Uang dan Inflasi: Teori Kuantitas Uang di Abad ke-21

Selasa, 11 November 2025 - 06:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Milton Friedman berkata inflasi adalah fenomena moneter. Namun setelah triliunan dolar dicetak pasca 2008 dan 2020, apakah hubungan antara uang dan harga masih sesederhana itu? Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Milton Friedman berkata inflasi adalah fenomena moneter. Namun setelah triliunan dolar dicetak pasca 2008 dan 2020, apakah hubungan antara uang dan harga masih sesederhana itu? Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Di jantung ilmu ekonomi moneter, terdapat sebuah persamaan sederhana namun kuat yang para ahli kenal sebagai Teori Kuantitas Uang (Quantity Theory of Money). Ahli ekonomi sering merumuskan persamaan ini sebagai MV = PT (atau MV = PY) untuk menjelaskan hubungan antara jumlah uang yang beredar dalam suatu perekonomian dan tingkat harga barang-barang.

  • M (Money Supply): Total jumlah uang yang beredar.
  • V (Velocity of Money): Kecepatan uang berpindah tangan (seberapa sering satu dolar berpindah tangan untuk membeli barang dalam setahun).
  • P (Price Level): Tingkat harga rata-rata barang dan jasa.
  • T (Transactions/Output): Total jumlah transaksi atau output barang dan jasa (yang sering ekonom ganti dengan Y atau PDB riil).

Secara sederhana, teori ini menyatakan: jika kecepatan uang (V) dan jumlah barang (T) relatif stabil, maka jika Anda menggandakan jumlah uang (M), tingkat harga (P) pada akhirnya akan ikut berlipat ganda.

Monetarisme: Peringatan Keras Milton Friedman

Pandangan ini menjadi inti dari mazhab Monetarisme, yang pemenang Nobel Ekonomi, Milton Friedman, populerkan. Friedman merangkum keyakinannya dalam kutipan paling terkenal dalam ekonomi moneter:

“Inflasi selalu dan di mana saja merupakan fenomena moneter…”

Bagi Friedman, inflasi bukanlah akibat dari keserakahan serikat pekerja atau margin keuntungan perusahaan. Inflasi, tegasnya, adalah akibat dari satu hal: pemerintah (melalui bank sentral) mencetak uang terlalu banyak dan terlalu cepat, melebihi pertumbuhan ekonomi riil. Jika jumlah uang tumbuh 5% sementara jumlah barang hanya tumbuh 2%, maka 3% sisanya akan tumpah menjadi inflasi.

Baca Juga :  Modus Lapak Besi Tua, Polisi Gerebek Gudang Curanmor di Narogong - 5 Unit Diamankan

Tantangan Modern: QE, Inflasi Rendah, dan Kripto

Pandangan Friedman mendominasi kebijakan bank sentral pada 1970-an dan 1980-an untuk menjinakkan inflasi tinggi. Namun, abad ke-21 menghadirkan teka-teki baru.

1. Misteri Inflasi Rendah Pasca-2008: Setelah Krisis Keuangan Global 2008, bank sentral di seluruh dunia, terutama The Fed (AS), meluncurkan program Quantitative Easing (QE). Mereka “mencetak” triliunan dolar untuk membeli obligasi dan aset, secara masif meningkatkan jumlah uang beredar (M). Banyak yang khawatir ini akan memicu hiperinflasi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, inflasi tetap sangat rendah (bahkan di bawah target) selama satu dekade berikutnya. Mengapa? Jawabannya terletak pada Velocity (V).

Bank sentral memang menciptakan banyak uang, tetapi uang itu tidak “berputar” di ekonomi riil. Uang itu sebagian besar “terjebak” di neraca perbankan (sebagai cadangan) atau mengalir ke pasar aset (saham, obligasi, real estat), alih-alih orang memakainya untuk membeli roti dan mobil. Jadi, M naik tajam, tetapi V turun drastis, sehingga P (harga) tidak ikut meledak.

2. Mata Uang Kripto: Munculnya mata uang seperti Bitcoin menantang definisi M (Uang). Jika orang mulai menggunakan aset di luar kendali bank sentral, apakah teori ini masih relevan? Namun, sejauh ini, kripto lebih berfungsi sebagai aset spekulatif daripada sebagai “uang” untuk transaksi sehari-hari (T).

Baca Juga :  Tragedy of the Commons: Masalah Lingkungan dari Sudut Pandang Ekonomi

Peran Bank Sentral: Target Inflasi

Hari ini, sebagian besar bank sentral modern, termasuk Bank Indonesia, tidak lagi secara kaku menargetkan jumlah uang beredar (M), seperti yang Friedman sarankan.

Sebaliknya, mereka mengadopsi kebijakan Independensi Bank Sentral dengan Target Inflasi (Inflation Targeting), biasanya sekitar 2% untuk negara maju.

Alih-alih mengontrol M (yang sulit diukur dan dikendalikan), mereka mengontrol “harga” uang, yaitu suku bunga. Jika inflasi terlalu panas, bank sentral menaikkan suku bunga untuk “mendinginkan” ekonomi (membuat pinjaman lebih mahal dan menabung lebih menarik). Jika ekonomi lesu, mereka menurunkan suku bunga untuk mendorong belanja dan investasi.

Kesimpulan: Apakah Teori Kuantitas Masih Berlaku?

Jadi, apakah teori kuantitas uang sudah mati? Tidak.

Apa yang kita pelajari adalah bahwa teori ini benar secara fundamental dalam jangka panjang: jika terlalu banyak uang mengejar terlalu sedikit barang, harga pasti akan naik. Pandemi COVID-19 membuktikannya. Ketika pemerintah tidak hanya mencetak uang (QE) tetapi juga memberikannya langsung ke masyarakat (stimulus tunai), “V” (kecepatan uang) ikut naik. Hasilnya: lonjakan inflasi global pada 2021-2023.

Teori Kuantitas Uang masih berlaku, tetapi dunia nyata jauh lebih rumit daripada persamaan sederhana. Hubungan antara M dan P tidak instan, dan variabel V (kecepatan uang)—yang kepercayaan, ekspektasi, dan perilaku perbankan dorong—adalah kepingan puzzle yang jauh lebih kompleks daripada yang para ahli ekonomi klasik bayangkan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membedah Ekofeminisme dan Krisis Ekologi Global
Mengapa Interseksionalitas Menjadi Kunci Keadilan Sosial
Gembong Narkoba Dewi Astutik Segera Dilimpahkan ke Kejaksaan, Otak Kasus 2 Ton Sabu
Final FIFA Series 2026: Lawan Bulgaria di GBK, Ujian Sesungguhnya Garuda
Harga Bahan Pokok Stabil, Cabai hingga Bawang Turun Pasca Lebaran 2026
Cuaca Ekstrem di Ciamis, 80 Lebih Rumah Rusak Disapu Angin Kencang
Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak, 169 Ribu Kendaraan Menyeberang ke Jawa dari Bakauheni
Cuaca Jabodetabek 29 Maret 2026: Hujan Meluas, Bogor Berpotensi Diguyur Lebat

Berita Terkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 16:30 WIB

Membedah Ekofeminisme dan Krisis Ekologi Global

Minggu, 29 Maret 2026 - 16:10 WIB

Mengapa Interseksionalitas Menjadi Kunci Keadilan Sosial

Minggu, 29 Maret 2026 - 14:05 WIB

Gembong Narkoba Dewi Astutik Segera Dilimpahkan ke Kejaksaan, Otak Kasus 2 Ton Sabu

Minggu, 29 Maret 2026 - 08:09 WIB

Final FIFA Series 2026: Lawan Bulgaria di GBK, Ujian Sesungguhnya Garuda

Minggu, 29 Maret 2026 - 07:48 WIB

Harga Bahan Pokok Stabil, Cabai hingga Bawang Turun Pasca Lebaran 2026

Berita Terbaru

Melawan logika dominasi. Ekofeminisme mengungkap bahwa pemulihan bumi mustahil tercapai tanpa meruntuhkan struktur patriarki yang mengeksploitasi perempuan dan alam secara bersamaan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membedah Ekofeminisme dan Krisis Ekologi Global

Minggu, 29 Mar 2026 - 16:30 WIB

Menembus batas identitas tunggal. Konsep interseksionalitas membuktikan bahwa perjuangan perempuan tidak bisa menggunakan pendekatan 'satu ukuran untuk semua' guna menghapus penindasan yang berlapis. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Interseksionalitas Menjadi Kunci Keadilan Sosial

Minggu, 29 Mar 2026 - 16:10 WIB