Tembok ini sebenarnya berfungsi sebagai dinding penahan platform. Bangunan Bait Suci berdiri tepat di atas platform tersebut.
Tragedi 70 Masehi dan Era Pembuangan
Pada tahun 70 Masehi, Titus memimpin pasukan Romawi menyerbu Yerusalem. Serangan ini bertujuan meredam pemberontakan Yahudi. Pasukan Romawi akhirnya menghancurkan Bait Suci Kedua secara total.
Namun demikian, mereka menyisakan sebagian besar tembok penahan di sisi barat. Konon, Titus sengaja menyisakan tembok tersebut. Ia ingin dunia mengingat kemenangan besar Romawi atas struktur yang sangat kuat. Sisa dinding ini menjadi titik fokus kerinduan bangsa Yahudi di tanah diaspora. Mereka merindukan tanah air dan tempat ibadah yang telah hilang. Selama berabad-abad, umat Yahudi terus berupaya kembali ke dinding ini untuk berdoa.
Masa Transisi: Ottoman hingga Mandat Inggris
Pada masa Kekaisaran Ottoman, Sultan Suleiman yang Agung menetapkan area ini sebagai tempat ibadah. Umat Yahudi pun mendapatkan izin resmi untuk berdoa di depan tembok tersebut. Meskipun begitu, ketegangan politik dan agama sering kali membatasi akses warga ke situs suci ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Memasuki abad ke-20 di bawah mandat Britania Raya, perselisihan kepemilikan area mulai meruncing. Puncaknya adalah Kerusuhan Tembok Barat tahun 1929 yang menelan banyak korban jiwa. Pasca-perang 1948, Yordania menguasai wilayah Yerusalem Timur. Akibatnya, otoritas melarang umat Yahudi mengunjungi tembok tersebut selama 19 tahun.
Perang Enam Hari dan Makna Modern
Sejarah Tembok Ratapan memasuki babak baru yang dramatis pada Juni 1967. Pasukan Israel merebut Kota Tua Yerusalem dalam Perang Enam Hari. Mereka akhirnya mencapai Tembok Barat setelah hampir dua dekade terpisah.
Momen tersebut menjadi salah satu peristiwa paling emosional dalam sejarah modern Timur Tengah. Sejak saat itu, pemerintah membongkar pemukiman di depan tembok guna menciptakan lapangan terbuka bagi peziarah. Kini, Tembok Ratapan berfungsi sebagai “sinagoga terbuka” selama 24 jam sehari. Banyak orang menyelipkan kertas doa ke celah batu. Tradisi global ini melibatkan warga dari berbagai latar belakang, termasuk para pemimpin dunia.
Simbol yang Tak Tergoyahkan
Tembok Ratapan tetap berdiri sebagai simbol ketahanan. Bait Suci asli memang telah lama sirna. Namun, dinding penahan ini membuktikan bahwa identitas spiritual mampu melampaui kehancuran fisik. Setiap bongkahan batunya menceritakan kisah tentang iman dan kehilangan. Harapan pun tidak pernah padam di jantung kota suci Yerusalem.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















