Keluarga Korban Konfrontasi Pemilik Bar Swiss

Jumat, 13 Februari 2026 - 18:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi,Prahara di Sion. Keluarga dari 41 korban tewas, mayoritas remaja, meluapkan kemarahan kepada pemilik bar Le Constellation saat persidangan dimulai untuk mengungkap kelalaian di balik kebakaran malam tahun baru. Dok: Istimewa.

Ilustrasi,Prahara di Sion. Keluarga dari 41 korban tewas, mayoritas remaja, meluapkan kemarahan kepada pemilik bar Le Constellation saat persidangan dimulai untuk mengungkap kelalaian di balik kebakaran malam tahun baru. Dok: Istimewa.

SION, POSNEWS.CO.ID – Suasana mencekam menyelimuti lokasi pendengaran di Sion, Swiss, pada Kamis pagi. Sekelompok keluarga korban menunggu kedatangan Jacques dan Jessica Moretti. Pasangan asal Prancis ini memiliki bar Le Constellation yang hancur terbakar di resor ski Crans-Montana.

Para kerabat yang berduka segera meluapkan kemarahan saat pasangan tersebut tiba di lokasi. Kebakaran maut pada 1 Januari lalu itu merenggut 41 nyawa. Mayoritas korban merupakan remaja yang merayakan pergantian tahun. Selain itu, sebanyak 115 orang lainnya mengalami luka-luka. Sebagian besar korban masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit serta klinik rehabilitasi.

“Di Mana Anak Saya?”: Luapan Emosi Keluarga

Konfrontasi fisik dan verbal mewarnai kedatangan pemilik bar. Gulcin Kaya, ibu dari korban tewas berusia 18 tahun, berteriak di tengah kerumunan. “Di mana putra saya? Di mana dia?”. Jacques Moretti berjanji akan bertanggung jawab dan menghadapi proses hukum demi keadilan.

Pernyataan Tobyas (14) terdengar jauh lebih memilukan. Ia merupakan adik dari Trystan Pidoux (17) yang tewas dalam api. “Anda membunuh kakak saya. Anda membunuhnya,” teriak Tobyas kepada Jessica Moretti. Saat itu, Jessica tampak menangis saat mencoba masuk ke ruang sidang.

Baca Juga :  Tragedi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo: 16 Korban Jiwa, 120 Orang Jadi Korban

Ayah mereka, Christian Pidoux, mengenakan kaus bergambar wajah putranya. Ia menegaskan bahwa aksi ini bertujuan agar tragedi serupa tidak pernah terulang kembali. “Beberapa anak terbakar habis. Mereka tidak lagi memiliki wajah, hidung, atau telinga,” ujar Christian kepada media.

Penyebab Kebakaran dan Tuduhan Kelalaian

Tim jaksa penuntut menduga kebakaran bermula dari tindakan ceroboh di lantai bawah tanah bar. Saksi mata melaporkan bahwa staf bar mengangkat botol sampanye dengan kembang api terlalu dekat ke langit-langit. Hal ini memicu percikan api pada busa isolasi suara yang sangat mudah terbakar. Api kemudian merambat dengan kecepatan mematikan ke seluruh ruangan.

Akibat insiden ini, pasangan Moretti kini berada di bawah penyelidikan kriminal resmi. Mereka menghadapi tiga dakwaan berat, termasuk pembunuhan karena kelalaian (manslaughter by negligence). Selain pemilik bar, otoritas juga menyelidiki kepala keselamatan publik Crans-Montana serta mantan petugas keselamatan kebakaran kota.

Baca Juga :  Era Side Hustle: Ketika Satu Pekerjaan Saja Tidak Cukup Lagi

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi Medis dan Tuntutan terhadap Otoritas

Kantor Federal untuk Perlindungan Sipil Swiss melaporkan kondisi pasien terbaru. Hingga Senin lalu, pusat luka bakar di luar negeri masih merawat 39 pasien. Sementara itu, rumah sakit di Swiss menangani 25 pasien lainnya. Banyak pasien mulai pindah ke klinik rehabilitasi untuk pemulihan jangka panjang.

Pengacara Alain Viscolo mendesak penyelidikan agar mulai menyasar peran otoritas lokal. Ia mewakili dua korban dalam tragedi ini. “Sudah waktunya mempertimbangkan pihak yang memiliki kekuasaan mengawasi keselamatan kebakaran,” tegasnya.

Laporan menyebutkan bahwa pihak korban juga telah mengajukan pengaduan resmi terhadap presiden komune Crans-Montana. Dunia internasional kini memantau sistem hukum Swiss dengan cermat. Mereka menanti keadilan yang setimpal bagi para keluarga korban tragedi malam tahun baru ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bareskrim Polri Tingkatkan Kasus Narkotika AKBP Didik Putra Kuncoro ke Penyidikan
Valentine 2026: Mengapa Experience Gift Kini Lebih Populer?
Prabowo: Hukum Tak Boleh Jadi Alat Serang Lawan Politik, Siap Gunakan Abolisi-Amnesti
Lapor KTP Hilang di Pospol Jembatan Tiga, Motor Warga Penjaringan Malah Raib
Self Love: Merayakan Solo Valentine dengan Bangga
Penembakan Pesawat Smart Air di Korowai, Polri-TNI Buru Elkius Kobak
Dari Lumpur ke Arsitektur Ikonik: Evolusi Batu Bata
Tirai Besi Digital: Rusia Blokir WhatsApp dan Paksa Migrasi

Berita Terkait

Jumat, 13 Februari 2026 - 21:20 WIB

Bareskrim Polri Tingkatkan Kasus Narkotika AKBP Didik Putra Kuncoro ke Penyidikan

Jumat, 13 Februari 2026 - 21:09 WIB

Valentine 2026: Mengapa Experience Gift Kini Lebih Populer?

Jumat, 13 Februari 2026 - 20:29 WIB

Prabowo: Hukum Tak Boleh Jadi Alat Serang Lawan Politik, Siap Gunakan Abolisi-Amnesti

Jumat, 13 Februari 2026 - 20:10 WIB

Lapor KTP Hilang di Pospol Jembatan Tiga, Motor Warga Penjaringan Malah Raib

Jumat, 13 Februari 2026 - 20:04 WIB

Self Love: Merayakan Solo Valentine dengan Bangga

Berita Terbaru

Ilustrasi, Cinta tidak harus datang dari orang lain. Di tahun 2026, merayakan Valentine sendirian bukan lagi tanda kesepian, melainkan pernyataan kemandirian dan kesehatan mental yang kuat. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Self Love: Merayakan Solo Valentine dengan Bangga

Jumat, 13 Feb 2026 - 20:04 WIB