BISSAU, POSNEWS.CO.ID – Komunitas kesehatan global kembali terguncang oleh kontroversi etika medis. Pemerintahan Presiden Donald Trump mengumumkan pendanaan sebesar $1,6 juta untuk sebuah studi vaksinasi hepatitis B pada bayi baru lahir di Guinea-Bissau, Afrika Barat.
Sekilas, bantuan ini tampak mulia. Namun, para peneliti memiliki pandangan berbeda. Mereka menyebut langkah tersebut sebagai tindakan yang “sangat tidak etis” dan “berisiko ekstrem”.
Studi ini muncul menyusul perubahan kebijakan drastis di Amerika Serikat. Sebelumnya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS mengubah rekomendasi vaksin hepatitis B saat lahir. Kini, hal itu menjadi keputusan “individual”, bukan lagi kewajiban universal.
Perubahan ini merupakan bagian dari perombakan besar-besaran imunisasi anak. Menteri Kesehatan AS, Robert F. Kennedy Jr., memimpin langsung inisiatif tersebut. Faktanya, ia dikenal luas sebagai aktivis anti-vaksin yang vokal.
Eksperimen pada Populasi Rentan
Kritik utama tertuju pada lokasi dan metode penelitian. Guinea-Bissau adalah negara dengan sistem kesehatan yang rapuh. Tercatat, hampir satu dari lima orang dewasa di sana hidup dengan virus hepatitis B.
Gavin Yamey, profesor kesehatan global di Duke Global Health Institute, mengecam keras. “Menguji vaksin yang sudah mapan di negara dengan tingkat hepatitis B tinggi berbau sikap neokolonialis,” tegasnya.
Para ahli menilai penelitian ini tidak perlu. Pasalnya, efektivitas dan keamanan vaksin hepatitis B saat lahir sudah terbukti selama puluhan tahun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Oleh karena itu, menahan intervensi penyelamat nyawa dari sebagian bayi dalam uji coba acak adalah pelanggaran etika berat. “Sangat tidak etis memilih memberikan vaksin kepada sebagian anak tetapi tidak kepada yang lain,” ujar Paul Offit, dokter di Rumah Sakit Anak Philadelphia.
Agenda Anti-Vaksin RFK Jr.?
Banyak pihak mencurigai adanya agenda politik di balik studi ini. Robert F. Kennedy Jr. (RFK Jr.) memiliki keyakinan kuat bahwa vaksin menyebabkan bahaya.
Lantas, para ilmuwan khawatir RFK Jr. akan memutarbalikkan hasil studi tersebut. Ia bisa menggunakannya untuk membenarkan kebijakannya menunda vaksinasi di AS.
“Dia memiliki keyakinan tetap dan tidak berubah bahwa vaksin menyebabkan bahaya. Dia akan melakukan segala cara untuk membuktikannya,” tambah Offit.
Studi ini akan dijalankan oleh Bandim Health Project. Proyek ini dipimpin oleh peneliti Denmark, Peter Aaby dan Christine Stabell Benn. Sebelumnya, mereka pernah menerbitkan studi kontroversial yang mengaitkan vaksin DTP dengan kematian anak perempuan. Meski demikian, klaim itu kemudian mereka bantah sendiri dalam penelitian lanjutan.
Risiko Kanker Hati pada Bayi
Dampak nyata dari penundaan vaksinasi ini sangat mengerikan. Jika bayi terinfeksi hepatitis B pada tahun pertama kehidupan, peluang mereka mengembangkan sirosis atau kanker hati mencapai 90 persen.
Andrew Pollard dari Universitas Oxford menekankan urgensi vaksinasi segera. “Prioritas seharusnya adalah meningkatkan vaksinasi dosis lahir,” katanya.
Di Guinea-Bissau, hanya sekitar 17 persen bayi yang menerima dosis lahir. Padahal, virus ini bisa menular hanya lewat kontak permukaan dan bertahan hidup selama seminggu di luar tubuh.
Kini, dunia menyaksikan dengan cemas. Keputusan politik di Washington berpotensi mempertaruhkan nyawa ribuan bayi di Afrika. Tampaknya, nyawa mereka menjadi taruhan demi sebuah pembuktian ideologis yang berbahaya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















