Taiwan Kembali Dirangkul Honduras, China Ditinggalkan Akibat Janji Palsu?

Minggu, 21 Desember 2025 - 07:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, China gigit jari! Pemilu Honduras belum usai, tapi Taiwan sudah jadi pemenang. Kandidat presiden kompak ingin putus dengan Beijing. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, China gigit jari! Pemilu Honduras belum usai, tapi Taiwan sudah jadi pemenang. Kandidat presiden kompak ingin putus dengan Beijing. Dok: Istimewa.

TEGUCIGALPA, POSNEWS.CO.ID – Hasil pemilihan umum Honduras pada 30 November lalu masih menggantung dalam ketidakpastian. Kegagalan teknologi dan tuduhan kecurangan mewarnai proses penghitungan suara. Namun, di tengah kekacauan domestik itu, muncul satu pemenang yang tak terduga di luar perbatasan: Taiwan.

Arah angin diplomasi di Amerika Tengah berbalik secara dramatis. Kedua kandidat presiden yang memimpin perolehan suara kompak menyuarakan janji yang sama.

Mereka bersumpah akan memutus hubungan diplomatik dengan Beijing. Sebagai gantinya, mereka akan memulihkan hubungan bersejarah dengan Taipei. Padahal, Presiden Xiomara Castro baru saja membuat keputusan sensasional untuk beralih ke China pada Maret 2023, mengakhiri persahabatan 82 tahun dengan Taiwan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kini, Honduras tampaknya menyesali keputusan tersebut. Negara itu siap menjadi anomali yang melawan tren isolasi Taiwan di panggung global.

“100 Kali Lebih Baik Bersama Taiwan”

Salvador Nasralla, kandidat dari Partai Liberal, tidak menahan diri. “Bagi Honduras, sama sekali tidak ada manfaat dari hubungan dengan China,” tegasnya.

Pandangan ini diamini oleh lawannya, Nasry “Tito” Asfura. Mantan Wali Kota Tegucigalpa yang mendapat dukungan Presiden AS Donald Trump ini sepakat penuh. “Kami 100 kali lebih baik bersama Taiwan,” ujar Asfura.

Baca Juga :  Parlemen Perempuan Tuntut Starmer Tunjuk Deputi Wanita

Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi Beijing. Sebelumnya, China gencar melakukan kampanye tekanan untuk mengisolasi Taiwan. Sejak awal abad ini, 21 negara telah berpaling dari Taipei ke Beijing.

Akibatnya, Taiwan kini hanya menyisakan 12 sekutu diplomatik di dunia. Namun, gelombang pembelotan itu tampaknya mulai terhenti di Honduras.

Janji Manis yang Pahit: Udang dan Infrastruktur

Mengapa Honduras ingin “rujuk” dengan Taiwan? Jawabannya terletak pada kalkulasi ekonomi yang meleset.

Profesor Evan Ellis dari US Army War College menjelaskan pergeseran analisis biaya-manfaat ini. Janji-janji manis Beijing ternyata tidak seindah kenyataan.

Di Honduras, industri ekspor udang mengalami kehancuran. Pasalnya, pembeli dari China gagal menggantikan pasar Taiwan yang sebelumnya menyerap 40 persen ekspor udang negara tersebut. Janji Beijing untuk membeli produk mereka hanyalah isapan jempol.

Selain itu, proyek infrastruktur besar yang didanai China di negara tetangga, Panama, mengalami penundaan kronis atau bahkan pembatalan. Realitas pahit ini membuka mata para pemimpin Honduras bahwa “cek kosong” diplomasi China sering kali tidak bisa dicairkan.

Baca Juga :  Konfrontasi Militer Terbuka: Israel dan AS Bombardir Iran

Tekanan Trump dan Diplomasi Transaksional

Faktor eksternal juga memegang peran kunci. Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih mengubah peta permainan. Kebijakan luar negeri Trump yang transaksional dan agresif memaksa negara-negara kawasan untuk memilih sisi.

Trump secara terbuka mendukung Asfura dan bahkan mengampuni mantan presiden Honduras yang terjerat kasus narkoba. Lantas, negara-negara kecil di Karibia dan Amerika Tengah tidak berani mengambil risiko memicu kemarahan Washington.

Contohnya, Panama kini menyatakan tidak akan memperbarui keanggotaan dalam skema infrastruktur Belt & Road China. Mereka bahkan mengajukan gugatan hukum terhadap pelabuhan yang dikelola China.

Sementara itu, Presiden St. Vincent dan Grenadines yang baru terpilih, Godwin Friday, membatalkan janji kampanyenya untuk mengakui China.

“Ini bukan waktunya bagi pulau kecil di Karibia, yang tidak terlalu jauh dari operasi militer besar AS, untuk beralih ke RRT,” analisis Ellis.

Pada akhirnya, Taiwan mendapatkan keuntungan dari persaingan geopolitik ini. Pejabat di Taipei kini merasa terbukti benar. Peringatan mereka dulu agar Honduras tidak “memuaskan dahaga dengan racun” China, kini terbukti menjadi kenyataan pahit bagi para nelayan udang di Amerika Tengah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara
Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama
Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS
Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang
Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati
Lonceng Perdamaian Cenderamata Jepang Ditemukan Kembali

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:42 WIB

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Jumat, 30 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis

Berita Terbaru

Hakim federal menolak permintaan Pemerintahan Trump untuk menghentikan penghitungan 20 ribu surat suara di California.  Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Okt 2026 - 12:42 WIB

Menhan AS Pete Hegseth memecat perencana militer utama Pentagon Letjen Brett Sylvia. Simak kaitannya dengan rencana serangan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama

Jumat, 30 Okt 2026 - 11:39 WIB

Ilustrasi, Biaya Perang Iran melonjak hingga 47,1 miliar Dolar AS. Simak rincian pengeluaran amunisi Pentagon dan dampaknya pada Pemilu. Dok: Britannica.

INTERNASIONAL

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Okt 2026 - 09:42 WIB