JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Dunia menahan napas saat tank-tank Rusia melintasi perbatasan Ukraina. Seketika, Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa merespons dengan senjata andalan mereka: sanksi ekonomi masif.
Mereka membekukan cadangan devisa Bank Sentral Rusia senilai ratusan miliar dolar. Tak cukup di situ, mereka mendepak bank-bank Rusia dari sistem pembayaran internasional SWIFT.
Tujuannya jelas, Barat ingin meruntuhkan ekonomi “Beruang Merah” dalam semalam. Mereka berharap rubel akan menjadi debu dan mesin perang Kremlin akan mogok kehabisan dana. Namun, realitas hari ini menunjukkan cerita yang sangat berbeda.
Guncangan Awal vs Adaptasi Cepat
Awalnya, strategi “bom nuklir ekonomi” ini tampak berhasil. Nilai tukar mata uang Rubel jatuh bebas ke titik terendah. Kepanikan melanda pasar saham Moskow.
Akan tetapi, prediksi kebangkrutan total ternyata meleset jauh. Pemerintah Rusia melakukan manuver adaptasi dengan kecepatan yang mengejutkan. Bank Sentral Rusia menaikkan suku bunga secara agresif untuk menyelamatkan mata uang.
Selanjutnya, Moskow memutar haluan dagang mereka. Pintu Barat tertutup rapat, maka mereka membuka jendela lebar-lebar ke Timur. China dan India menyambut pasokan minyak dan gas Rusia yang diskon dengan tangan terbuka. Akibatnya, pendapatan ekspor energi Rusia tetap mengalir deras ke kas negara.
Bumerang Menyakitkan Bagi Barat
Sanksi ini justru berbalik menjadi bumerang yang menghantam pelemparnya. Pasalnya, Eropa sangat bergantung pada pasokan energi murah dari Rusia selama puluhan tahun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemutusan hubungan dagang ini memicu krisis energi parah di Benua Biru. Lantas, harga listrik dan gas untuk pemanas rumah tangga melonjak gila-gilaan. Industri manufaktur di Jerman menjerit karena biaya produksi yang tak lagi kompetitif.
Imbasnya, inflasi global meroket tajam. Masyarakat di seluruh dunia harus membayar lebih mahal untuk makanan dan bahan bakar akibat gangguan rantai pasok ini. Barat ingin menghukum Putin, tetapi rakyat mereka sendiri ikut menanggung deritanya.
Batasan Sanksi di Dunia Multipolar
Fenomena ini mengajarkan satu pelajaran penting bagi para pembuat kebijakan. Sanksi ekonomi memiliki batasan efektivitas yang tegas di dunia yang multipolar.
Barat tidak lagi memegang kendali ekonomi mutlak seperti era Perang Dingin. Faktanya, banyak negara “Global South” menolak untuk ikut serta dalam isolasi tersebut. Mereka lebih memprioritaskan kepentingan nasional dan ketahanan energi mereka sendiri.
Oleh karena itu, mengisolasi negara dengan sumber daya alam melimpah seperti Rusia adalah misi yang nyaris mustahil. Komoditas vital akan selalu menemukan jalan menuju pembeli yang membutuhkan.
Ekonomi Sakit, Rezim Tetap Tegak
Pada akhirnya, kita harus mengakui fakta pahit. Sanksi memang mampu menyakiti indikator ekonomi jangka panjang. Akses teknologi Rusia menjadi terbatas dan pertumbuhan mereka melambat.
Kendati demikian, sanksi jarang berhasil mengubah perilaku rezim politik yang kuat. Sebaliknya, tekanan eksternal sering kali justru memperkuat narasi nasionalisme di dalam negeri target. Perang ekonomi ini tampaknya hanya menghasilkan kekacauan global tanpa pemenang yang benar-benar mutlak.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















