Skandal Pemerasan Bupati Tulungagung, KPK: Ajudan Jadi Motor Penagihan Setoran OPD

Minggu, 12 April 2026 - 06:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Tulungagung, Dwi Yoga Ambal Modus Geser Anggaran, Jatah Capai 50 Persen. (Posnews/Net)

Bupati Tulungagung, Dwi Yoga Ambal Modus Geser Anggaran, Jatah Capai 50 Persen. (Posnews/Net)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menguliti praktik korupsi di daerah.

Kali ini, lembaga antirasuah menetapkan ajudan pribadi Bupati Tulungagung, Dwi Yoga Ambal (YOG) sebagai tersangka dalam kasus pemerasan yang menjerat Bupati Tulungagung, Gutut Sunu Wibowo (GSW).

Kasus ini langsung menyedot perhatian publik karena peran YOG disebut sangat vital dalam mengatur aliran uang dari para pejabat daerah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, menegaskan bahwa YOG bukan sekadar ajudan biasa.

Sebaliknya, ia menjadi sosok yang aktif menjalankan setiap instruksi sang bupati.

Menurut Asep, YOG bertindak sebagai penggerak utama dalam menagih “jatah” kepada para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Tanpa perannya, praktik pemerasan tersebut tidak akan berjalan.

Tak hanya itu, YOG juga memanggil para pejabat OPD untuk menandatangani surat pernyataan.

Baca Juga :  Bupati Koltim dan Swasta Terlibat Suap RS, KPK Pastikan Sidang Dimulai 29 Oktober

Dokumen tersebut kemudian dipakai sebagai alat tekanan, bahkan ancaman, agar setoran tetap mengalir.

Tagihan Rutin hingga 3 Kali Sepekan

Lebih lanjut, KPK mengungkap pola penagihan yang terbilang brutal. YOG mencatat setiap tambahan setoran dan secara rutin menagih kepada kepala OPD.

Bahkan, dalam satu pekan, penagihan bisa dilakukan dua hingga tiga kali. Cara penagihannya pun bak debt collector—memperlakukan pejabat seolah memiliki utang yang wajib dibayar.

Sementara itu, skema pemerasan dilakukan dengan cara menggeser anggaran di masing-masing OPD. Dari situ, GSW diduga meminta jatah hingga 50 persen dari nilai anggaran.

Parahnya lagi, permintaan setoran itu sudah dilakukan bahkan sebelum anggaran resmi cair. Nominal yang diminta pun bervariasi, mulai dari Rp15 juta hingga Rp2,8 miliar.

Tak berhenti di situ, GSW juga diduga ikut mengatur proses pengadaan barang dan jasa.

Baca Juga :  Televisi dan Persepsi Ketakutan: Mengapa Dunia Terasa Lebih Kejam dari Kenyataan?

Ia disebut melakukan pengkondisian pemenang lelang hingga menunjuk langsung rekanan tertentu dalam sejumlah proyek.

Dengan praktik tersebut, aliran dana semakin mudah dikendalikan untuk kepentingan pribadi.

Rp2,7 Miliar Dikumpulkan, Dipakai untuk Kepentingan Pribadi

Dari hasil penyidikan, KPK mencatat GSW telah mengumpulkan uang sekitar Rp2,7 miliar dari total permintaan Rp5 miliar kepada OPD.

Uang tersebut kemudian digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan pribadi.

Sebagai langkah tegas, KPK langsung menahan GSW dan YOG selama 20 hari pertama, terhitung sejak 11 hingga 30 April 2026.

Keduanya kini mendekam di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Cabang Gedung Merah Putih KPK.

“KPK selanjutnya melakukan penahanan terhadap para tersangka untuk 20 hari pertama,” tegas Asep. (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Operasi Besar-besaran di Jakarta, 600 Petugas Buru Parkir dan Jukir Liar
E3 dan Ukraina Sepakat Genjot Senjata Lawan Rudal Hipersonik
Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi
Pramono Anung Buka Ribuan Lowongan Kerja, Cukup Bermodal KTP Jakarta Gaji UMP
Trump Ngamuk dan Walk Out dari Wawancara NBC
Fokus Hari Bhayangkara, Polri Resmi Menunda Operasi Patuh 2026
Tokoh Buruh Masuk Lingkaran Istana, Prabowo Lantik Said Iqbal Hari Ini
Gagal Mendahului Truk, Penumpang Motor Meregang Nyawa di Simpang Jambu Dua

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 14:12 WIB

Operasi Besar-besaran di Jakarta, 600 Petugas Buru Parkir dan Jukir Liar

Senin, 8 Juni 2026 - 13:44 WIB

E3 dan Ukraina Sepakat Genjot Senjata Lawan Rudal Hipersonik

Senin, 8 Juni 2026 - 12:39 WIB

Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi

Senin, 8 Juni 2026 - 11:58 WIB

Pramono Anung Buka Ribuan Lowongan Kerja, Cukup Bermodal KTP Jakarta Gaji UMP

Senin, 8 Juni 2026 - 11:34 WIB

Trump Ngamuk dan Walk Out dari Wawancara NBC

Berita Terbaru

Koalisi Eropa bersatu. Pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, dan Ukraina membahas langkah darurat untuk memproduksi sistem penangkis rudal hipersonik Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

E3 dan Ukraina Sepakat Genjot Senjata Lawan Rudal Hipersonik

Senin, 8 Jun 2026 - 13:44 WIB

Konsolidasi aliansi di Asia Timur. Presiden Tiongkok Xi Jinping memulai kunjungan kenegaraan ke Pyongyang guna mempererat kemitraan taktis di tengah kebuntuan negosiasi nuklir dengan AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi

Senin, 8 Jun 2026 - 12:39 WIB

Ilustrasi, Amarah di pertanian Wisconsin. Presiden Donald Trump menghentikan wawancara secara sepihak setelah pembawa acara

INTERNASIONAL

Trump Ngamuk dan Walk Out dari Wawancara NBC

Senin, 8 Jun 2026 - 11:34 WIB