WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan di Timur Tengah mencapai level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menetapkan batas waktu 10 hari bagi Teheran. Ia menuntut hasil konkret dari meja perundingan.
Trump menyampaikan peringatan tersebut saat memimpin pertemuan perdana Board of Peace. Inisiatif ini awalnya bertujuan untuk menjaga stabilitas di Gaza. “Kita harus membuat kesepakatan yang bermakna. Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi,” tegas Trump. Ia mengisyaratkan bahwa Washington siap melancarkan tindakan militer jika Iran tetap bersikeras pada posisi nuklirnya.
Tekanan Militer Maksimal dan Pengerahan Kapal Induk
Sebagai bentuk keseriusan, Amerika Serikat terus membangun kekuatan tempur di sekitar perairan Iran. Washington memerintahkan pengerahan kapal induk kedua untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln. Kapal tersebut kini bersiaga hanya 700 kilometer dari pantai Iran bersama 80 pesawat tempur.
Selain itu, laporan dari The Wall Street Journal menyebutkan bahwa Trump telah menerima pengarahan mengenai opsi militer. Semua opsi tersebut bertujuan memberikan “kerusakan maksimal”. Rencana militer ini mencakup kampanye untuk melumpuhkan kepemimpinan politik dan militer Teheran guna menggulingkan pemerintahan. Oleh karena itu, Trump menganggap penumpukan armada laut dan udara ini sebagai fondasi kampanye militer. Pasukan siap menyerang sewaktu-waktu jika perintah turun.
Respon Teheran dan Ancaman Israel
Merespons tekanan tersebut, Kepala Energi Atom Iran memberikan pembelaan. Ia menegaskan bahwa tidak ada negara yang dapat merampas hak Iran untuk melakukan pengayaan nuklir. Meskipun Menlu Abbas Araghchi mengeklaim kesepakatan pada “prinsip-prinsip panduan”, pihak AS tetap skeptis. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Iran belum mengakui seluruh batasan yang ditetapkan Washington.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meluncurkan peringatannya sendiri. “Jika para Ayatollah melakukan kesalahan dan menyerang kami, mereka akan menerima balasan yang mengejutkan,” ujar Netanyahu. Perselisihan ini membangkitkan memori kelam perang 12 hari pada Juni tahun lalu. Saat itu, AS dan Israel membom situs nuklir Iran setelah negosiasi serupa menemui kegagalan.
Eksodus Warga Asing dan Reaksi Global
Eskalasi yang sangat cepat ini memicu kepanikan diplomatik di Eropa. Pemerintah Polandia secara resmi memerintahkan seluruh warganya untuk segera meninggalkan Iran. Bahkan, Jerman mulai mengurangi jumlah tentaranya di Irak utara. Mereka hanya menyisakan personel minimum guna mengantisipasi ledakan konflik regional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rusia menyerukan pengendalian diri secara maksimal. Kremlin menyebut situasi saat ini sebagai eskalasi ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka berharap semua pihak tetap mengutamakan jalur politik dan diplomasi. Namun demikian, pasar energi global sudah mulai bereaksi dengan lonjakan harga minyak mentah. Publik mengkhawatirkan Garda Revolusi Iran (IRGC) akan menutup Selat Hormuz. Selat ini mengangkut seperempat pasokan minyak dunia. Pengamat memprediksi perang terbuka antara AS dan Iran akan memicu krisis energi global yang sangat parah.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















